Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
KAJIAN MAKNA SYAIR BUDAYA ONANG-ONANG DALAM PROSESI ADAT PERNIKAHAN BATAK ANGKOLA
Pengarang
Dewi Fortuna Harahap - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Ismawan - 196808151995121002 - Dosen Pembimbing I
Ramdiana - 197609162006042001 - Dosen Pembimbing II
Tri Supadmi - 196702161993032002 - Penguji
Mukhsin Putra Hafid - 197607022006041001 - Penguji
Nomor Pokok Mahasiswa
2006102030029
Fakultas & Prodi
Fakultas KIP / Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik (S1) / PDDIKTI : 88209
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas KIP Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik (S1)., 2026
Bahasa
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
ABSTRAK
Dewi Fortuna Harahap. (2026). Kajian Makna Syair Budaya Onang-onang Dalam
Prosesi Adat Pernikahan Batak Angkola [Skripsi. Universitas Syiah Kuala].
Dibawah bimbingan Bapak Ismawan, S.Sn, M.Sn dan Ibu Ramdiana, S.Sn., M.Sn.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh semakin berkurangnya pemahaman
masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap makna syair Onang-onang dalam
prosesi adat pernikahan Batak Angkola akibat pengaruh modernisasi dan
pergeseran fungsi tradisi menjadi sekadar hiburan. Kondisi ini berpotensi
melemahkan nilai-nilai budaya, moral, dan identitas lokal yang terkandung dalam
tradisi lisan tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi dan mendeskripsikan makna denotatif, konotatif, dan mitos
dalam syair Onang-onang pada prosesi pernikahan adat Batak Angkola. Penelitian
ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan semiotika
Roland Barthes, melalui teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara
mendalam, dan dokumentasi, serta analisis data yang meliputi reduksi, penyajian,
dan verifikasi data dengan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa syair
Onang-onang mengandung makna denotatif berupa ungkapan penghormatan, doa,
dan nasihat kepada pengantin dan keluarga, makna konotatif yang
merepresentasikan nilai kesopanan, kebersamaan, tanggung jawab, dan
keharmonisan sosial, serta makna mitologis yang meneguhkan ideologi budaya
dan pandangan hidup masyarakat Batak Angkola dalam sistem Dalihan Na Tolu.
Syair Onang-onang juga berfungsi sebagai media pendidikan moral, pelestarian
tradisi, dan penguat identitas budaya. Berdasarkan temuan tersebut dapat
disimpulkan bahwa Onang-onang merupakan teks budaya yang memiliki peran
penting dalam menjaga nilai-nilai adat dan membentuk kesadaran sosial
masyarakat, sehingga tidak dapat dipandang hanya sebagai hiburan semata. Oleh
karena itu, disarankan agar masyarakat, tokoh adat, dan lembaga pendidikan lebih
aktif dalam melestarikan, mendokumentasikan, serta mengintegrasikan tradisi
Onang-onang dalam kegiatan budaya dan pembelajaran, guna menjaga
keberlanjutan warisan budaya Batak Angkola di tengah arus modernisasi.
Kata Kunci: Onang-onang, Tradisi Lisan, Semiotika Roland Barthes, Pernikahan
Adat Batak Angkola.
ABSTRACT Dewi Fortuna Harahap. (2026). A Study of the Meaning of Onang-onang Cultural Verses in the Traditional Wedding Ceremony of the Batak Angkola [Undergraduate Thesis, Syiah Kuala University]. Under direction of Ismawan, S.Sn., M.Sn and Ramdiana, S.Sn., M.Sn. This study is motivated by the decreasing public understanding, especially among the younger generation, of the meaning of Onang-onang verses in the traditional wedding ceremonies of the Batak Angkola community due to the influence of modernization and the shift in the function of tradition into mere entertainment. This condition has the potential to weaken the cultural, moral, and local identity values contained in this oral tradition. Therefore, this study aims to identify and describe the denotative, connotative, and mythical meanings found in Onangonang verses in the traditional wedding ceremonies of the Batak Angkola. This research employs a descriptive qualitative method with Roland Barthes‟ semiotic approach, using data collection techniques in the form of observation, in-depth interviews, and documentation, as well as data analysis procedures including data reduction, data presentation, and verification through triangulation. The results indicate that Onang-onang verses contain denotative meanings in the form of expressions of respect, prayers, and advice to the bride, groom, and their families; connotative meanings representing values of politeness, togetherness, responsibility, and social harmony; and mythical meanings that reinforce cultural ideology and the worldview of the Batak Angkola community within the Dalihan Na Tolu system. Onang-onang verses also function as a medium for moral education, cultural preservation, and the strengthening of cultural identity. Based on these findings, it can be concluded that Onang-onang is a cultural text that plays an important role in maintaining traditional values and shaping social awareness in society, and therefore cannot be regarded merely as entertainment. Accordingly, it is recommended that communities, traditional leaders, and educational institutions take a more active role in preserving, documenting, and integrating the Onang-onang tradition into cultural activities and learning processes in order to ensure the sustainability of Batak Angkola cultural heritage amid modernization. Keywords: Onang-onang, Oral Tradition, Roland Barthes Semiotics, Batak Angkola Traditional Wedding Ceremony.
MAKNA PENYAJIAN MUSIK GONDANG PADA PROSESI KEMATIAN MASYARAKAT BATAK TOBA DI KECAMATAN DOLOK MASIHUL KABUPATEN SERDANG BEDAGAI PROVINSI SUMATERA UTARA (TRIA OCKTARIZKA, 2015)
MAKNA SIMBOLIK ULOS DALAM PELAKSANAAN PERNIKAHAN MASYARAKAT BATAK TOBA DI BANDA ACEH (Ester Delima Sianturi, 2023)
KOMUNIKASI INTRABUDAYA PADA PROSESI ADAT PERNIKAHAN JAWA DI KECAMATAN GALANG KABUPATEN DELI SERDANG (Lathifa Maulani, 2023)
MAKNA SIMBOLIK LIMONG ANEUK REUNYEUN DALAM PROSESI PREH LINTO PADA ADAT PERKAWINAN DI DESA ALUE SUNGAI PINANG ACEH BARAT DAYA (NADIA RAHMI, 2025)
PERNIKAHAN LINTAS ETNIS DAN PERGESERAN PROSESI ADAT PERKAWINAN DALAM MASYARAKAT MELAYU DELI DI DESA PERCUT KECAMATAN PERCUT SEI TUAN KABUPATEN DELI SERDANG (Muhammad Syawali, 2017)