<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1714253">
 <titleInfo>
  <title>OPTIMASI PRODUKTIVITAS TANAH MELALUI MODEL TEKNIK KONSERVASI PADA LAHAN KEBUN SERAI WANGI RAKYAT DI DATARAN TINGGI GAYO</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Muhammad Nasir</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Prog. Studi Doktor Ilmu Pertanian</publisher>
   <dateIssued>2026</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Dissertation</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>RINGKASAN&#13;
&#13;
MUHAMMAD NASIR. Optimasi Produktivitas Tanah Melalui Model Teknik Konservasi pada Lahan Kebun Serai Wangi Rakyat di Dataran Tinggi Gayo, Dibawah Bimbingan Abubakar sebagai Promotor, Hairul Basri sebagai Ko-Promotor I dan Ichwana sebagai Ko-Promotor II.&#13;
&#13;
Sentral Serai wangi (Cymbopogon nardus L) Provinsi Aceh terdapat di Dataran Tinggi Gayo (Kabupaten Gayo Lues, Aceh Tengah dan Bener Meriah). Di Dataran Tinggi Gayo (DTG) Serai wangi dibudidayakan di wilayah perbukitan bahkan bertumpang sari dengan tegakan Pinus. Namun demikian di wilayah perbukitan yang ditanami Serai wangi ini produktivitas lahan mulai menurun sebagi akibat dari erosi dan degradasi lahan. Sebagai komoditas unggulan bernilai ekonomi tinggi, keberlanjutan budidaya Serai wangi perlu didukung oleh strategi konservasi tanah yang efektif dalam menekan kehilangan tanah sekaligus menjaga kesuburan tanah dan efisiensi pemanfaatan lahan.&#13;
Tujuan penelitian untuk (1) mengkaji kondisi eksisting dan pola pengembangan kebun Serai wangi, (2) mengevaluasi kesesuaian lahan, kualitas tanah, dan tingkat bahaya erosi, dan (3) menyusun model optimasi produktivitas tanah melalui penerapan teknik konservasi tanah dan air yang berkelanjutan.&#13;
Penelitian I menunjukkan bahwa kebun Serai wangi rakyat di Dataran Tinggi Gayo berkembang pada lingkungan biofisik yang sangat heterogen, mencakup 33 Satuan Peta Lahan (SPL) dengan ketinggian 400 hingga &gt;1.200 m dpl dan kelas lereng 0 hingga &gt;40%. Total luasan kebun mencapai 4.191,39 ha, dengan kontribusi terbesar berasal dari Kabupaten Gayo Lues (46,9%), diikuti Bener Meriah (28,2%) dan Aceh Tengah (24,9%). Sebagian besar kebun berada pada lereng 15–40%, bahkan &gt;40%, yang mengindikasikan bahwa pengembangan Serai wangi masih bersifat empiris dan belum sepenuhnya berbasis evaluasi kesesuaian lahan, sehingga berpotensi meningkatkan risiko degradasi tanah.&#13;
Penelitian II membuktikan bahwa secara iklim, wilayah penelitian tergolong sangat sesuai (S1) bagi Serai wangi, dengan curah hujan rata-rata 2.109 mm/tahun, ketinggian 1.010 m dpl, dan periode bulan kering 2–3 bulan. Namun demikian, kesesuaian lahan aktual didominasi oleh kelas cukup sesuai (S2) akibat pembatas utama berupa kemiringan lereng, kedalaman efektif tanah, drainase, dan ketersediaan fosfor. Nilai Indeks Kualitas Tanah (IKT) sebesar 0,84 menunjukkan bahwa kualitas tanah masih berada pada kategori tinggi. Prediksi erosi menggunakan model USLE menghasilkan kisaran erosi 0,06 hingga 1.220,88 ton/ha/tahun, yang menegaskan bahwa variasi pengelolaan lahan (faktor C dan P) lebih menentukan besarnya erosi dibandingkan faktor alami. Analisis kesesuaian lahan potensial menunjukkan bahwa sebagian besar faktor pembatas bersifat dapat diperbaiki, sehingga peningkatan kelas kesesuaian dari S2 menjadi S1 sangat memungkinkan melalui intervensi konservasi dan pengelolaan hara.&#13;
Penelitian III menunjukkan bahwa penerapan teknik konservasi tanah dan air secara terpadu mampu menurunkan aliran permukaan sebesar 75,0% dan erosi tanah sebesar 58,7% dibandingkan tanpa konservasi. Secara parsial, terasering merupakan teknik paling efektif dengan penurunan erosi 44,4%, diikuti jarak tanam rapat (17,2%) dan mulsa (9,5%). Model optimasi produktivitas tanah menunjukkan bahwa sistem konservasi terpadu mampu mempertahankan 84% produktivitas tanah potensial, jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi tanpa konservasi yang hanya mencapai 61%. Penerapan konservasi terbaik juga mampu mempertahankan kapasitas hara tanah sekitar 2,3% lebih tinggi dibandingkan kontrol.&#13;
Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa pengembangan kebun Serai wangi di Dataran Tinggi Gayo harus diarahkan berbasis kesesuaian lahan dan SPL, serta diintegrasikan dengan penerapan konservasi tanah dan air sebagai prasyarat utama. Model optimasi produktivitas tanah yang dihasilkan memberikan kontribusi ilmiah dan praktis sebagai dasar perencanaan pengelolaan kebun Serai wangi rakyat yang produktif, adaptif, dan berkelanjutan.&#13;
&#13;
Kata kunci: produktivitas tanah, konservasi lahan, serai wangi, erosi, Dataran Tinggi Gayo, USLE, optimasi.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1714253</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-04-16 15:31:19</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-04-16 15:40:38</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>