ENGLISH DEPARTMENT STUDENT PERCEPTION OF NOVEL-TO-FILM ADAPTATION OF J.R.R. TOLKIEN'S THE HOBBIT OR THERE AND BACK AGAIN INTO THE HOBBIT: THE DESOLATION OF SMAUG (A CASE STUDY AT FKIP USK) | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

ENGLISH DEPARTMENT STUDENT PERCEPTION OF NOVEL-TO-FILM ADAPTATION OF J.R.R. TOLKIEN'S THE HOBBIT OR THERE AND BACK AGAIN INTO THE HOBBIT: THE DESOLATION OF SMAUG (A CASE STUDY AT FKIP USK)


Pengarang

Nura Sanisa - Personal Name;

Dosen Pembimbing


Nomor Pokok Mahasiswa

2206102020086

Fakultas & Prodi

Fakultas KIP / Pendidikan Bahasa Inggris (S1) / PDDIKTI : 88203

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas FKIP., 2026

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Berikut terjemahan akademis dalam Bahasa Indonesia:

---

Penelitian ini mengkaji bagaimana novel *The Hobbit, or There and Back Again* (1937) diubah menjadi film *The Hobbit: The Desolation of Smaug* (2013). Peneliti menggunakan teori ekranisasi dari Eneste (1991), yang mencakup tiga jenis perubahan, yaitu penambahan (*addition*), pengurangan (*reduction*), dan perubahan bervariasi (*modification*). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Peneliti membandingkan novel dan film melalui analisis dokumen. Selanjutnya, 20 mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP USK mengisi kuesioner berbentuk pertanyaan terbuka.

Hasil analisis dokumen menemukan empat penambahan dalam film, yaitu pertarungan di dalam lautan emas cair di Erebor, kunjungan Gandalf ke Dol Guldur, kisah asmara antara Kili dan Tauriel, serta serangan Orc di Lake-town. Selain itu, ditemukan tiga pengurangan, yaitu bahaya magis di sungai Mirkwood, adegan pesta bangsa Peri Hutan, dan pengakuan Bilbo mengenai cincin. Ditemukan pula tiga perubahan bervariasi, yaitu adegan pelarian menggunakan tong, peran Bard sebagai penyelundup, serta cedera yang dialami Kili di Lake-town.

Hasil kuesioner menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa lebih mudah mengenali penambahan dibandingkan pengurangan maupun perubahan bervariasi. Sebagai contoh, 19 dari 20 mahasiswa menilai serangan Orc dan kisah asmara Kili-Tauriel sebagai bentuk penambahan. Namun, untuk subplot Gandalf dan Dol Guldur, sebagian besar mahasiswa tidak menganggapnya sebagai penambahan murni; sebagian menilainya sebagai pengurangan, sementara sebagian lain menilainya sebagai perubahan bervariasi.

Pada kategori pengurangan, sebagian besar mahasiswa sepakat bahwa bahaya sungai Mirkwood dan adegan pesta bangsa Peri Hutan mengalami pengurangan. Akan tetapi, untuk adegan pengakuan Bilbo tentang cincin, sebagian besar mahasiswa menilainya sebagai perubahan bervariasi, bukan pengurangan. Pada kategori perubahan bervariasi, sebagian mahasiswa memandang adegan aksi dramatis, seperti pelarian menggunakan tong dan pertarungan di lautan emas cair, sebagai penambahan, bukan perubahan bervariasi.

Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa persepsi mahasiswa dipengaruhi oleh intensitas visual. Ketika sebuah adegan tampak sangat berbeda atau lebih menegangkan dalam film, mahasiswa cenderung mengategorikannya sebagai penambahan, meskipun peristiwa inti dari adegan tersebut sebenarnya sudah ada dalam novel. Penelitian ini menyarankan bahwa kerangka teori ekranisasi tidak hanya dapat digunakan untuk menganalisis proses adaptasi karya sastra ke dalam bentuk film, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk mengajarkan keterampilan menonton kritis (*critical viewing skills*) dalam pembelajaran bahasa Inggris di kelas.

This study looks at how the novel The Hobbit, or There and Back Again (1937) was changed into the film The Hobbit: The Desolation of Smaug (2013). The researcher used Eneste's (1991) theory of ecranisation, which has three types of changes: addition, reduction, and modification. The study used a descriptive qualitative method. The researcher compared the novel and the film through document analysis. Then, 20 English Department students at FKIP USK answered an open-ended questionnaire. The document analysis found four additions in the film: the molten gold battle in Erebor, Gandalf's visit to Dol Guldur, the romance between Kili and Tauriel, and the Orc attack on Lake-town. Three reductions were found: the magical danger of the Mirkwood river, the Wood-elves' feast scene, and Bilbo's confession about the ring. Three modifications were also found: the barrel escape, Bard's role as a smuggler, and Kili's injury in Lake-town. The questionnaire results showed that most students could recognize additions more easily than reductions or modifications. For example, 19 out of 20 students saw the Orc attack and the Kili-Tauriel romance as additions. However, for the Gandalf and Dol Guldur subplot, most students did not see it as a pure addition. Some saw it as a reduction or modification. For the reduction category, most students agreed that the Mirkwood river danger and the Wood-elves' feast were reduced. But for Bilbo's ring confession, most students saw it as a modification, not a reduction. For the modification category, some students viewed dramatic action scenes, like the barrel escape and the molten gold battle, as additions rather than modifications. These findings show that students' perceptions are influenced by visual intensity. When a scene looks very different or more exciting in the film, students tend to call it an addition, even when the core event exists in the novel. This study suggests that the ecranisation framework can be used not only to analyze adaptations but also to teach critical viewing skills in English language classrooms.

Citation



    SERVICES DESK