ANALISIS PERUBAHAN TUTUPAN MANGROVE SEBELUM DAN SETELAH TSUNAMI DI KABUPATEN ACEH JAYA | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

ANALISIS PERUBAHAN TUTUPAN MANGROVE SEBELUM DAN SETELAH TSUNAMI DI KABUPATEN ACEH JAYA


Pengarang

RIFKI ADITIA - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Sugianto - 196502231992031003 - Dosen Pembimbing I
Ali M. Muslih - 198910282019031018 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

2105110010038

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Kehutanan (S1) / PDDIKTI : 54251

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : .,

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir yang memiliki peranan penting
dalam menjaga keseimbangan lingkungan, seperti melindungi pantai dari abrasi, menjadi
habitat berbagai biota, serta berfungsi sebagai penyerap karbon. Namun ekosistem mangrove
sangat rentan terhadap gangguan alam maupun aktivitas manusia. Tsunami Aceh tahun 2004
menyebabkan kerusakan besar pada wilayah pesisir, termasuk ekosistem mangrove di
Kabupaten Aceh Jaya. Peristiwa tersebut mengakibatkan perubahan tutupan lahan pesisir
seperti hilangnya vegetasi mangrove serta meningkatnya badan air dan lahan terbuka. Oleh
karena itu, analisis perubahan tutupan lahan dan sebaran mangrove perlu dilakukan untuk
mengetahui dampak tsunami serta perkembangan ekosistem mangrove di wilayah pesisir
Kabupaten Aceh Jaya. Penelitian ini memanfaatkan citra satelit tahun 2004, 2005, 2015, dan
2025 yang kemudian diklasifikasikan secara terbimbing dengan menggunakan metode
Maximum Likehood Classification (MLC). Tahapan penelitian meliputi pengolahan citra,
klasifikasi tutupan lahan, analisis perubahan tutupan mangrove, serta analisis sebaran
mangrove pada tingkat kecamatan. Uji akurasi dilakukan menggunakan metode error matrix
dengan membandingkan hasil klasifikasi citra dengan data lapangan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa tutupan lahan di Kabupaten Aceh Jaya mengalami perubahan yang
signifikan setelah tsunami 2004. Pada tahun 2004, tutupan lahan didominasi oleh mangrove
seluas 215,86 hektar, diikuti badan air 43,94 hektar, lahan terbuka 23,11 hektar, sawah 9,18
hektar, dan tambak 2,22 hektar. Setelah tsunami pada tahun 2005, luas mangrove menurun
drastis menjadi sekitar 7,45 hektar, sementara badan air meningkat secara signifikan menjadi
239,74 hektar dan lahan terbuka 47,11. Kelas sawah dan tambak tidak terindetifikasi pada
tahun ini. Tahun 2015 menunjukkan pemulihan dengan mangrove kembali mendominasi
dengan luasan 141,34 hektar sementara tambak kembali muncul dengan luasan yang paling
kecil yaitu 3,38 hektar. Pada tahun 2025 mangrove kembali mendominasi dengan luasan
211,52 hektar dan tambak tetap menjadi kelas paling sedikit yaitu 1,55 hektar. Peningkatan
mangrove setelah 2005 terjadi karena dukungan rehabilitasi dan penanaman kembali
sehingga kondisi ekosistem pesisir semakin stabil. Berdasarkan analisis sebaran mangrove
di Kabupaten Aceh Jaya tahun 2004 - 2025, pada tahun 2004 sebaran terluas berada di
Kecamatan Setia Bakti 94,56 hektar dan terkecil di Teunom 0,18 hektar. Tahun 2005, luasan
terbesar tersisa di Krueng Sabee 6,50 hektar dan terkecil di Indra Jaya 0,02 hektar. Tahun
2015, Setia Bakti kembali menjadi yang terluas 64,32 hektar dan Darul Hikmah yang terkecil
0,02 hektar. Pada tahun 2025, Setia Bakti tetap terluas 88,75 hektar dan Krueng Sabee
terkecil 0,57 hektar. Pemulihan dan peningkatan kembali luasan mangrove dilakukan
melalui rehabilitasi dan penanaman kembali. Hasil uji akurasi klasifikasi menunjukkan
overall accuracy sebesar 92,67% dengan nilai kappa sebesar 85,84%, yang menunjukkan
bahwa hasil klasifikasi memiliki tingkat ketelitian yang tinggi dan dapat digunakan untuk
analisis perubahan mangrove di Kabupaten Aceh Jaya.

The mangrove ecosystem is one of the coastal ecosystems that plays an important role in maintaining environmental balance, such as protecting coastlines from abrasion, providing habitat for various biota, and functioning as a carbon sink. However, mangrove ecosystems are highly vulnerable to both natural disturbances and human activities. The 2004 Aceh tsunami caused extensive damage to coastal areas, including mangrove ecosystems in Aceh Jaya Regency. This event led to changes in coastal land cover, such as the loss of mangrove vegetation and an increase in water bodies and open land. Therefore, an analysis of land cover changes and mangrove distribution is necessary to understand the impact of the tsunami as well as the development of mangrove ecosystems in the coastal area of Aceh Jaya Regency. This study utilizes satellite imagery from 2004, 2005, 2015, and 2025, which were then classified using a supervised classification method, namely Maximum Likelihood Classification (MLC). The research stages include image processing, land cover classification, analysis of mangrove cover changes, and analysis of mangrove distribution at the sub-district level. Accuracy assessment was conducted using the error matrix method by comparing classification results with field data. The results show that land cover in Aceh Jaya Regency experienced significant changes after the 2004 tsunami. In 2004, land cover was dominated by mangroves covering 215.86 hectares, followed by water bodies at 43.94 hectares, open land at 23.11 hectares, rice fields at 9.18 hectares, and ponds at 2.22 hectares. After the tsunami in 2005, mangrove area decreased drastically to about 7.45 hectares, while water bodies increased significantly to 239.74 hectares and open land to 47.11 hectares. Rice fields and ponds were not identified in that year. In 2015, recovery was observed, with mangroves again dominating at 141.34 hectares, while ponds reappeared with the smallest area of 3.38 hectares. In 2025, mangroves once again dominated with an area of 211.52 hectares, while ponds remained the smallest class at 1.55 hectares. The increase in mangroves after 2005 occurred due to rehabilitation efforts and replanting, leading to more stable coastal ecosystem conditions. Based on the analysis of mangrove distribution in Aceh Jaya Regency from 2004 to 2025, in 2004 the largest distribution was in Setia Bakti Sub-district at 94.56 hectares and the smallest in Teunom at 0.18 hectares. In 2005, the largest remaining area was in Krueng Sabee at 6.50 hectares and the smallest in Indra Jaya at 0.02 hectares. In 2015, Setia Bakti again had the largest area at 64.32 hectares, while Darul Hikmah had the smallest at 0.02 hectares. In 2025, Setia Bakti remained the largest at 88.75 hectares, and Krueng Sabee the smallest at 0.57 hectares. The recovery and increase in mangrove area were achieved through rehabilitation and replanting efforts. The classification accuracy test results show an overall accuracy of 92.67% with a kappa value of 85.84%, indicating that the classification results have a high level of accuracy and can be reliably used for analyzing mangrove changes in Aceh Jaya Regency.

Citation



    SERVICES DESK