PERANCANGAN MUSEUM SENI KERAJINAN ACEH DI BANDA ACEH | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

PERANCANGAN MUSEUM SENI KERAJINAN ACEH DI BANDA ACEH


Pengarang
Dosen Pembimbing

Safwan - 197001011997021001 - Dosen Pembimbing I
Zulhadi Sahputra - 198608122015041004 - - - Dosen Pembimbing II
Aghnia Zahrah - 199306072019032029 - Penguji
Burhan Nasution - 197011022000031002 - Penguji



Nomor Pokok Mahasiswa

2104104010114

Fakultas & Prodi

Fakultas Teknik / Arsitektur (S1) / PDDIKTI : 23201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Teknik - Arsitektur., 2026

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Aceh memiliki kekayaan seni kerajinan yang menjadi bagian penting dari identitas budaya daerah, seperti rencong, songket Aceh, sulaman kasab, anyaman, gerabah, dan kerawang Gayo. Namun, hingga saat ini belum tersedia fasilitas yang secara khusus berfungsi sebagai wadah pelestarian, edukasi, promosi, serta pengembangan seni kerajinan tersebut. Kondisi ini berpotensi menyebabkan berkurangnya apresiasi masyarakat terhadap warisan budaya lokal. Di sisi lain, meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Aceh menunjukkan adanya peluang untuk menghadirkan sebuah museum yang mampu memperkuat sektor pariwisata sekaligus menjaga keberlangsungan budaya daerah. Perancangan Museum Seni Kerajinan Aceh di Banda Aceh bertujuan menghasilkan rancangan museum yang mampu melestarikan seni kerajinan Aceh melalui penyediaan fasilitas edukasi, pameran, penelitian, dan rekreasi dengan menerapkan pendekatan arsitektur kontemporer. Metode perancangan dilakukan melalui studi literatur, studi preseden, analisis kebutuhan ruang, analisis aktivitas pengguna, analisis tapak, serta analisis sistem struktur dan utilitas sebagai dasar penyusunan konsep desain. Hasil perancangan menghasilkan konsep museum yang mengintegrasikan nilai nilai budaya Aceh dengan karakter arsitektur kontemporer melalui penerapan bentuk bangunan yang dinamis, ruang yang terbuka, pencahayaan alami yang optimal, penggunaan material modern, serta hubungan yang harmonis antara ruang dalam dan ruang luar. Museum dirancang tidak hanya sebagai tempat penyimpanan dan pameran koleksi, tetapi juga sebagai pusat edukasi, pelestarian budaya, pengembangan ekonomi kreatif, serta destinasi wisata budaya yang mampu meningkatkan daya tarik Kota Banda Aceh.

Kata kunci: Museum Seni Kerajinan Aceh, Arsitektur Kontemporer, Pelestarian Budaya, Banda Aceh, Pariwisata Budaya.

Aceh possesses a rich heritage of traditional crafts that form an essential part of the region's cultural identity, including the rencong (traditional dagger), Aceh songket (woven cloth), kasab embroidery, woven products, pottery, and Gayo kerawang embroidery. However, to date, there is no dedicated facility specifically functioning as a center for the preservation, education, promotion, and development of these traditional crafts. This situation poses a risk of diminishing public appreciation for local cultural heritage. On the other hand, the increasing number of tourist arrivals in Aceh indicates an opportunity to establish a museum capable of strengthening the tourism sector while sustaining regional culture. The design of the Aceh Craft Arts Museum in Banda Aceh aims to produce a museum architecture capable of preserving Acehnese craft arts through the provision of educational, exhibition, research, and recreational facilities by applying a contemporary architectural approach. The design method was conducted through literature studies, precedent studies, space requirement analysis, user activity analysis, site analysis, as well as structural and utility system analyses as the basis for formulating the design concept. The design results yield a museum concept that integrates Acehnese cultural values with contemporary architectural characteristics through dynamic building forms, open spaces, optimal natural lighting, the use of modern materials, and a harmonious relationship between interior and exterior spaces. The museum is designed not only as a place for storing and displaying collections, but also as a center for education, cultural preservation, creative economy development, and a cultural tourism destination capable of enhancing the appeal of Banda Aceh City. Keywords: Aceh Craft Arts Museum, Contemporary Architecture, Cultural Preservation, Banda Aceh, Cultural Tourism.

Citation



    SERVICES DESK