Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
ANALISIS PENGGUNAAN BUDAYA NON-LOKAL (JARAN KEPANG) SEBAGAI KOMUNIKASI POLITIK DALAM KONTESTASI POLITIK ACEH (STUDI KASUS KEMENANGAN PASANGAN TAGORE ABU BAKAR DANRNARMIA AHMAD (TAGAR) PADA PILKADA BENER MERIAH 2024)
Pengarang
CINDY MUTIA ARTIKA - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Muliawati - 199205242017012101 - Dosen Pembimbing I
Khalisni - 199205302021021101 - Penguji
Annisah Putri - 199208232022032009 - Penguji
Nomor Pokok Mahasiswa
2210103010084
Fakultas & Prodi
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Ilmu Politik (S1) / PDDIKTI : 67201
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SYIAH KUALA., 2026
Bahasa
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
ABSTRAK
Aceh dikenal sebagai daerah yang memiliki identitas keislaman yang kuat dan
sering dipersepsikan tertutup terhadap budaya luar. Namun, pada Pilkada
Kabupaten Bener Meriah tahun 2024 terlihat fenomena berbeda, ketika pasangan
Tagore Abu Bakar-Armia Ahmad menggunakan budaya non-lokal Jaran Kepang
dalam kegiatan kampanye politik. Kehadiran budaya non-lokal tersebut
menunjukkan bahwa budaya dapat digunakan sebagai simbol dalam komunikasi
politik untuk menjangkau masyarakat multietnis. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui makna penggunaan budaya non-lokal Jaran Kepang sebagai simbol
dalam komunikasi politik pada pasangan Tagore-Armia pada Pilkada Bener Meriah
2024. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa penggunaan Jaran Kepang dimaknai sebagai simbol komunikasi politik
untuk membangun kedekatan dengan masyarakat, khususnya etnis Jawa, serta
membentuk citra kandidat sebagai pemimpin yang terbuka dan menghargai
keberagaman. Selain itu, Jaran KepSang juga memiliki makna dalam menarik
simpati dan memperluas dukungan elektoral pada wilayah dengan basis pemilih
Jawa yang cukup besar. Namun, penggunaan simbol budaya tersebut juga
menunjukkan bahwa budaya dalam kampanye digunakan secara selektif sesuai
kepentingan politik kandidat. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa
makna penggunaan Jaran Kepang dalam kampanye pasangan Tagore-Armia bukan
sekadar hiburan, tetapi sebagai simbol komunikasi politik yang dimaknai dalam
membangun citra kepemimpinan, mendekatkan kandidat dengan masyarakat, serta
menarik dukungan politik dari kelompok masyarakat tertentu.
Kata Kunci: Komunikasi Politik, Budaya Non-Lokal, Jaran Kepang, Pilkada.
ABSTRACT Aceh is known as a region with a strong Islamic identity and is often perceived as being closed to outside cultures. However, in the 2024 regional election of Bener Meriah Regency, a different phenomenon appeared when the pair Tagore Abu Bakar-Armia Ahmad used the non-local culture of Jaran Kepang in their political campaign activities. The presence of this non-local culture indicates that culture can be used as a symbol in political communication to reach a multiethnic society. This study aims to determine the meaning of the use of the non-local culture of Jaran Kepang as a symbol in the political communication of the Tagore-Armia pair in the 2024 Bener Meriah regional election. This study used a qualitative method. The results of the study show that the use of Jaran Kepang is interpreted as a symbol of political communication to build closeness with the community, especially the Javanese ethnic group, as well as to shape the image of the candidates as leaders who are open and appreciate diversity. In addition, Jaran Kepang also has meaning in attracting sympathy and expanding electoral support in areas with a fairly large Javanese voter base. However, the use of this cultural symbol also shows that culture in campaigns is used selectively according to the political interests of the candidates. The conclusion of this study shows that the meaning of the use of Jaran Kepang in the Tagore-Armia campaign was not merely entertainment, but as a symbol of political communication interpreted in building a leadership image, bringing candidates closer to the community, and attracting political support from certain community groups. Keywords: Political Communication, Non-Local culture, Jaran Kepang, Regional election.
STRATEGI PEMENANGAN TAGORE ABUBAKAR PADA PEMILIHAN UMUM LEGISLATIF DPR-RI TAHUN 2014 (SUATU PENELITIAN DI KABUPATEN ACEH TENGAH DAN BENER MERIAH) (ASTRI SULASTRI , 2016)
POLITIK IDENTITAS ETNIS PADA PILKADA 2017 (STUDI KASUS TERHADAP KEMENANGAN IRWANDI-NOVA DI KECAMATAN BINTANG KABUPATEN ACEH TENGAH) (Sabardi, 2019)
PENGARUH POLITIK IDENTITAS ETNIS TIONGHOA TERHADAP KEMENANGAN AMINULLAH USMAN- ZAINAL ARIFIN PADA PILKADA 2017 DI BANDA ACEH (STUDI KASUS PADA ETNIS TIONGHOA DI KECAMATAN KUTA ALAM) (Armia, 2019)
STRATEGI PEMENANGAN PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN (PDI-P) DI KABUPATEN BENER MERIAH (STUDI PADA PEMILU LEGISLATIF TAHUN 2014) (Raudhi, 2017)
KONSTRUKSI IDENTITAS PASCA PERJANJIAN DAMAI MOU HELSINKI DI KECAMATAN TAPAKTUAN (STUDI KASUS MOBILISASI MASSA PADA PILKADA KABUPATEN ACEH SELATAN TAHUN 2024) (ROHIDH ALBAAR FARID, 2025)