Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
STRATEGI PENINGKATAN KEBERDAYAAN PETANI KOPI DI DESA PINANGAN, KECAMATAN KEBAYAKAN, KABUPATEN ACEH TENGAHRN(STUDI KASUS PETANI BINAAN KOPERASI BAITUL QIRADH BABURRAYYAN)
Pengarang
RAFLI FEBRIAN ANANDA - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Widyawati - 197707302005012001 - Dosen Pembimbing I
Muhammad Yuzan Wardhana - 198201102015041002 - Dosen Pembimbing II
Nomor Pokok Mahasiswa
2205102010054
Fakultas & Prodi
Fakultas Pertanian / Agribisnis (S1) / PDDIKTI : 54201
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Pertanian Agribisnis (S1)., 2026
Bahasa
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Kopi merupakan komoditas pertanian unggulan Indonesia yang berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional maupun daerah, dan Kabupaten Aceh Tengah, khususnya dataran tinggi Gayo, dikenal sebagai salah satu sentra penghasil kopi Arabika terbaik di Indonesia dengan mayoritas penduduknya menggantungkan hidup pada usaha tani kopi; di Desa Pinangan, Kecamatan Kebayakan, Koperasi Baitul Qiradh (KBQ) Baburrayyan telah menjalankan berbagai program pemberdayaan berupa pelatihan, pendampingan, dan fasilitasi akses pasar bagi petani binaannya, namun pelaksanaan pemberdayaan tersebut masih menghadapi kendala internal seperti keterbatasan modal, rendahnya pemanfaatan teknologi, dan belum meratanya kepatuhan terhadap standar organik, serta kendala eksternal berupa perubahan iklim, serangan hama dan penyakit, dan persaingan antardaerah penghasil kopi, sehingga diperlukan kajian sistematis untuk merumuskan strategi pemberdayaan yang tepat berbasis data lapangan.
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis faktor internal dan eksternal yang memengaruhi pelaksanaan strategi pemberdayaan petani kopi binaan KBQ Baburrayyan di Desa Pinangan, serta menentukan strategi pemberdayaan yang paling prioritas dan efektif untuk meningkatkan produktivitas, kesejahteraan petani, dan keberlanjutan usaha tani. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan jenis penelitian studi kasus; pengumpulan data dilakukan melalui teknik survei menggunakan kuesioner berskala Likert terhadap 60 petani kopi binaan koperasi yang diambil dengan teknik sensus atau total sampling, dilengkapi wawancara terhadap pengurus koperasi dan petani serta studi dokumentasi sebagai data pendukung, kemudian dianalisis secara bertahap menggunakan Matriks Internal Factor Evaluation (IFE) dan External Factor Evaluation (EFE), Matriks Internal-Eksternal (IE), Diagram dan Matriks SWOT, serta Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) untuk merumuskan dan menetapkan prioritas strategi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan utama petani meliputi pengalaman budidaya, partisipasi aktif dalam pelatihan koperasi, dan motivasi tinggi meningkatkan kualitas kopi, sementara kelemahan utamanya adalah keterbatasan modal, rendahnya pemanfaatan teknologi, dan kepatuhan standar organik yang belum merata; pada sisi eksternal, peluang utama berupa tingginya permintaan pasar terhadap kopi Gayo, dukungan akses pasar dari koperasi, dan tersedianya program pendampingan, sedangkan ancaman utamanya adalah perubahan iklim, serangan hama dan penyakit, serta persaingan dengan kopi dari daerah lain. Diagram SWOT menunjukkan posisi Kuadran I yang mengindikasikan strategi agresif (SO); berdasarkan QSPM, strategi prioritas tertinggi adalah Meningkatkan kapasitas petani melalui pelatihan yang terintegrasi dengan program sertifikasi organik dan keberlanjutan untuk memenuhi permintaan pasar kopi Gayo yang terus meningkat, dengan nilai STAS 5,50.
Coffee is a leading Indonesian agricultural commodity that contributes significantly to the national and regional economies. Central Aceh Regency, particularly the Gayo highlands, is known as one of the best Arabica coffee producing centers in Indonesia, with the majority of its population dependent on coffee farming for their livelihood. In Pinangan Village, Kebayakan District, the Baitul Qiradh Cooperative (KBQ) Baburrayyan has implemented various empowerment programs in the form of training, mentoring, and facilitating market access for its assisted farmers. However, the implementation of these empowerment programs still faces internal obstacles such as limited capital, low technology utilization, and uneven compliance with organic standards. External obstacles include climate change, pest and disease attacks, and competition between coffee-producing regions. Therefore, a systematic study is needed to formulate an appropriate empowerment strategy based on field data. This study aims to identify and analyze internal and external factors influencing the implementation of empowerment strategies for coffee farmers assisted by KBQ Baburrayyan in Pinangan Village, as well as to determine the most prioritized and effective empowerment strategies to increase productivity, farmer welfare, and farming sustainability. The study uses a quantitative descriptive approach with a case study approach. Data collection was conducted through a survey using a Likert-scale questionnaire with 60 coffee farmers assisted by the cooperative, recruited using a census or total sampling technique. This was supplemented by interviews with cooperative administrators and farmers, as well as documentary studies as supporting data. Data were then analyzed in stages using the Internal Factor Evaluation (IFE) and External Factor Evaluation (EFE) Matrices, the Internal-External (IE) Matrix, the SWOT Diagram and Matrix, and the Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) to formulate and prioritize strategies. The results indicate that the farmers' main strengths include cultivation experience, active participation in cooperative training, and high motivation to improve coffee quality. While their main weaknesses are limited capital, low technology utilization, and uneven compliance with organic standards. Externally, the main opportunities include high market demand for Gayo coffee, market access support from the cooperative, and the availability of mentoring programs. The main threats are climate change, pest and disease attacks, and competition with coffee from other regions. The SWOT diagram shows a Quadrant I position, indicating an aggressive strategy (SO). Based on QSPM, the highest priority strategy is to increase farmer capacity through training integrated with organic and sustainability certification programs to meet the increasing market demand for Gayo coffee, with a STAS value of 5.50.
PENGARUH MODAL SOSIAL, KUALITAS LAYANAN, DAN PEMBINAAN KOPERASI BAITUL QIRADH (KBQ) BABURRAYYAN TERHADAP KESEJAHTERAAN PETANI KOPI DI KECAMATAN PEGASING, ACEH TENGAH (ALHAFID RIZKIPADIL, 2026)
STRATEGI PENINGKATAN KEBERDAYAAN PETANI KOPI DI DESA PINANGAN, KECAMATAN KEBAYAKAN, KABUPATEN ACEH TENGAHRN(STUDI KASUS PETANI BINAAN KOPERASI BAITUL QIRADH BABURRAYYAN) (RAFLI FEBRIAN ANANDA, 2026)
PERANAN KEMITRAAN TERHADAP PENINGKATAN PENDAPATAN PETANI KOPI (KASUS KEMITRAAN : KOPERASI BAITUL QIRADH (KBQ) BABURRAYYAN DENGAN PETANI KOPI DI KECAMATAN PEGASING KABUPATEN ACEH TENGAH) (rahmi, 2017)
PENDAPATAN DAN PENGELUARAN PETANI KOPI DI DESA DALING KECAMATAN BEBESEN KABUPATEN ACEH TENGAH (fitria mayani, 2013)
ANALISA SUPPLY CHAIN RISK MANAGEMENT MENGGUNAKAN METODE FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS (FMEA) PADA SUPPLY CHAIN PRODUKSI KOPI (STUDI KASUS : KOPERASI BAITUL QIRADH BABURRAYYAN ACEH TENGAH) (Dira Farhani, 2017)