Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
ANALISIS KOMPARATIF RISIKO PRODUKSI DAN PENERAPAN STRATEGI MANAJEMEN RISIKO PRODUKSI ANTARA PETANI PENERIMA DAN NONPENERIMA LAYANAN PENYULUHAN PADA USAHATANI BAWANG MERAH DI KABUPATEN PIDIE DAN PIDIE JAYA
Pengarang
Dosen Pembimbing
Agussabti - 196804081993031004 - Dosen Pembimbing I
Rahmaddiansyah - 198201212006041003 - Dosen Pembimbing II
Nomor Pokok Mahasiswa
2205102010073
Fakultas & Prodi
Fakultas Pertanian / Agribisnis (S1) / PDDIKTI : 54201
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Pertanian Agribisnis (S1)., 2026
Bahasa
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Usahatani bawang merah merupakan salah satu kegiatan pertanian yang menghadapi berbagai risiko produksi, seperti cuaca tidak menentu, banjir, kekeringan, serangan hama, dan penyakit tanaman yang dapat memengaruhi hasil produksi. Layanan penyuluhan pertanian diharapkan dapat meningkatkan kemampuan petani dalam mengelola risiko tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan risiko produksi dan penerapan strategi manajemen risiko produksi antara petani penerima dan nonpenerima layanan penyuluhan pada usahatani bawang merah di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif komparatif dengan jumlah sampel sebanyak 50 petani bawang merah yang dipilih menggunakan teknik quota sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan analisis deskriptif, analisis risiko berdasarkan frekuensi dan dampak kejadian risiko, serta uji Mann–Whitney U.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak seluruh risiko produksi berbeda secara signifikan antara petani yang menerima layanan penyuluhan dan petani yang tidak menerima layanan penyuluhan. Dari lima jenis risiko produksi yang dianalisis, hanya risiko hama dan risiko penyakit yang menunjukkan perbedaan signifikan, sedangkan risiko cuaca, banjir, dan kekeringan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Risiko penyakit dan hama merupakan risiko dengan tingkat prioritas tertinggi pada kedua kelompok petani, sedangkan risiko banjir memiliki tingkat prioritas terendah. Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam penerapan strategi manajemen risiko produksi antara petani yang menerima layanan penyuluhan dan petani yang tidak menerima layanan penyuluhan. Meskipun secara deskriptif petani yang menerima layanan penyuluhan cenderung menerapkan lebih banyak strategi manajemen risiko, perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik. Temuan ini menunjukkan bahwa pengelolaan risiko produksi pada usahatani bawang merah tidak hanya dipengaruhi oleh layanan penyuluhan, tetapi juga oleh pengalaman berusahatani dan berbagai sumber informasi lain yang dimanfaatkan petani.
Shallot farming is a farming activity that faces various production risks, such as unpredictable weather, floods, droughts, pest attacks, and plant diseases, which can impact yields. Agricultural extension services are expected to improve farmers' ability to manage these risks. This study aims to analyze differences in production risks and the implementation of production risk management strategies between farmers receiving and non-receiving extension services in shallot farming in Pidie and Pidie Jaya Regencies. This study used a comparative quantitative approach, with a sample of 50 shallot farmers selected using quota sampling. Data were collected through interviews using questionnaires and then analyzed using descriptive analysis, risk analysis based on the frequency and impact of risk events, and the Mann–Whitney U test. The results showed that not all production risks differed significantly between farmers receiving extension services and those not receiving extension services. Of the five types of production risks analyzed, only pest and disease risks showed significant differences, while weather, flood, and drought risks did not. Disease and pest risks were the highest priority risks for both farmer groups, while flood risks had the lowest priority. Furthermore, the study results showed no significant difference in the application of production risk management strategies between farmers who received extension services and those who did not. Although farmers who received extension services tended to implement more risk management strategies, the difference was not statistically significant. These findings suggest that production risk management in shallot farming is influenced not only by extension services but also by farming experience and various other sources of information utilized by farmers.
PERBEDAAN STRATEGI MANAJEMEN RISIKO USAHATANI BAWANG MERAH DI ACEH: BERDASARKAN KARAKTERISTIK WILAYAH DAN KARAKTERISTIK PETANI (ZAKIA BALQIS, 2026)
STUDI KOMPARATIF PENDAPATAN USAHATANI BAWANG MERAH DI KECAMATAN SIMPANG TIGA KABUPATEN PIDIE (Nuni afrina, 2021)
EVALUASI FAKTOR - FAKTOR PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO PRODUKSI USAHA TANI HORTIKULTURA DI ACEH (Amanda Nidzi Putri, 2025)
ANALISIS RISIKO PRODUKSI USAHA TANI BAWANG MERAH (ALLIUM CEPA. ASCALONICUM.L) DI KABUPATEN PIDIE. (SALMA, 2025)
KESADARAN DAN PENERAPAN STRATEGI MANAJEMEN RISIKO USAHATANI CABAI MERAH DI DATARAN TINGGI ACEH (Nurul Inayah, 2025)