ANALISIS SEMIOTIKA MAKNA KEKUASAAN DAN KEADILAN HUKUM PADA NOVEL | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

ANALISIS SEMIOTIKA MAKNA KEKUASAAN DAN KEADILAN HUKUM PADA NOVEL


Pengarang

DHAFIRA MUMTAZA - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Hamdani M. Syam - 197808162008011012 - Dosen Pembimbing I



Nomor Pokok Mahasiswa

2210102010096

Fakultas & Prodi

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Ilmu Komunikasi(S1) / PDDIKTI : 70201

Penerbit

Banda Aceh : Prodi Ilmu Komunikasi., 2026

Bahasa

Indonesia

No Classification

302.2

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Novel tidak hanya sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai media representasi realitas sosial yang mampu menyampaikan pesan, nilai, serta kritik terhadap fenomena kekuasaan dan keadilan hukum dalam masyarakat. Penelitian ini menggunakan Novel “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” karya Tere Liye yang menceritakan tentang sebuah perusahaan tambang besar, apakah perusahaan tersebut tetap boleh melanjutkan usaha pertambangannya atau tidak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam bagaimana representasi kekuasaan dan keadilan hukum di dalam novel “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” karya Tere Liye. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian semiotika Charles Sanders Peirce yang meliputi tiga unsur, yaitu tanda, objek, dan interpretan. Korpus penelitian terdiri dari 50 data berupa kutipan dialog, tindakan tokoh, dan peristiwa dalam novel yang mengandung unsur kekuasaan dan keadilan hukum, yang kemudian diseleksi menjadi 8 data paling representatif melalui teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuasaan dalam novel direpresentasikan melalui hubungan yang erat antara kekuasaan politik dan ekonomi. Kekuasaan politik tampak dari kemampuan aktor dalam mengendalikan kebijakan dan proses pengambilan keputusan, sedangkan kekuasaan ekonomi terlihat dari penguasaan modal dan sumber daya yang digunakan untuk memengaruhi hasil keputusan tersebut. Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa keadilan hukum dalam novel cenderung bersifat diskriminatif, di mana proses penegakan hukum tidak berjalan secara netral, melainkan dipengaruhi oleh kepentingan pihak yang memiliki kekuasaan dan kekuatan ekonomi. Dengan demikian, novel ini tidak hanya berfungsi sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai media kritik sosial terhadap praktik kekuasaan politik, dominasi ekonomi, serta lemahnya keadilan hukum di masyarakat.
Kata Kunci: Semiotika Charles Sanders Pierce, Novel, Kekuasaan, Keadilan

ABSTRACT Novels are not only literary works, but also serve as a medium for representing social reality that conveys messages, values, and critiques of the phenomena of power and legal justice in society. This study uses the novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar by Tere Liye, which tells the story of whether a large mining company should be allowed to continue its mining operations. This research aims to examine more deeply how power and legal justice are represented in the novel. This study employs a qualitative approach using Semiotics, specifically the semiotic analysis of Charles Sanders Peirce, which consists of three elements: sign, object, and interpretant. The research corpus consists of 50 data points in the form of dialogue excerpts, character actions, and events in the novel that contain elements of power and legal justice, which were then reduced to 8 of the most representative data through purposive sampling. The results show that power in the novel is represented through the close relationship between political and economic power. Political power is reflected in the actors’ ability to control policies and decision-making processes, while economic power is seen in the control of capital and resources used to influence these decisions. In addition, this study finds that legal justice in the novel tends to be discriminatory, where law enforcement does not operate neutrally but is influenced by the interests of those who possess power and economic strength. Thus, the novel functions not only as a literary work but also as a medium of social critique toward political power practices, economic domination, and the weakness of legal justice in society. Keywords: Charles Sanders Peirce Semiotics, Novel, Power, Justice

Citation



    SERVICES DESK