Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
DISSERTATION
MODEL PENGGUNAAN DAN TUTUPAN LAHAN BERKELANJUTAN UNTUK MITIGASI BENCANA BANJIR DI DAERAH ALIRAN SUNGAI KRUENG BARO, PIDIE, ACEH, INDONESIA
Pengarang
Rahmi - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Ashfa - 197302152000031001 - Dosen Pembimbing I
Alfiansyah Yulianur BC - 196307251991021001 - Dosen Pembimbing II
Ichwana - 197301031998022001 - Dosen Pembimbing III
Mirza Irwansyah - 196205261987101001 - Penguji
Nomor Pokok Mahasiswa
2109300060024
Fakultas & Prodi
Fakultas Pasca Sarjana / Program Doktor Ilmu Teknik (S3) / PDDIKTI : 20003
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Pasca Sarjana., 2026
Bahasa
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Pengelolaan daerah aliran sungai adalah upaya manusia untuk mengendalikan hubungan timbal balik antara sumber daya alam dan manusia serta semua aktivitas masyarakat untuk mendorong keberlanjutan dan harmoni ekosistem dan meningkatkan sumber daya alam untuk manusia. Kerusakan daerah aliran sungai mengakibatkan berbagai bencana alam yang berkaitan dengan perubahan penggunaan dan tutupan lahan, seperti banjir, erosi dan sedimentasi. Pola Perubahan penggunaan dan tutupan lahan (PTL) dan Kerentanan Banjir memiliki dinamika PTL di DAS Krueng Baro selama periode 2016-2024 menunjukkan tren degradasi vegetasi alami yang signifikan, di mana luas hutan berkurang sebesar 4.268 ha (±14,4%), sementara lahan pertanian meningkat drastis hingga 7.309 ha (±45,9%). Luas kawasan hutan menurun dari sekitar 29.654 ha (2016) menjadi 25.387 ha (2024) atau berkurang sekitar 4.268 ha (±14,4%), sementara lahan pertanian meningkat dari 15.907 ha menjadi 23.216 ha atau bertambah sekitar 7.309 ha (±45,9%). Perubahan ini mengindikasikan terjadinya konversi lahan vegetasi alami ke lahan budidaya dan berkontribusi terhadap peningkatan limpasan permukaan di DAS Krueng Baro
Data yang digunakan adalah data citra satelit resolusi tinggi yang diperoleh dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Republik Indonesia (RI) sebagai resolusi spasial yang tinggi untuk pengamatan lahan dan deteksi perubahan. Perubahan PTL semakin membentuk kerentanan banjir di banyak daerah aliran sungai, termasuk di Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk memetakan dan menganalisis distribusi kerentanan banjir.Pendekatan pemberian skor dan pembobotan diterapkan menggunakan data PTL 2016 yang dikombinasikan dengan enam variabel: curah hujan, jenis tanah, gradien kemiringan, kepadatan sungai, penggunaan lahan, dan elevasi. Untuk memperkuat analisis. Hasilnya menunjukkan bahwa kepadatan sungai, elevasi, dan penggunaan lahan memberikan pengaruh terkuat, di mana kepadatan sungai yang tinggi, elevasi rendah, dan penggunaan lahan yang intensif terkait erat dengan banjir yang lebih dalam dan lebih luas. Temuan ini menekankan kebutuhan mendesak akan perencanaan spasial dan strategi pengelolaan lingkungan, khususnya melalui restorasi ekosistem, peninjauan perencanaan penggunaan lahan secara berkala, dan normalisasi sungai. Terdapat tiga skenario dalam menemukan model perubahan PTL, yaitu skenario RTRW, skenario histori dan skenario Kawasan Lindung. Dari tiga skenario, skenario Kawasan lindung menjadi model yang digunakan dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi di Daerah Aliran Sungai Krueng Baro.
Kata Kunci: Perubahan Penggunaan Tutupan Lahan, Mitigasi Banjir, Daerah Alirasn Sungai, Skenario Best Fit, Citra Satelit.
Watershed management is a human effort to control the reciprocal relationship between natural resources and humans as well as all community activities to encourage the sustainability and harmony of ecosystems and increase natural resources for humans. Damage to watersheds results in various natural disasters related to changes in land use and cover, such as floods, erosion and sedimentation. The pattern of land use and cover changes (PTL) and flood vulnerability have PTL dynamics in the Krueng Baro watershed during the 2016-2024 period showing a significant trend of natural vegetation degradation, where forest area decreased by 4,268 ha (±14.4%), while agricultural land increased drastically to 7,309 ha (±45.9%). Forest area decreased from approximately 29,654 ha (2016) to 25,387 ha (2024), a decrease of approximately 4,268 ha (±14.4%), while agricultural land increased from 15,907 ha to 23,216 ha, an increase of approximately 7,309 ha (±45.9%). This change indicates the conversion of natural vegetation to cultivated land and contributes to increased surface runoff in the Krueng Baro watershed. The data used were high-resolution satellite imagery obtained from the National Research and Innovation Agency (BRIN) of the Republic of Indonesia (RI) as a high spatial resolution for land observation and change detection. Changes in flood vulnerability are increasingly shaping flood vulnerability in many watersheds, including in Indonesia. This study was conducted to map and analyze the distribution of flood vulnerability. A scoring and weighting approach was applied using 2016 flood vulnerability data combined with six variables: rainfall, soil type, slope gradient, river density, land use, and elevation. To strengthen the analysis, the authors used a high-resolution satellite imagery obtained from the National Research and Innovation Agency (BRIN) of the Republic of Indonesia. The results indicate that river density, elevation, and land use have the strongest impacts, with high river density, low elevation, and intensive land use strongly associated with deeper and more extensive flooding. These findings emphasize the urgent need for spatial planning and environmental management strategies, particularly through ecosystem restoration, periodic land use planning reviews, and river normalization. Three scenarios were used to develop a model for land cover change: the spatial planning scenario, the historical scenario, and the protected area scenario. Of the three scenarios, the protected area scenario was the model used to address the problems occurring in the Krueng Baro River Basin. Keywords: Land Use Land Cover Use, Flood Mitigation, River Basin Area, Best Fit Scenario, Satellite Imagery.
ANALSIIS SPASIAL KARAKTERISTIK FISK DAS TERHADAP UPAYA MITIGASI BENCANA BANJIR PADA DAS KRUENG MEUREUBO (Indra Syahputra, 2018)
KAJIAN MITIGASI BENCANA BANJIR KECAMATAN LHOKSUKON KABUPATEN ACEH UTARA (ALFIANA SARI IQLIMA, 2024)
KAJIAN RISIKO BENCANA BANJIR DI KABUPATEN BIREUEN UNTUK STRATEGI MITIGASI BENCANA (Ulfi Rahmah, 2024)
ANALISIS SPATIAL KEKRITISAN LAHAN DAERAH ALIRAN SUNGAI KRUENG BARO (Fachra Muharyanda, 2016)
EVALUASI PENUTUPAN LAHAN BERDASARKAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) PROVINSI ACEH PADA DAS KRUENG ACEH (Ichsan, 2022)