ANALISIS SPASIAL KERAPATAN TEGAKAN POHON PELINDUNG TANAMAN KOPI DI KABUPATEN BENER MERIAH | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

ANALISIS SPASIAL KERAPATAN TEGAKAN POHON PELINDUNG TANAMAN KOPI DI KABUPATEN BENER MERIAH


Pengarang

Imam Riza Putra Perdana - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Muhammad Rusdi - 197704012006041001 - Dosen Pembimbing I
Abubakar - 196210101988111001 - Dosen Pembimbing I



Nomor Pokok Mahasiswa

2205108010021

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Ilmu Tanah (S1) / PDDIKTI : 54294

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas pertanian Ilmu Tanah., 2026

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Tanaman kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan penting di Indonesia,
khususnya di Kabupaten Bener Meriah yang dikenal sebagai sentra produksi kopi di dataran
tinggi Gayo. Dalam sistem budidaya kopi, pohon pelindung memiliki peran penting karena
mampu membentuk iklim mikro yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman, menjaga kelembaban,
mengurangi intensitas cahaya yang berlebihan, serta mendukung keberlanjutan sistem
agroforestri. Kondisi topografi Kabupaten Bener Meriah yang bervariasi menyebabkan kebun
kopi tersebar pada beberapa kelas ketinggian tempat, sehingga analisis kerapatan tegakan pohon
pelindung menjadi penting untuk mengetahui pola sebarannya secara spasial. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui perbedaan kerapatan tegakan pohon pelindung pada lahan kebun
kopi di Kabupaten Bener Meriah serta menganalisis variasi tingkat kerapatannya berdasarkan
kelas ketinggian tempat.
Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif secara spasial dengan metode
survei, yang memadukan observasi lapangan dan analisis Sistem Informasi Geografis (SIG).
Data lapangan dikumpulkan melalui plot berukuran 20 m × 20 m untuk menghitung jumlah
pohon pelindung, mencatat jenis pohon pelindung. Analisis spasial dilakukan melalui
pembaruan peta kebun kopi eksisting tahun 2025 menggunakan klasifikasi visual on-screen,
analisis DEM untuk memperoleh kelas ketinggian tempat, overlay peta ketinggian dengan peta
kebun kopi, serta mengklasifikasi kerapatan naungan berdasarkan hasil survei lapangan dengan
metode Interpolasi Visual On Screen. Kelas ketinggian terdiri atas 1400 mdpl, sedangkan kelas kerapatan naungan dibedakan
menjadi jarang, sedang, rapat, dan tanpa naungan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas kebun kopi eksisting di Kabupaten Bener
Meriah tahun 2025 mencapai 34.644,67 ha. Berdasarkan jenis naungannya, kebun kopi
didominasi oleh naungan campuran seluas 27.020,27 ha (77,99 %), diikuti naungan lamtoro
seluas 7.555,25 ha (21,81 %), dan naungan alpukat seluas 69,15 ha (0,20%). Adapun naungan
campuran yang ditemukan yaitu alpukat–coklat, alpukat–jeruk, alpukat–pisang, lamtoro–
alpukat, lamtoro–alpukat–jeruk, lamtoro–alpukat–jeruk–pisang, lamtoro–gliricidia, lamtoro–
jeruk–nangka, dan lamtoro–pisang Berdasarkan tingkat kerapatan, kelas jarang merupakan
kerapatan yang paling dominan dengan luas 22.151,95 ha (63,94%), diikuti oleh kelas sedang
seluas 8.512,69 ha (24,57%), kelas rapat seluas 3.353,97 ha (9,68%), dan tanpa naungan seluas
626,06 ha (1,81%). Berdasarkan kelas ketinggian tempat, kebun kopi tersebar pada seluruh zona
elevasi, dengan luasan terbesar berada pada ketinggian 1200–1400 mdpl sebesar 12.417,71 ha
(35,84%), kemudian >1400 mdpl sebesar 8.497,21 ha (24,53%),

Coffee is one of the most important plantation commodities in Indonesia, particularly in Bener Meriah Regency, which is widely recognized as the center of Arabica coffee production in the Gayo Highlands. In coffee cultivation systems, shade trees play a crucial role in creating a favorable microclimate for coffee growth by maintaining humidity, reducing excessive light intensity, and supporting the sustainability of agroforestry systems. The diverse topographic conditions of Bener Meriah Regency have resulted in coffee plantations being distributed across different elevation classes. Therefore, analyzing the density of shade tree stands is essential to understand their spatial distribution. This study aimed to identify differences in the density of shade tree stands in coffee plantations in Bener Meriah Regency and to analyze the variation in shade density across different elevation classes. This study employed a spatial descriptive approach using a survey method that combined field observations with Geographic Information System (GIS) analysis. Field data were collected using 20 m × 20 m sample plots to determine the number and species of shade trees. Spatial analysis included updating the existing 2025 coffee plantation map through visual on-screen classification, Digital Elevation Model (DEM) analysis to generate elevation classes, overlaying the elevation map with the coffee plantation map, and classifying shade density based on field survey results using the Visual On-Screen Interpolation method. Elevation classes were categorized into 1400 masl, while shade density was classified into sparse, moderate, dense, and no shade. The results showed that the total area of existing coffee plantations in Bener Meriah Regency in 2025 reached 34,644.67 ha. Based on shade tree type, coffee plantations were dominated by mixed shade covering 27,020.27 ha (77.99%), followed by Leucaena shade covering 7,555.25 ha (21.81%), and avocado shade covering 69.15 ha (0.20%). The mixed shade combinations identified included avocado–cocoa, avocado–citrus, avocado–banana, Leucaena–avocado, Leucaena–avocado–citrus, Leucaena–avocado–citrus–banana, Leucaena–Gliricidia, Leucaena–citrus–jackfruit, and Leucaena–banana. Based on shade density, the sparse class was the most dominant, covering 22,151.95 ha (63.94%), followed by the moderate class with 8,512.69 ha (24.57%), the dense class with 3,353.97 ha (9.68%), and the no-shade class with 626.06 ha (1.81%). Based on elevation, coffee plantations were distributed across all elevation zones, with the largest area occurring at 1200–1400 masl (12,417.71 ha; 35.84%), followed by >1400 masl (8,497.21 ha; 24.53%),

Citation



    SERVICES DESK