KOMUNIKASI INTERPERSONAL ORANG TUA PADA REMAJA DALAM MEMBERIKAN PENDIDIKAN SEKSUAL PADA MASA PUBERTAS DI GANI RESIDANCE | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

KOMUNIKASI INTERPERSONAL ORANG TUA PADA REMAJA DALAM MEMBERIKAN PENDIDIKAN SEKSUAL PADA MASA PUBERTAS DI GANI RESIDANCE


Pengarang

Dhea Aldita Salsabila - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Nur Anisah - 197801192009122003 - Dosen Pembimbing I
Maini Sartika - 198105012023212017 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

1910102010019

Fakultas & Prodi

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Ilmu Komunikasi(S1) / PDDIKTI : 70201

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Ilmu Komunikasi., 2026

Bahasa

Indonesia

No Classification

153.6

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Minimnya komunikasi antara orang tua dan remaja mengenai pendidikan seksual pada masa pubertas menjadi permasalahan yang cukup serius di Indonesia, khususnya dalam konteks budaya patriarki di mana ayah cenderung tidak terlibat aktif dalam pengasuhan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komunikasi interpersonal orang tua kepada remaja dalam memberikan pendidikan seksual pada masa pubertas di Komplek Gani Residence, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap 6 informan yang terdiri dari 2 orang remaja berusia 10–15 tahun beserta 2 pasangan orang tua, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu berperan jauh lebih dominan dibandingkan ayah dalam seluruh dimensi komunikasi interpersonal yang meliputi keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif, dan kesetaraan. Ayah cenderung pasif dan menyerahkan tanggung jawab pendidikan seksual sepenuhnya kepada ibu. Berdasarkan teori keterbukaan diri (self-disclosure), komunikasi antara ibu dan remaja menunjukkan tingkat keterbukaan yang lebih tinggi sehingga mendorong terbentuknya hubungan yang lebih akrab, saling percaya, dan memudahkan penyampaian informasi mengenai pendidikan seksual. Sebaliknya, rendahnya keterbukaan diri antara ayah dan remaja menyebabkan komunikasi berlangsung terbatas, sehingga pembahasan mengenai pendidikan seksual menjadi kurang optimal. Remaja yang tidak memperoleh ruang komunikasi yang memadai di dalam keluarga cenderung mencari informasi dari teman sebaya atau internet yang belum tentu akurat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keterbukaan diri dalam komunikasi keluarga serta keterlibatan aktif kedua orang tua menjadi faktor penting dalam keberhasilan pemberian pendidikan seksual kepada remaja pada masa pubertas.

The lack of communication between parents and adolescents regarding sexual education during puberty has become a serious issue in Indonesia, particularly within the context of a patriarchal culture where fathers tend to be less actively involved in parenting. This study aims to analyze parents’ interpersonal communication with adolescents in providing sexual education during puberty at Gani Residence Complex, Ingin Jaya District, Aceh Besar Regency. This research employs a qualitative approach with a descriptive method. Data collection was conducted through in-depth interviews with six informants consisting of two adolescents aged 10–15 years and two pairs of parents, selected using purposive sampling techniques. The data were analyzed using the Miles and Huberman model through the stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results indicate that mothers play a much more dominant role than fathers in all dimensions of interpersonal communication, including openness, empathy, supportiveness, positive attitudes, and equality. Fathers tend to be passive and delegate the responsibility of sexual education entirely to mothers. Based on the self-disclosure theory, communication between mothers and adolescents demonstrates a higher level of openness, which encourages the development of closer relationships, mutual trust, and facilitates the delivery of information regarding sexual education. In contrast, the low level of self-disclosure between fathers and adolescents results in limited communication, causing discussions about sexual education to be less optimal. Adolescents who do not receive adequate communication space within the family tend to seek information from peers or the internet, which may not always be accurate. This study concludes that self disclosure in family communication and the active involvement of both parents are important factors in the success of providing sexual education to adolescents during puberty.

Citation



    SERVICES DESK