COMPARATIVE ADVANTAGES OF INDONESIA AND MALAYSIA PALM OIL EXPORTS TO CHINA | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

COMPARATIVE ADVANTAGES OF INDONESIA AND MALAYSIA PALM OIL EXPORTS TO CHINA


Pengarang

CUT NADA ADELIANA - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Rustam Effendi - 196211261989031002 - Dosen Pembimbing I
Muhammad Abrar - 197708022005011004 - Dosen Pembimbing II
Aliasuddin - 196705111992031002 - Penguji
Muhammad Ilhamsyah Siregar - 197807262002121002 - Penguji



Nomor Pokok Mahasiswa

2201101010058

Fakultas & Prodi

Fakultas Ekonomi dan Bisnis / Ekonomi Pembangunan (S1) / PDDIKTI : 60201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Ekonomi Pembangunan., 2026

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

ABSTRAK
Judul
:Comparative Advantages Of Indonesia And
Malaysia Palm Oil Exports To China
Nama


: Cut Nada Adeliana
NPM


: 2201101010058
Program Studi/Fakultas
: Ekonomi Pembangunan / Ekonomi dan Bisnis
Pembimbing

: - Prof. Dr. Rustam Effendi, S.E., M.Econ




: - Dr. Muhammad Abrar, S.E., M.Si
Kontsentrasi

: Ekonomi International
Penelitian ini menganalisis keunggulan komparatif ekspor crude palm oil (CPO)
Indonesia dan Malaysia ke China selama periode 1995–2025 menggunakan tiga
metode: Revealed Comparative Advantage (RCA), Revealed Symmetric Comparative
Advantage (RSCA), dan Export Product Dynamics (EPD). Data sekunder bersumber
dari UN Comtrade dengan kode HS 151110. Terdapat tiga temuan utama. Pertama,
kedua negara mempertahankan keunggulan komparatif yang kuat dan konsisten
sepanjang periode pengamatan, dengan nilai rata-rata RSCA mendekati nilai
maksimum teoritis Indonesia sebesar 0,9140 dan Malaysia sebesar 0,9149. Kedua,
terjadi pembalikan struktural dominasi kompetitif: Malaysia memasuki tahun 1995
dengan RCA 48,84 berbanding Indonesia 4,94, namun pada periode 2021–2025
Indonesia rata-rata mencapai 28,97 berbanding 11,86 milik Malaysia, didorong oleh
ekspansi perkebunan dan pendalaman hubungan perdagangan dalam kerangka Belt and
Road Initiative. Ketiga, analisis EPD mengungkapkan postur kompetitif yang dominan
defensif Indonesia menghabiskan 10 tahun di posisi Lost Opportunity dan 11 tahun di
posisi Retreat, menunjukkan bahwa keunggulan struktural belum sepenuhnya
diterjemahkan menjadi strategi penangkapan peluang pasar yang dinamis.
Rekomendasi mencakup reformasi mekanisme DMO Indonesia, percepatan pengakuan
sertifikasi ISPO di China, dan reposisi strategi Malaysia ke segmen oleokimia bernilai
tinggi.
Kata Kunci: RCA, RSCA, Ekspor Produk Dinamis, Minyak Sawit.

ABSTRAK Judul :Comparative Advantages Of Indonesia And Malaysia Palm Oil Exports To China Nama : Cut Nada Adeliana NPM : 2201101010058 Program Studi/Fakultas : Ekonomi Pembangunan / Ekonomi dan Bisnis Pembimbing : - Prof. Dr. Rustam Effendi, S.E., M.Econ : - Dr. Muhammad Abrar, S.E., M.Si Kontsentrasi : Ekonomi International Penelitian ini menganalisis keunggulan komparatif ekspor crude palm oil (CPO) Indonesia dan Malaysia ke China selama periode 1995–2025 menggunakan tiga metode: Revealed Comparative Advantage (RCA), Revealed Symmetric Comparative Advantage (RSCA), dan Export Product Dynamics (EPD). Data sekunder bersumber dari UN Comtrade dengan kode HS 151110. Terdapat tiga temuan utama. Pertama, kedua negara mempertahankan keunggulan komparatif yang kuat dan konsisten sepanjang periode pengamatan, dengan nilai rata-rata RSCA mendekati nilai maksimum teoritis Indonesia sebesar 0,9140 dan Malaysia sebesar 0,9149. Kedua, terjadi pembalikan struktural dominasi kompetitif: Malaysia memasuki tahun 1995 dengan RCA 48,84 berbanding Indonesia 4,94, namun pada periode 2021–2025 Indonesia rata-rata mencapai 28,97 berbanding 11,86 milik Malaysia, didorong oleh ekspansi perkebunan dan pendalaman hubungan perdagangan dalam kerangka Belt and Road Initiative. Ketiga, analisis EPD mengungkapkan postur kompetitif yang dominan defensif Indonesia menghabiskan 10 tahun di posisi Lost Opportunity dan 11 tahun di posisi Retreat, menunjukkan bahwa keunggulan struktural belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi strategi penangkapan peluang pasar yang dinamis. Rekomendasi mencakup reformasi mekanisme DMO Indonesia, percepatan pengakuan sertifikasi ISPO di China, dan reposisi strategi Malaysia ke segmen oleokimia bernilai tinggi. Kata Kunci: RCA, RSCA, Ekspor Produk Dinamis, Minyak Sawit.

Citation



    SERVICES DESK