ANALISIS KEBERLANJUTAN PERTANIAN PERKOTAAN (URBAN FARMING) DI KOTA BANDA ACEH | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

ANALISIS KEBERLANJUTAN PERTANIAN PERKOTAAN (URBAN FARMING) DI KOTA BANDA ACEH


Pengarang

Ade Tegar Prayuda - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Lukman Hakim - 197811032006041001 - Dosen Pembimbing I
Safrida - 196805281994032002 - Dosen Pembimbing I



Nomor Pokok Mahasiswa

2005102010019

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Agribisnis (S1) / PDDIKTI : 54201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Pertanian., 2026

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Pertanian perkotaan atau urban farming merupakan salah satu alternatif
pemanfaatan ruang terbatas di wilayah perkotaan untuk mendukung ketahanan pangan, peningkatan ekonomi masyarakat, dan perbaikan kualitas lingkungan. Kota Banda Aceh
sebagai pusat perkotaan di Provinsi Aceh mengalami peningkatan jumlah penduduk, sehingga kebutuhan terhadap pangan dan pemanfaatan ruang kota secara produktif
semakin penting. Namun, kegiatan urban farming di Kota Banda Aceh masih didominasi
oleh skala rumah tangga dan usaha perorangan, sehingga keberlanjutannya perlu dikaji
secara lebih komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status keberlanjutan urban farming di
Kota Banda Aceh serta mengidentifikasi atribut-atribut sensitif yang memengaruhi
keberlanjutan pada dimensi ekologi, ekonomi, sosial, teknologi, dan kelembagaan. Penelitian dilakukan di Kota Banda Aceh dengan jumlah responden sebanyak 30 pelaku
urban farming yang ditentukan menggunakan metode sensus. Data yang digunakan terdiri
atas data primer dan data sekunder, yang dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, serta studi literatur. Metode analisis yang digunakan adalah pendekatan Rap- UrFarm dengan teknik Multidimensional Scaling (MDS), dilengkapi dengan leverage
analysis untuk menentukan atribut pengungkit dan Monte Carlo analysis untuk menguji
kestabilan hasil analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status keberlanjutan urban farming di Kota
Banda Aceh secara multidimensi berada pada kategori tidak berkelanjutan dengan nilai
indeks sebesar 24,93%. Secara parsial, dimensi ekologi memperoleh indeks 48,18% dan
dimensi ekonomi 36,24%, sehingga keduanya termasuk kategori kurang berkelanjutan. Sementara itu, dimensi sosial memperoleh indeks 24,15%, dimensi teknologi 21,33%, dan
dimensi kelembagaan 0,24%, sehingga ketiganya termasuk kategori tidak berkelanjutan. Atribut sensitif yang memengaruhi keberlanjutan meliputi keragaman jenis tanaman, pengelolaan limbah non-organik, sumber modal, subsidi pemerintah, pemasaran produk, pelatihan, kreativitas, teknologi pengairan, ketersediaan teknologi budidaya, struktur
organisasi, koordinasi antar lembaga, dan ketersediaan lembaga pendanaan. Oleh karena
itu, peningkatan keberlanjutan urban farming di Kota Banda Aceh perlu diprioritaskan
pada penguatan kelembagaan, peningkatan penerapan teknologi, perluasan pelatihan, serta
dukungan modal dan pendanaan.

Urban farming serves as an alternative for utilizing limited space in urban areas to support food security, boost the local economy, and improve environmental quality. As the urban center of Aceh Province, Banda Aceh City has experienced population growth, making the need for food and the productive use of urban space increasingly important. However, urban farming activities in Banda Aceh are still dominated by household scales and individual enterprises, requiring a more comprehensive assessment of their sustainability. This study aims to analyze the sustainability status of urban farming in Banda Aceh City and identify sensitive attributes that influence sustainability across the ecological, economic, social, technological, and institutional dimensions. The research was conducted in Banda Aceh City with a sample of 30 urban farming practitioners determined using a census method. The data consisted of primary and secondary data, collected through observation, interviews, documentation, and literature studies. The analytical method used was the Rap-UrFarm approach with Multidimensional Scaling (MDS) techniques, supplemented by leverage analysis to determine key leverage attributes and Monte Carlo analysis to test the stability of the analysis results. The results showed that the multidimensional sustainability status of urban farming in Banda Aceh City falls into the unsustainable category, with an index value of 24.93%. Partially, the ecological dimension achieved an index of 48.18% and the economic dimension 36.24%, placing both in the less sustainable category. Meanwhile, the social dimension obtained an index of 24.15%, the technological dimension 21.33%, and the institutional dimension 0.24%, categorizing all three as unsustainable. Sensitive attributes affecting sustainability include crop species diversity, inorganic waste management, sources of capital, government subsidies, product marketing, training, creativity, irrigation technology, availability of cultivation technology, organizational structure, inter-institutional coordination, and the availability of funding institutions. Therefore, enhancing the sustainability of urban farming in Banda Aceh City should prioritize institutional strengthening, increased technology adoption, expanded training, as well as capital and funding support.

Citation



    SERVICES DESK