EVALUASI PERTUMBUHAN MORFOMETRIK SAPI ACEH, WAGYU ACEH DAN BELGIAN BLUE ACEH DI BPTU-HPT INDRAPURI | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

EVALUASI PERTUMBUHAN MORFOMETRIK SAPI ACEH, WAGYU ACEH DAN BELGIAN BLUE ACEH DI BPTU-HPT INDRAPURI


Pengarang

MHD. AMRI HUSNI - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Eka Meutia Sari - 196712241992122001 - Dosen Pembimbing I
Mohd. Agus Nashri Abdullah - 197108161997021001 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

2205104010035

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Peternakan (S1) / PDDIKTI : 54231

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Pertanian., 2026

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

RINGKASAN

Pertumbuhan merupakan salah satu indikator utama dalam mengevaluasi performa dan produktivitas sapi potong. Penilaian pertumbuhan dapat dilakukan melalui pengukuran karakteristik morfometrik yang meliputi panjang badan (PB), lingkar dada (LD), tinggi pundak (TP), serta bobot badan (BB). Provinsi Aceh memiliki potensi yang besar dalam pengembangan usaha sapi potong, baik melalui pemanfaatan sapi lokal maupun hasil persilangan. Beberapa kelompok sapi yang saat ini dikembangkan adalah sapi aceh (SA), Wagyu Aceh (WA), dan Belgian Blue Aceh (BBA). Namun demikian, informasi ilmiah mengenai pola pertumbuhan morfometrik WA dan BBA, terutama sejak lahir hingga umur 24 bulan, masih relatif terbatas. Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Indrapuri memiliki peran penting dalam kegiatan pembibitan, pemuliaan, dan pengembangan ternak unggul, sehingga menjadi lokasi yang tepat untuk mengevaluasi pertumbuhan morfometrik ketiga kelompok sapi tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan pertumbuhan morfometrik sapi aceh (SA), Wagyu Aceh (WA), dan Belgian Blue Aceh (BBA) dari fase 0 hingga umur 24 bulan, serta mengidentifikasi kelompok sapi yang memiliki potensi pertumbuhan terbaik. Penelitian dilaksanakan pada bulan November hingga Desember 2025 di BPTU-HPT Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Penelitian menggunakan metode observasi dengan pendekatan deskriptif komparatif. Sampel penelitian terdiri atas 48 ekor sapi, yaitu 36 ekor sapi aceh, 6 ekor Wagyu Aceh, dan 6 ekor Belgian Blue Aceh. Parameter yang diamati meliputi panjang badan, lingkar dada, tinggi pundak, dan bobot badan pada umur 0, 6, 12, dan 24 bulan. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan Microsoft Excel dengan menghitung nilai rata-rata dan standar deviasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan morfometrik sapi aceh (SA), Wagyu Aceh (WA), dan Belgian Blue Aceh (BBA) mengalami peningkatan secara konsisten seiring bertambahnya umur, mulai dari fase 0 hingga umur 24 bulan. Pada sapi aceh, seluruh parameter morfometrik juga memperlihatkan pola pertumbuhan yang meningkat secara bertahap. Rataan panjang badan sapi aceh? bertambah dari 54,50±7,46 cm saat lahir menjadi 93,15±6,93 cm pada umur 24 bulan, lingkar dada meningkat dari 61,94±6,91 cm menjadi 115,31±11,69 cm, tinggi pundak bertambah dari 62,34±5,70 cm menjadi 96,17±6,14 cm, sedangkan bobot badan meningkat dari 21,55±14,58 kg menjadi 125,13±22,25 kg. Sedangkan pada umur 24 bulan, sapi persilangan Wagyu Aceh memiliki panjang badan (97,60±4,43 cm) dan tinggi pundak (104,19±5,23 cm) tertinggi, sedangkan Belgian Blue Aceh menunjukkan lingkar dada (128,00±7,39 cm) dan bobot badan (259,75±7,45 kg) tertinggi dibandingkan kedua kelompok sapi lainnya. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sapi aceh memiliki ukuran tubuh dan bobot badan yang lebih rendah dibandingkan sapi Wagyu Aceh dan Belgian Blue Aceh pada umur yang sama.
Sapi Wagyu Aceh mengindikasikan memiliki keunggulan dalam pertumbuhan dimensi rangka tubuh, sedangkan Belgian Blue Aceh lebih unggul dalam pembentukan massa tubuh. Kedua sapi hasil persilangan tersebut memperlihatkan performa pertumbuhan morfometrik yang lebih baik dibandingkan sapi aceh. Meskipun demikian, sapi aceh tetap memiliki nilai strategis sebagai plasma nutfah lokal karena memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan tropis serta berperan penting sebagai sumber daya genetik yang perlu dilestarikan.  

SUMMARY Growth is one of the main indicators in evaluating the performance and productivity of beef cattle. Growth assessment can be conducted by measuring morphometric characteristics, including body length (B), chest circumference (LD), shoulder height (TP), and body weight (BB). Aceh Province has significant potential for developing the beef cattle business, both through the use of local cattle and crossbreds. Several cattle groups currently being developed include Aceh cattle (SA), Aceh Wagyu (WA), and Aceh Belgian Blue (BBA). However, scientific information regarding the morphometric growth patterns of WA and BBA, particularly from birth to 24 months of age, is still relatively limited. The Indrapuri Center for Superior Livestock Breeding and Forage (BPTU-HPT) plays a crucial role in the breeding, breeding, and development of superior livestock, making it an ideal location to evaluate the morphometric growth of these three cattle groups. This study aimed to analyze and compare the morphometric growth of Acehnese cattle (SA), Acehnese Wagyu (WA), and Belgian Blue Aceh (BBA) from 0 to 24 months of age, and to identify the cattle groups with the best growth potential. The study was conducted from November to December 2025 at the BPTU-HPT Indrapuri, Aceh Besar Regency, Aceh Province. The study used an observational method with a comparative descriptive approach. The study sample consisted of 48 cattle: 36 Acehnese cattle, 6 Acehnese Wagyu cattle, and 6 Acehnese Belgian Blue cattle. Observed parameters included body length, chest circumference, shoulder height, and body weight at 0, 6, 12, and 24 months of age. Data were analyzed descriptively using Microsoft Excel by calculating the mean and standard deviation. The results showed that the morphometric growth of Acehnese cattle (SA), Acehnese Wagyu (WA), and Belgian Blue Aceh (BBA) increased consistently with age, from 0 to 24 months. In Aceh cattle, all morphometric parameters also showed a gradual increase in growth pattern. The average body length of Aceh cattle increased from 54.50±7.46 cm at birth to 93.15±6.93 cm at 24 months of age, chest circumference increased from 61.94±6.91 cm to 115.31±11.69 cm, shoulder height increased from 62.34±5.70 cm to 96.17±6.14 cm, while body weight increased from 21.55±14.58 kg to 125.13±22.25 kg. Meanwhile, at 24 months of age, Aceh Wagyu crossbred cattle had the highest body length (97.60±4.43 cm) and shoulder height (104.19±5.23 cm), while Aceh Belgian Blue cattle showed the highest chest circumference (128.00±7.39 cm) and body weight (259.75±7.45 kg) compared to the other two cattle groups. These results indicate that Aceh cattle have lower body size and weight than Aceh Wagyu and Aceh Belgian Blue cattle at the same age. Aceh Wagyu cattle indicated superior growth in skeletal dimensions, while Aceh Belgian Blue cattle were superior in body mass formation. Both crossbred cattle demonstrated superior morphometric growth performance compared to Aceh cattle. Nevertheless, Aceh cattle retain strategic value as local germplasm due to their high adaptability to tropical environments and play a crucial role as a genetic resource that deserves preservation.

Citation



    SERVICES DESK