IDENTIFIKASI TUMBUHAN PAKAN DAN AKTIVITAS MENCARI MAKAN KELULUT (GENIOTRIGONA THORACICA SMITH, 1857) DI ROBURAN DOLOK KAWASAN PEYANGGAN TAMAN NASIONAL BATANG GADIS | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

IDENTIFIKASI TUMBUHAN PAKAN DAN AKTIVITAS MENCARI MAKAN KELULUT (GENIOTRIGONA THORACICA SMITH, 1857) DI ROBURAN DOLOK KAWASAN PEYANGGAN TAMAN NASIONAL BATANG GADIS


Pengarang

NURADILAH - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Saida Rasnovi - 197111131997022002 - Dosen Pembimbing I
Durrah Hayati - 199106122022032010 - Dosen Pembimbing II
Iqbar - 197407032005011001 - Penguji
Maryam Jamilah - 198609172022042001 - Penguji



Nomor Pokok Mahasiswa

2205110010024

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Kehutanan (S1) / PDDIKTI : 54251

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Pertanian., 2026

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

RINGKASAN

Penelitian ini mengkaji identifikasi tumbuhan pakan dan aktivitas mencari makan (foraging behavior) kelulut Geniotrigona thoracica di Roburan Dolok, kawasan penyangga Taman Nasional Batang Gadis (TNBG), Sumatera Utara. Kelulut merupakan lebah tanpa sengat yang berperan penting sebagai agen penyerbuk di hutan tropis serta memiliki nilai ekonomi produksi madu dan propolis sebagai salah satu produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Keberlangsungan koloni sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sumber pakan berupa nektar sebagai sumber energi, polen sebagai sumber protein, serta resin sebagai bahan pembangun sarang.
Hasil inventarisasi menunjukkan terdapat 44 jenis tumbuhan dari 28 famili yang dimanfaatkan sebagai sumber pakan dalam radius 500 meter dari sarang. Famili tumbuhan pakan yang dominan adalah Euphorbiaceae, Asteraceae, dan Malvaceae. Perawakan tumbuhan pakan terdiri atas pohon, perdu, dan herba, dengan karakteristik bunga umumnya berukuran kecil, terbuka, serta mudah diakses kelulut. Pengamatan aktivitas harian dilakukan dari pukul 06.00–18.00 WIB dengan menghitung jumlah kelulut yang keluar dan masuk sarang setiap jam dan mengamati perlakuannya. Aktivitas keluar sarang didominasi oleh perilaku mencari makan (76,10%), diikuti menjaga sarang (16,20%) dan membuang sampah (7,70%). Sementara itu, aktivitas masuk sarang menunjukkan bahwa nektar merupakan bahan yang paling banyak dibawa (50,6%), diikuti individu tanpa muatan (26,1%), polen (9,9%), resin dan getah (9,4%), serta kombinasi polen dan nektar (4,0%). Puncak aktivitas terjadi pada pagi hingga siang hari, terutama antara pukul 10.00-12.00, ketika kondisi lingkungan relatif optimal.
Analisis regresi polinomial kuadratik menunjukkan bahwa intensitas cahaya memiliki hubungan paling kuat terhadap aktivitas mencari makan (R² = 0,64), diikuti suhu (R² = 0,39) dan kelembapan (R² = 0,22). Hal ini mengindikasikan bahwa intensitas cahaya dan suhu berperan penting dalam memicu aktivitas foraging, sedangkan kelembapan memiliki pengaruh lebih rendah. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan gambaran yang menyeluruh mengenai hubungan antara keanekaragaman tumbuhan pakan, dinamika aktivitas mencari pakan kelulut, dan hubungannya dengan faktor fisik lingkungan, yang dapat menjadi dasar pengelolaan budidaya serta strategi konservasi berbasis ekosistem di kawasan penyangga TNBG.

ABSTRACT This study examines the identification of food plants and the foraging behavior of the stingless bee *Geniotrigona thoracica* in Roburan Dolok, located in the buffer zone of Batang Gadis National Park (TNBG), North Sumatra. *Geniotrigona thoracica* (locally known as *kelulut*) is a stingless bee that plays a crucial role as a pollinator in tropical forests and holds economic value through the production of honey and propolis—commodities classified as Non-Timber Forest Products (NTFPs). Colony survival is heavily dependent on the availability of food sources: nectar for energy, pollen for protein, and resin for nest construction. An inventory revealed 44 plant species from 28 families utilized as food sources within a 500-meter radius of the nest. The dominant food plant families were Euphorbiaceae, Asteraceae, and Malvaceae. The food plants comprised trees, shrubs, and herbs, generally characterized by small, open flowers that were easily accessible to the bees. Daily activity was monitored from 06:00 to 18:00 WIB by counting the number of bees entering and exiting the nest hourly and observing their behaviors. Exiting activity was dominated by foraging (76.10%), followed by nest guarding (16.20%) and waste disposal (7.70%). Meanwhile, entry activity showed that nectar was the most frequently transported material (50.6%), followed by unladen individuals (26.1%), pollen (9.9%), resin and sap (9.4%), and a combination of pollen and nectar (4.0%). Peak activity occurred from morning to midday—specifically between 10:00 and 12:00—when environmental conditions were relatively optimal. Quadratic polynomial regression analysis reveals that light intensity has the strongest relationship with foraging activity (R² = 0.64), followed by temperature (R² = 0.39) and humidity (R² = 0.22). This indicates that light intensity and temperature play a crucial role in triggering foraging activity, whereas humidity exerts a lesser influence. Overall, this study provides a comprehensive overview of the relationships among forage plant diversity, *Kelulut* (stingless bee) foraging dynamics, and physical environmental factors; these findings can serve as a basis for cultivation management and ecosystem-based conservation strategies in the buffer zone of TNBG.

Citation



    SERVICES DESK