BIOGRAFI MEDYA HUS: SENIMAN TRADISI SENI TUTUR ACEH | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

BIOGRAFI MEDYA HUS: SENIMAN TRADISI SENI TUTUR ACEH


Pengarang

FARA MUHIJJAH - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Drs. Mawardi, M.Hum., - 196803281993031001 - - - Dosen Pembimbing I
T. Bahagia Kesuma - 198906262019031014 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

2106101020003

Fakultas & Prodi

Fakultas KIP / Pendidikan Sejarah (S1) / PDDIKTI : 87201

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas KIP Sejarah., 2026

Bahasa

Indonesia

No Classification

920

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

ABSTRAK

Fara Muhijjah. (2025). Biografi Medya Hus: Seniman Tradisi Seni Tutur Aceh. [Skripsi. Universitas Syiah Kuala]. Di bawah bimbingan Drs. Mawardi, M.Hum., M.A., dan T. Bahagia Kesuma, S.Pd., M.Pd.
Penelitian ini berjudul “Biografi Medya Hus: Seniman Tradisi Seni Tutur Aceh”, yang bertujuan untuk: (1) Menguraikan latar belakang kehidupan Medya Hus. (2) Menjabarkan perjalanan hidup dan karier Medya Hus secara runtut sebagai seniman tutur Aceh. (3) Mengidentifikasi dan menjelaskan kontribusi Medya Hus sebagai seniman tutur Aceh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode sejarah yang bersifat deskriptif. Adapun teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara studi pustaka dan wawancara. Hasil penelitian ini adalah:
(1) Medya Hus lahir di Desa Mon Mata wilayah perbukitan yang kehidupan sosial agama masyarakat diselingi dengan budaya tradisi lisan, adat-istiadat Islami sebagai media edukasi, serta hiburan (seperti hikayat, seumapa, meudikee, rapa’i, dan lainnya). Bakat sekaligus jiwa seni Medya Hus berasal dari ayah dan kakeknya, yang merupakan seniman rapa’i. Ayahnya adalah guru pertamanya, sementara itu, ibunya juga mengetahui beberapa hikayat Aceh ditunjukkan sejak ia kecil, peran orang tuanya membangkitkan ketertarikan awal pada seni tutur. (2) Setelah lulus sekolah SMA pada tahun 1983 ia melanjutkan pendidikan seni tutur kepada Syekh Rih Krueng Raya, Syekh Mud Jeureula, Tgk Utsman Geudong Pasee, Tgk Wahab Amin, dan Tgk Ja’far Jeunib, hingga menguasai berbagai kesenian seni tutur Aceh. Medya Hus memulai karier seniman tutur pada tahun 1988 di Calang dan sekitarnya, kepeduliannya terhadap pelestarian seni tutur mendorongnya untuk beradaptasi melalui transisi medium: dari panggung beralih ke media cetak, tercatat pada tahun 2023 ia telah membukukan 33 karya tulis, dilanjutkan dengan media rekam (kaset dan VCD), melalui siaran televisi, hingga ke platform digital YouTube, Facebook, Instagram, X, dan TikTok. Kedisiplinanya membuahkan berbagai penghargaan, pekerjaan, dan royalti. (3) Kontribusi Medya Hus dalam pelestarian diwujudkan melalui pendirian grup Seueng Samlakoe pada tahun 1980 di Mon Mata, dan karya seni tuturnya bermacam bidang, menunjukkan keseriusannya mewadahi generasi muda untuk melestarikan seni tutur Aceh. Medya Hus menegaskan pentingnya mempertahankan seni tutur Aceh dalam berbagai lembaga (pendidikan, pemerintahan, atau festival budaya) sebagai upaya menjaga identitas bangsa Aceh.

Kata Kunci: Seniman, Tradisi, Seni Tutur Aceh, Medya Hus.

ABSTRACT Fara Muhijjah. (2025). Biography of Medya Hus: Artist of Acehnese Oral Tradition Art. [Undergraduate Thesis. Syiah Kuala University]. Supervised by Drs. Mawardi, M.Hum., M.A., and T. Bahagia Kesuma, S.Pd., M.Pd. This study entitled “Biography of Medya Hus: Artist of Acehnese Oral Tradition Art,” utilizes a qualitative approach with a descriptive historical method to: (1) describe the background of Medya Hus’s life; (2) elaborate sequentially on his life journey and career as an Acehnese oral artist; and (3) identify and explain his major contributions to the art form. Data collection was conducted through literature study and interviews. The findings are as follows: (1) Background: Medya Hus was born in Mon Mata Village, a hilly region where social and religious life is frequently interspersed with the local oral tradition and Islamic customs (such as hikayat, seumapa, meudikee, and rapa’i) used for education and entertainment. His talent was inherited from his simple artist family, particularly his grandfather and father, who were rapa’i artists. His father served as his first teacher, and his mother’s knowledge of Acehnese hikayat further nurtured his initial interest. (2) Career and Learning: After graduating from high school in 1983, he pursued intensive oral art education under renowned figures including Syekh Rih Krueng Raya, Syekh Mud Jeureula, Tgk Utsman Geudong Pasee, Tgk Wahab Amin, and Tgk Ja’far Jeunib, enabling him to master diverse forms of Acehnese oral art. Medya Hus began his career in 1988 in Calang. His dedication to preservation drove him to radically adapt his medium: transitioning from the stage to print (publishing 33 works by 2023), recording media (cassettes/VCDs), television, and finally embracing digital platforms (YouTube, Facebook, TikTok). This discipline yielded various awards, employment, and royalties. (3) Contribution: His main contribution to preservation is demonstrated through the establishment of the Seueng Samlakoe group in 1980 in Mon Mata, and the creation of multi-genre oral art works. This work demonstrates his commitment to engaging the younger generation and affirming the importance of maintaining Acehnese oral art within various institutions (educational, governmental, or cultural) as a vital effort to safeguard the Acehnese national identity. Keywords: Artist, Tradition, Acehnese Oral Art, Medya Hus.

Citation



    SERVICES DESK