HILANGNYA TRADISI BONGKOH PISANG DALAM KEGIATAN KHITANAN SUKU PAKPAK DI DESA SOPOKOMIL KECAMATAN SILIMA PUNGGA- PUNGGA KABUPATEN DAIRI | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

HILANGNYA TRADISI BONGKOH PISANG DALAM KEGIATAN KHITANAN SUKU PAKPAK DI DESA SOPOKOMIL KECAMATAN SILIMA PUNGGA- PUNGGA KABUPATEN DAIRI


Pengarang

DEWI LESTARI TARIGAN - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Dara Fatia, M.Sos - 199510312022032008 - Dosen Pembimbing I
Khairulyadi - 197705302010121001 - Penguji
Yuva Ayuning Anjar - 199301082019032020 - Penguji



Nomor Pokok Mahasiswa

2210101010081

Fakultas & Prodi

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Sosiologi (S1) / PDDIKTI : 69201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : .,

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Tradisi Bongkoh Pisang merupakan salah satu tradisi masyarakat Suku Pakpak yang dilaksanakan dalam rangkaian kegiatan khitanan dan memiliki makna simbolis serta nilai sosial budaya. Namun, seiring perkembangan zaman, tradisi ini mengalami penurunan hingga tidak lagi dilaksanakan di Dusun VI Sopokomil, Desa Longkotan, Kabupaten Dairi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keberadaan tradisi Bongkoh Pisang serta mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan hilangnya tradisi tersebut. Penelitian ini menggunakan Teori Strukturisasi Anthony Giddens dengan metode penelitian kualitatif melalui pendekatan etnografi kontemporer. Informan penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling yang terdiri atas tokoh adat, masyarakat yang mengetahui tradisi Bongkoh Pisang, dan generasi muda. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi nonpartisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Bongkoh Pisang merupakan bagian penting dalam kegiatan khitanan masyarakat Suku Pakpak yang melambangkan kesuburan, peralihan menuju kedewasaan, serta harapan akan kehidupan yang baik. Tradisi ini juga mengandung nilai kebersamaan, gotong royong, solidaritas, dan mempererat hubungan sosial masyarakat. Tradisi Bongkoh Pisang diketahui sudah tidak lagi dilaksanakan sejak sekitar tahun 2009. Hilangnya tradisi tersebut dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu melemahnya peran tokoh adat, terputusnya pewarisan budaya, berkurangnya masyarakat yang memahami tradisi, mobilisasi generasi muda ke luar daerah, serta keterbatasan waktu dan bahan. Faktor eksternal meliputi pengaruh modernisasi, terutama penggunaan pelaminan modern yang dianggap lebih praktis dan efisien. Penelitian ini merekomendasikan penguatan peran tokoh adat, pewarisan budaya kepada generasi muda, serta dokumentasi dan revitalisasi tradisi Bongkoh Pisang sebagai upaya pelestarian budaya.

Kata Kunci: Tradisi Bongkoh Pisang, Suku Pakpak, khitanan, strukturisasi, perubahan sosial.


The Bongkoh Pisang tradition is one of the traditions of the Pakpak people which is carried out in a series of circumcision activities and has symbolic meaning and socio-cultural values. However, over time, this tradition has declined until it is no longer carried out in Hamlet VI Sopokomil, Longkotan Village, Dairi Regency. This study aims to analyze the existence of the Bongkoh Pisang tradition and identify the factors that caused the disappearance of this tradition. This study uses Anthony Giddens' Structuring Theory with a qualitative research method through a contemporary ethnographic approach. Research informants were selected using a purposive sampling technique consisting of traditional leaders, people who are familiar with the Bongkoh Pisang tradition, and the younger generation. Data collection was carried out through non-participant observation, in-depth interviews, and documentation, then analyzed through data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study indicate that the Bongkoh Pisang tradition is an important part of the circumcision activities of the Pakpak people which symbolizes fertility, the transition to adulthood, and the hope for a good life. This tradition also contains the values of togetherness, mutual cooperation, solidarity, and strengthening social relations in the community. The Bongkoh Pisang tradition is known to have ceased to be practiced since around 2009. The disappearance of this tradition was influenced by internal factors, namely the weakening role of traditional leaders, the severance of cultural inheritance, the reduction in people who understand the tradition, the mobilization of the younger generation outside the region, and limited time and materials. External factors include the influence of modernization, especially the use of modern wedding stages which are considered more practical and efficient. This study recommends strengthening the role of traditional leaders, cultural inheritance to the younger generation, and documentation and revitalization of the Bongkoh Pisang tradition as an effort to preserve culture. Keywords: Bongkoh Pisang Tradition, Pakpak Tribe, circumcision, structuring, social change.

Citation



    SERVICES DESK