KONVERSI MODAL SOSIAL DAN BUDAYA MENJADI MODAL POLITIK: STRATEGI PEREMPUAN BATAK TOBA DI ARENA POLITIK LOKAL KABUPATEN TOBA | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

KONVERSI MODAL SOSIAL DAN BUDAYA MENJADI MODAL POLITIK: STRATEGI PEREMPUAN BATAK TOBA DI ARENA POLITIK LOKAL KABUPATEN TOBA


Pengarang

MONALISA SIANIPAR - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Annisah Putri - 199208232022032009 - Dosen Pembimbing I



Nomor Pokok Mahasiswa

2210103010066

Fakultas & Prodi

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Ilmu Politik (S1) / PDDIKTI : 67201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Ilmu Sosial dan Politik., 2026

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya keterwakilan perempuan di DPRD Kabupaten Toba yang hanya mencapai 13,33 persen pada periode 2024-2029, jauh dari target kuota 30 persen, meskipun jumlah penduduk perempuan hampir seimbang dengan laki-laki dan tingkat pendidikan mereka terus meningkat. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi bentuk dan sumber modal sosial serta modal budaya yang dimiliki perempuan Batak Toba, serta menganalisis strategi konversi kedua modal tersebut menjadi modal politik di tengah hambatan patriarki. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus, di mana data primer diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap informan yang terdiri dari aktor politik perempuan, tokoh adat, tokoh agama, pengurus partai, akademisi, calon legislatif yang gagal, serta masyarakat pemilih, sementara data sekunder diperoleh dari dokumen, arsip, dan media online. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman dengan teori modal Pierre Bourdieu sebagai pisau analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial perempuan Batak Toba bersumber dari jaringan kekerabatan Dalihan Na Tolu (dongan sabutuha, hula-hula, boru) dan jaringan kelembagaan (gereja, partai politik, dan PKK), sedangkan modal budaya bersumber dari pendidikan formal dan penguasaan nilai-nilai adat (partuturan, umpasa, etika adat). Strategi konversi dilakukan melalui mangalap parrohaan (menarik simpati), pemanfaatan reputasi di gereja, kaderisasi partai jangka panjang, demonstrasi kompetensi intelektual, demonstrasi penguasaan adat, serta kemampuan menyeimbangkan modernitas dan tradisi. Namun, keberhasilan konversi ini masih terhambat oleh kuatnya patriarki yang bersumber dari adat Dalihan Na Tolu, gereja, dan partai politik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perempuan Batak Toba yang sukses dalam politik adalah mereka yang mampu menggunakan adat sebagai pintu legitimasi sekaligus menunjukkan kapasitas modern sebagai pemimpin yang kompeten, dengan keberhasilan konversi yang membutuhkan investasi jangka panjang yang konsisten dan tulus, serta perubahan struktural yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

Kata Kunci: Konversi Modal, Modal Sosial, Modal Budaya, Modal Politik,
Perempuan Batak Toba, Politik Lokal, Dalihan Na Tolu

This research is motivated by the low representation of women in the Toba Regency DPRD, which only reached 13.33 percent in the 2024-2029 period, far from the 30 percent quota target, even though the female population is almost balanced with men and their education levels continue to increase. The purpose of this study is to identify the forms and sources of social capital and cultural capital possessed by Toba Batak women, as well as to analyze the strategies for converting these two capitals into political capital amidst patriarchal barriers. This research employs a qualitative approach with a case study type, where primary data were obtained through in-depth interviews with informants consisting of female political actors, traditional leaders, religious leaders, party officials, academics, unsuccessful female legislative candidates, and community voters, while secondary data were obtained from documents, archives, and online media. Data analysis used the Miles and Huberman interactive model with Pierre Bourdieu's capital theory as the analytical tool. The results show that the social capital of Toba Batak women originates from the Dalihan Na Tolu kinship network (dongan sabutuha, hula-hula, boru) and institutional networks (church, political parties, and PKK), while cultural capital originates from formal education and mastery of traditional values (partuturan, umpasa, traditional ethics). Conversion strategies are carried out through mangalap parrohaan (attracting sympathy), utilizing reputation in the church, long-term party cadre formation, demonstrating intellectual competence, demonstrating mastery of customs, as well as the ability to balance modernity and tradition. However, the success of this conversion is still hindered by the strength of patriarchy originating from Dalihan Na Tolu customs, the church, and political parties. This study concludes that Toba Batak women who succeed in politics are those who are able to use custom as a gateway to legitimacy while at the same time demonstrating modern capacity as competent leaders, with successful conversion requiring consistent and sincere long-term investment, as well as structural changes involving all stakeholders. Keywords: Capital Conversion, Social Capital, Cultural Capital, Political Capital, Toba Batak Women, Local Politics, Dalihan Na Tolu

Citation



    SERVICES DESK