MOTIF RAGAM HIAS PADA BUSANA PENGANTIN ADAT ACEH DI KECAMATAN KUTA BARO KABUPATEN ACEH BESAR | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

MOTIF RAGAM HIAS PADA BUSANA PENGANTIN ADAT ACEH DI KECAMATAN KUTA BARO KABUPATEN ACEH BESAR


Pengarang

Khairun Nisa - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Ismawan - 196808151995121002 - Dosen Pembimbing I
Tengku Hartati - 197108122006042001 - Dosen Pembimbing II
Yuli Astuti - 199007202019032019 - Penguji
Samsuri, S.Pd., M.Ed 198902062023212039 - - - Penguji



Nomor Pokok Mahasiswa

1906102030021

Fakultas & Prodi

Fakultas KIP / Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik (S1) / PDDIKTI : 88209

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas KIP Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik (S1)., 2026

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan motif ragam hias pada busana pengantin adat Aceh di Kecamatan Kuta Baro Kabupaten Aceh Besar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian adalah seorang perancang busana pengantin adat Aceh di Kecamatan Kuta Baro. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif ragam hias pada busana pengantin adat Aceh di Kecamatan Kuta Baro terdiri atas motif flora, motif geometris, dan motif dekoratif. Motif flora merupakan motif yang paling dominan digunakan karena memiliki makna keindahan, kesuburan, kemakmuran, dan keharmonisan. Selain itu, motif khas Aceh seperti Pucok Reubong masih dipertahankan sebagai identitas budaya. Komposisi motif pada busana pengantin telah menerapkan prinsip-prinsip desain berupa keseimbangan, kesatuan, irama, proporsi, dan penekanan sehingga menghasilkan tampilan yang harmonis dan estetis. Penelitian juga menunjukkan bahwa telah terjadi perkembangan teknik pembuatan motif melalui penggunaan bordir, payet, manik-manik, dan kristal yang mengikuti perkembangan zaman tanpa menghilangkan ciri khas busana pengantin adat Aceh. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa motif ragam hias pada busana pengantin adat Aceh di Kecamatan Kuta Baro tidak hanya berfungsi sebagai unsur dekoratif, tetapi juga menjadi simbol budaya yang mencerminkan nilai-nilai adat, filosofi kehidupan, dan identitas masyarakat Aceh. Oleh karena itu, pelestarian motif ragam hias tradisional perlu terus dilakukan agar warisan budaya Aceh tetap terjaga di tengah perkembangan mode dan modernisasi.
Kata kunci: motif ragam hias, busana pengantin adat Aceh, komposisi motif, Kecamatan Kuta Baro.

This study aims to describe the decorative motifs found on traditional Acehnese wedding attire in Kuta Baro District, Aceh Besar Regency. A qualitative approach with a descriptive research design was employed. The research subject was a designer of traditional Acehnese wedding attire based in Kuta Baro District. Data were collected through observation, interviews, and documentation, while analysis followed the Miles and Huberman model, comprising data reduction, data display, and conclusion drawing. The results indicate that the decorative motifs on traditional Acehnese wedding attire in Kuta Baro District consist of floral, geometric, and other decorative patterns. Floral motifs are the most predominantly used, symbolizing beauty, fertility, prosperity, and harmony. Additionally, distinctive Acehnese motifs such as Pucok Reubong (bamboo shoot) are preserved as an expression of cultural identity. The composition of these motifs incorporates design principles—such as balance, unity, rhythm, proportion, and emphasis— resulting in a harmonious and aesthetic appearance. The study also reveals an evolution in motif creation techniques, incorporating embroidery, sequins, beads, and crystals to align with modern trends without compromising the distinctive characteristics of traditional Acehnese wedding attire. In conclusion, the decorative motifs on traditional Acehnese wedding attire in Kuta Baro District serve not merely as decorative elements but also as cultural symbols reflecting the customs, life philosophies, and identity of the Acehnese people. Therefore, preserving these traditional motifs is crucial to ensuring the continuity of Acehnese cultural heritage amidst evolving fashion trends and modernization. Keywords: decorative motifs, traditional Acehnese wedding attire, motif composition, Kuta Baro District.

Citation



    SERVICES DESK