EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MINYAK PALA (MYRISTICA FRAGRANS HOUUT) TERHADAP LAMA WAKTU PINGSAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP BENIH IKAN KAKAP PUTIH (LATES CALCARIFER) PADA TRANSPORTASI SISTEM TERTUTUP | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MINYAK PALA (MYRISTICA FRAGRANS HOUUT) TERHADAP LAMA WAKTU PINGSAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP BENIH IKAN KAKAP PUTIH (LATES CALCARIFER) PADA TRANSPORTASI SISTEM TERTUTUP


Pengarang

Siti Gusni - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Kavinta Melanie - 198906042019032017 - Dosen Pembimbing I
Adli Waliul Perdana - 198912122019031013 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

1911102010104

Fakultas & Prodi

Fakultas Kelautan dan Perikanan / Budidaya Perairan (S1) / PDDIKTI : 54243

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Kelautan dan Perikanan Budidaya Perairan (S1)., 2026

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Ikan kakap putih (Lates calcarifer) merupakan komoditas budidaya laut unggulan yang telah dibudidayakan secara intensif di Indonesia. Ikan ini memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi sehingga sangat bagus untuk dikonsumsi dan mempunyai nilai jual yang tinggi. Dalam proses distribusi benih yang dilakukan melalui sistem basah memiliki kendala yaitu stress pada benih sehingga mengakibatkan kematian. Upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi kondisi tersebut adalah dengan teknik anestesi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan minyak pala terhadap lama waktu pingsan, lama waktu sadar, lama pulih sadar dan kelangsungan hidup benih ikan kakap putih setelah di transportasi dan pemeliharaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 5 perlakuan dan 4 pengulangan. Adapun ke-5 perlakuan terdiri dari (kontrol -) tanpa perendaman minyak pala, P1 dengan perendaman minyak pala (0,5 ml/L), Perlakuan P2 (1 ml/L), perlakuan P3 (1,5 ml/L), P4 (2 ml/L). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman dengan minyak pala dapat meningkatkan kelangsungan hidup benih ikan sampai ke tempat tujuan sehingga jarak tempuh transportasi dapat lebih jauh, dan diamati bagaimana tingkah laku ikan ketika di berikan minyak pala dan sesudah di berikan minyak atau setelah di transportasi. Berdasarkan hasil pengamatan, kecepatan waktu pingsan tercepat setelah di berikan minyak pala terdapat pada perlakuan P4 (2 ml/L) yaitu 11.89 menit/detik, lama waktu pingsan terbaik terdapat pada perlakuan P4 (2 ml/L) yaitu 240.15 menit/detik, dan lama waktu sadar tercepat terdapat pada perlakuan P1 (0,5 ml/L). efektivitas penggunaan minyak pala berpengaruh nyata (P

The Asian sea bass (Lates calcarifer) is a premier marine aquaculture commodity that is intensively farmed in Indonesia. This fish holds significant economic value, making it highly desirable for consumption and a profitable product. A challenge encountered during the distribution of fry using the "wet system" is stress, which can lead to mortality. Anesthesia techniques offer a potential solution to mitigate this issue. This study aimed to evaluate the effectiveness of nutmeg oil regarding the time to induce anesthesia, the duration of anesthesia, the time to regain consciousness, and the survival rate of Asian sea bass fry following transportation and a subsequent rearing period. A Completely Randomized Design (CRD) was employed, featuring five treatments and four replicates. The treatments consisted of a negative control (no nutmeg oil immersion) and four immersion levels: P1 (0.5 ml/L), P2 (1 ml/L), P3 (1.5 ml/L), and P4 (2 ml/L). The results indicated that nutmeg oil immersion improved fry survival during transport, thereby extending the feasible transportation distance; fish behavior was also monitored during and after exposure to the oil and following transportation. Observations revealed that the fastest induction of anesthesia occurred in treatment P4 (2 ml/L) at 11.89 minutes; the optimal duration of anesthesia was also observed in treatment P4 (2 ml/L) at 240.15 minutes; and the fastest recovery of consciousness was observed in treatment P1 (0.5 ml/L). The effectiveness of using nutmeg oil had a significant effect (P

Citation



    SERVICES DESK