ANALISIS SPATIO-TEMPORAL CLUSTERING DALAM MENGELOMPOKKAN RISIKO RELATIF JUMLAH KASUS TUBERKULOSIS DI PROVINSI ACEH MENGGUNAKAN METODE FLEXSCAN | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

ANALISIS SPATIO-TEMPORAL CLUSTERING DALAM MENGELOMPOKKAN RISIKO RELATIF JUMLAH KASUS TUBERKULOSIS DI PROVINSI ACEH MENGGUNAKAN METODE FLEXSCAN


Pengarang

MEGA SITI NOVITA - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Zurnila Marli Kesuma - 196903061994122001 - Dosen Pembimbing I
Latifah Rahayu Siregar - 198409282015042002 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

2208108010057

Fakultas & Prodi

Fakultas MIPA / Statistika (S1) / PDDIKTI : 49201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas MIPA Statistika., 2026

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang hingga kini masih menjadi penyebab kematian utama di dunia. Di Indonesia, khususnya Provinsi Aceh, jumlah kasus TB menunjukkan tren peningkatan sepanjang periode 2015 hingga 2024, meskipun terdapat fluktuasi pada beberapa tahun. Perbedaan karakteristik geografis dan demografis antarwilayah menyebabkan distribusi kasus TB tidak merata secara spasial, sehingga diperlukan pendekatan analisis yang mampu mengidentifikasi pola pengelompokan kasus. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jumlah dan lokasi klaster utama kasus TB serta menganalisis tingkat risiko relatif pada 23 kabupaten/kota di Provinsi Aceh menggunakan metode Flexible Spatial Scan Statistic (FleXScan). Data yang digunakan merupakan data sekunder berupa jumlah kasus TB dan jumlah penduduk yang bersumber dari Profil Kesehatan Provinsi Aceh dan Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh periode 2015 hingga 2024. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai K optimal adalah K=10. Pada setiap tahun pengamatan, teridentifikasi satu klaster utama (Most Likely Cluster) yang signifikan secara statistik (p-value < 0,05). Kota Banda Aceh menjadi klaster utama pada tahun 2015, 2016, 2017, 2019, 2022, 2023, dan 2024, sedangkan Kota Lhokseumawe muncul sebagai klaster utama pada tahun 2018, 2020, dan 2021. Pada tahun 2018 dan 2020, klaster utama meluas mencakup beberapa kabupaten/kota yang berdekatan secara spasial. Nilai risiko relatif Kota Banda Aceh berada pada rentang 1,318 hingga 2,755 sementara Kota Lhokseumawe berada pada rentang 1,466 hingga 2,506, hal ini menunjukkan bahwa kedua wilayah tersebut memiliki variasi tingkat risiko kategori sedang hingga sangat tinggi.

Tuberculosis (TB) is an infectious disease that remains one of the leading causes of death worldwide. In Indonesia, particularly in Aceh Province, the number of TB cases has increased from 2015 to 2024, with fluctuations in some years. Differences in geographic and demographic characteristics between regions result in an uneven spatial distribution of TB cases, necessitating an analytical approach capable of identifying case clustering patterns. This study aims to identify the number and location of primary TB clusters and to analyze relative risk levels across 23 districts/cities in Aceh Province using the Flexible Spatial Scan Statistic (FleXScan) method. The data used consists of secondary data on the number of TB cases and population size, sourced from the Aceh Provincial Health Profile and the Central Statistics Agency of Aceh Province for the period 2015–2024. The analysis results indicate that the optimal K value is K = 10. In each year of observation, one main cluster (Most Likely Cluster) was identified as statistically significant (p-value < 0.05). Banda Aceh City was predominantly the most likely cluster in 2015, 2016, 2017, 2019, 2022, 2023, and 2024, while Lhokseumawe City became the most likely cluster in 2018, 2020, and 2021. In 2018 and 2020, the most likely cluster expanded to include several spatially adjacent districts/cities. The relative risk values of Banda Aceh City range from 1.318 to 2.755, while those of Lhokseumawe City range from 1.466 to 2.506, indicating that both regions exhibit risk level variations from the moderate to very high categories.

Citation



    SERVICES DESK