KAJIAN ESTETIKA MOTIF BOH MULIENG PADA GERABAH DI KABUPATEN PIDIE | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

KAJIAN ESTETIKA MOTIF BOH MULIENG PADA GERABAH DI KABUPATEN PIDIE


Pengarang

Safrina Wati - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Rida Safuan Selian - 197610072002121003 - Dosen Pembimbing I
Samsuri - 198902062015012101 - Dosen Pembimbing II
Mukhsin Putra Hafid - 197607022006041001 - Penguji
Ismawan - 196808151995121002 - Penguji



Nomor Pokok Mahasiswa

1906102030045

Fakultas & Prodi

Fakultas KIP / Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik (S1) / PDDIKTI : 88209

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas KIP Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik (S1)., 2026

Bahasa

Indonesia

No Classification

738

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keberadaan motif Boh Mulieng sebagai salah satu motif khas Kabupaten Pidie yang diterapkan pada kerajinan gerabah dan memiliki nilai estetika serta makna budaya yang penting. Motif ini merupakan hasil stilasi dari tanaman melinjo yang tidak hanya berfungsi sebagai unsur dekoratif, tetapi juga merepresentasikan identitas budaya, nilai filosofis, dan hubungan masyarakat dengan lingkungan sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji estetika motif Boh Mulieng pada gerabah di Kabupaten Pidie yang meliputi struktur visual, makna estetis, serta proses penciptaannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian adalah pencipta motif Boh Mulieng, sedangkan objek penelitian adalah motif Boh Mulieng yang diterapkan pada gerabah di Kabupaten Pidie. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan menggunakan teori estetika Darsono Sony Kartika (2007), teori estetika A.A.M. Djelantik (1999), dan teori penciptaan seni kriya S.P. Gustami (2004). Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif Boh Mulieng merupakan hasil stilasi tanaman melinjo yang dikembangkan menjadi beberapa variasi, yaitu Boh Mulieng, Bungong Mulieng, Aneuk Buleun, Aneuk Pedeung, dan Aneuk Timon. Struktur visual motif didominasi oleh bentuk geometris, garis lengkung, komposisi yang simetris, serta penggunaan warna-warna alami yang menciptakan kesatuan, keselarasan, keseimbangan, kesetangkupan, dan kontras yang harmonis. Dari aspek estetika Djelantik, motif Boh Mulieng memiliki wujud yang khas, bobot berupa makna filosofis tentang keharmonisan manusia dengan alam, serta penampilan yang menunjukkan keterampilan pengrajin dalam menerapkan motif pada media gerabah. Proses penciptaannya melalui tahapan eksplorasi, perancangan, dan perwujudan sehingga menghasilkan karya kriya yang bernilai estetis sekaligus menjadi identitas budaya masyarakat Kabupaten Pidie.
Kata kunci: kajian estetika, motif Boh Mulieng, gerabah, seni kriya.

This research was motivated by the existence of the Boh Mulieng motif as one of the traditional motifs of Pidie Regency applied to pottery crafts, which possesses significant aesthetic and cultural values. The motif is a stylized representation of the melinjo plant and serves not only as a decorative element but also as a representation of cultural identity, philosophical values, and the relationship between the community and its natural environment. This study aimed to examine the aesthetics of the Boh Mulieng motif on pottery in Pidie Regency, including its visual structure, aesthetic meaning, and creative process. This study employed a qualitative approach using a descriptive research method. The subject of the research was the creator of the Boh Mulieng motif, while the object of the research was the Boh Mulieng motif applied to pottery in Pidie Regency. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The data were analyzed descriptively using the aesthetic theory of Darsono Sony Kartika (2007), the aesthetic theory of A.A.M. Djelantik (1999), and the craft creation theory of S.P. Gustami (2004). The findings revealed that the Boh Mulieng motif is a stylized form of the melinjo plant that has developed into several variations, namely Boh Mulieng, Bungong Mulieng, Aneuk Buleun, Aneuk Pedeung, and Aneuk Timon. The visual structure of the motif is dominated by geometric forms, curved lines, symmetrical compositions, and natural color schemes that create unity, harmony, balance, symmetry, and contrast. Based on Djelantik's aesthetic perspective, the Boh Mulieng motif possesses a distinctive form, conveys philosophical meanings related to the harmonious relationship between humans and nature, and demonstrates the artisans' skills in applying the motif to pottery. The creative process consists of exploration, design, and realization stages, resulting in craft works that possess aesthetic value while serving as a cultural identity of the people of Pidie Regency. Keywords: aesthetic study, Boh Mulieng motif, pottery, craft art.

Citation



    SERVICES DESK