ANALISIS POLA KOMUNIKASI ORGANISASI HIMPUNAN PRAMUWISATA INDONESIA (HPI) KOTA SABANG DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALISME PRAMUWISATA KAPAL PESIAR DI KOTA SABANG | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

ANALISIS POLA KOMUNIKASI ORGANISASI HIMPUNAN PRAMUWISATA INDONESIA (HPI) KOTA SABANG DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALISME PRAMUWISATA KAPAL PESIAR DI KOTA SABANG


Pengarang

Nazila Afra Yana - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Nur Anisah - 197801192009122003 - Dosen Pembimbing I



Nomor Pokok Mahasiswa

1910102010003

Fakultas & Prodi

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Ilmu Komunikasi(S1) / PDDIKTI : 70201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Ilmu Sosial dan Politik., 2026

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Penelitian ini berawal dari fenomena yang terjadi dalam Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kota Sabang terkait dengan miskomunikasi pramuwisata kapal pesiar karena kurangnya komunikasi organisasi yang efektif, Pola komunikasi yang terjadi dalam suatu organisasi merupakan suatu hal yang kompleks dan dimiliki oleh setiap organisasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola komunikasi organisasi yang digunakan oleh HPI Kota Sabang dalam meningkatkan profesionalisme Pramuwisata kapal pesiar di Kota Sabang. Teori yang digunakan untuk mengkaji penelitian adalah teori jaringan komunikasi milik Monge dan Contractor. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan menggunakan metode wawancara terstruktur dan dokumentasi yang dikumpulkan dari informan yang merupakan bagian dari HPI Kota Sabang dan pramuwisata kapal pesiar. Hasil temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pola komunikasi yang terbentuk dalam organisasi ini adalah pola komunikasi bintang (All-Channel) dimana komunikasi terjadi tanpa adanya batasan dan perantara. Pola komunikasi bintang memungkinkan terjadinya komunikasi yang responsif di lapangan saat pelayanan wisata kapal pesiar berlangsung, dimana sebuah grup WhatsApp yang terdiri dari agensi, organisasi dan pramuwisata bisa saling berkomunikasi tanpa adanya penghalang, sehingga hambatan yang terjadi di lapangan dapat diatasi secara profesional oleh para pramuwisata. Namun pola bintang ini juga menjadi bumerang, rawannya miskomunikasi dan pelanggaran SOP tidak bisa dihindari karena komunikasi berlangsung terlalu bebas tanpa adanya batasan/ parameter dalam penyebaran informasi. Kesimpulannya, meskipun pola bintang merupakan pola yang fleksibel dan sesuai dengan profesi pramuwisata yang membutuhkan lingkungan responsif dan pengambilan keputusan yang cepat, pola bintang secara tersendiri bukanlah pola yang terbaik untuk digunakan dalam organisasi profesi jika ingin meningkatkan profesionalisme anggotanya.

This research begins with a phenomenon occurred in Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) of Sabang related to miscommunication in carrying out the profession of cruise tour guides that happened due to the lack of effective organizational communication. Communication patterns are complex elements inherent to every organization. The objective of this study is to identify the organizational communication patterns employed by HPI in enhancing the professionalism of cruise ship tour guides in the area. The study uses Monge and Contractor’s communication network theory as its analytical framework. A descriptive qualitative approach was used, with structured interviews and documentation gathered from informants part of HPI Sabang City members and also are cruise ship tour guides. This research findings shows that the organization operates under a star (all-channel) communication pattern, characterized by communication that happened without any restrictions or parameter. This star pattern facilitates responsive communication in the field during cruise ship tour operations, for instance, a WhatsApp group connecting agencies, the organization, and tour guides allows for direct interaction. Therefore enabling guides to professionally resolve on-site issues while working. However, this star pattern also presents as a boomerang whereas the lack of boundaries or parameters regarding information distribution makes the system vulnerable to miscommunication and SOP violations from the tour guides. In conclusion, while the star pattern offers the flexibility that is suited to the tour guide profession, which demands responsiveness and rapid decision-making, in reality, for a profession-based organization, this pattern itself is not an optimal model to elevates the member professionalism.

Citation



    SERVICES DESK