ANALISIS PENDAPATAN DAN EFISIENSI SALURAN PEMASARAN BAWANG MERAH DI KECAMATAN SIMPANG TIGA, KABUPATEN PIDIE | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

ANALISIS PENDAPATAN DAN EFISIENSI SALURAN PEMASARAN BAWANG MERAH DI KECAMATAN SIMPANG TIGA, KABUPATEN PIDIE


Pengarang

AMNA MAULIDA - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Monalisa - 197702022008122001 - Dosen Pembimbing I
Mustafa - 196112311987021008 - Dosen Pembimbing I



Nomor Pokok Mahasiswa

2205102010017

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Agribisnis (S1) / PDDIKTI : 54201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Pertanian., 2026

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Kabupaten Pidie, khususnya Kecamatan Simpang Tiga, merupakan salah satu daerah dengan sentra produksi bawang yang paling besar yang berada di Provinsi Aceh. Walupan Kecamatan Simpang Tiga banyak memeproduksi bawang merah, ada beberapa masalah yang muncul di kalangan petani yaitu seperti fluktuasi harga bawang merah. diketahui bahwa harga bawang merah di Kabupaten Pidie mengalami pergerakan yang berfluktuasi dengan kisaran harga rata-rata berada antara Rp27.000 hingga Rp38.000 per kilogram. Fluktuasi ini mencerminkan dinamika pasar yang cukup tinggi, di mana ketidakstabilan harga secara langsung berdampak terhadap tingkat pendapatan dan kesejahteraan petani bawang merah di wilayah tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan usahatani dan efisiensi saluran pemasaran bawang merah di Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie. Penelitian dilaksanakan di empat desa yaitu Desa Curucok Sagoe, Pulo Raya, Pulo Blang, dan Linggo Sagoe dengan jumlah responden sebanyak 81 petani. Data yang digunakan terdiri dari data primer dan sekunder, kemudian dianalisis menggunakan analisis pendapatan, R/C ratio, Break Even Point (BEP), Return on Investment (ROI), serta analisis pemasaran yang meliputi margin pemasaran, farmer’s share, dan efisiensi pemasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani bawang merah di Kecamatan Simpang Tiga tergolong menguntungkan dan layak diusahakan dengan pendapatan bersih sebesar Rp 238.356.000 per musim tanam, nilai R/C ratio sebesar 4,00 BEP yang menunjukkan kondisi produksi dan harga berada di atas titik impas, serta ROI sebesar 300%. Selain itu, terdapat dua saluran pemasaran yang digunakan, yaitu saluran tipe I dan tipe II. Berdasarkan hasil analisis efisiensi pemasaran, saluran pemasaran tipe I dan tipe II sama-sama efisien karena pada saluran tipe I lebih para Lembaga menjual bawang merah ke berbagai daerah sehingga biaya distribusi sedikit lebih besar, sedangkan untuk saluran II ini hanya menjual bawang merah di daerah simpang tiga. lebih efisien dibandingkan saluran pemasaran tipe I. Untuk farme’s share pada saluran tipe I petani mendapatkan keuntungan sebesar 70% sedangkan untuk tipe II petani mendapatkan 80%, hal ini juga di sebabkan jauh dekatnya oleh bawang merah di jual karena makin jauh maka untuk biaya distribusi akan makin mahal.

Pidie Regency, specifically Simpang Tiga District, is one of the major shallot production centers in Aceh Province. Although Simpang Tiga District is a significant producer of shallots, farmers face several challenges, notably price fluctuations. Shallot prices in Pidie Regency are known to fluctuate, with an average range of Rp27,000 to Rp38,000 per kilogram. These fluctuations reflect significant market dynamics, where price instability directly impacts the income and welfare of shallot farmers in the area. This study aims to analyze farming income and the efficiency of shallot marketing channels in Simpang Tiga District, Pidie Regency. The research was conducted in four villages Curucok Sagoe, Pulo Raya, Pulo Blang, and Linggo Sagoe involving 81 farmer respondents. The study utilized both primary and secondary data, which were analyzed using income analysis, the R/C ratio, Break-Even Point (BEP), Return on Investment (ROI), and marketing analysis (covering marketing margins, farmer’s share, and marketing efficiency). The results indicate that shallot farming in Simpang Tiga District is profitable and viable, yielding a net income of Rp238,356,000 per planting season, an R/C ratio of 4.00, a BEP status indicating production and price levels above the break-even point, and an ROI of 300%. Additionally, two marketing channels were identified: Type I and Type II. Based on the marketing efficiency analysis, both Type I and Type II marketing channels are efficient; however, Type II is more efficient than Type I. In Type I channels, intermediaries sell shallots to various regions resulting in slightly higher distribution costs whereas in Type II channels, sales are limited to the Simpang Tiga area. Regarding the farmer's share, farmers receive 70% in Type I channels and 80% in Type II channels; this difference is attributed to the distance to the sales location, as distribution costs increase with greater distance.

Citation



    SERVICES DESK