Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
KONSTRUKSI BUDAYA THRIFTING (FENOMENA MASYARAKAT DI PEUKAN KAMIS KAMPUNG BLANG SENTANG KABUPATEN BENER MERIAH)
Pengarang
SARMITA DIANA - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Fadlan Barakah - 199008092022031003 - Dosen Pembimbing I
Firdaus Mirza Nusuary - 198610162019031009 - Penguji
Dara Fatia, M.Sos - 199510312022032008 - Penguji
Nomor Pokok Mahasiswa
2210101010083
Fakultas & Prodi
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Sosiologi (S1) / PDDIKTI : 69201
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : FISIP Sosiologi., 2026
Bahasa
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
ABSTRAK
Penelitian ini menganalisis tentang kontruksi budaya thrifting (fenomena pada
masyarakat Kabupaten Bener Meriah di peukan kamis kampung Blang Sentang).
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengambarkan
konstruksi masyarakat terhadap budaya thrifting secara mendalam dan dalam
memperoleh data peneliti melakukan wawancara mendalam, observasi non
partisipan, dan studi pustaka serta sumber data diperoleh dari data primer dan
sekunder. Dengan menggunakan teori konstruksi sosial yang diperkenalkan oleh
Peter L. Berger dan Thomas Luckman dengan tiga tahapan yaitu eksternalisasi,
objektivikasi dan internalisasi. Tujuan dari penelitian ini adalah berusaha untuk
mendeskripsikan bagaimana konstruksi budaya thrifting pada masyarakat
Kabupaten Bener Meriah di peukan Kamis. Hasil dari penelitian ini menunjukkan
bahwa adanya pergeseran stigma Gen Z dan Generasi Milenial terhadap pakaian
thrift yang dipandang sebelah mata seiring dengan kemajuan teknologi menjadikan
praktik jual beli pakaian bekas ini diterima sebagai bagian dari tren fashion saat ini.
Harga yang terjangkau, kualitas pakaian, dan model pakaian yang unik menjadi
alasan mendasar (motif) dari kalangan Gen Z dan Gen Milenial melakukan thrifting.
Tahapan ekternaliasi pada kalangan Gen Z secara signifikan didorong oleh pesatnya
perkembangan media sosial yang terjadi saat anak muda berbagi pengalaman
berburu barang bekas sedangkan pada kalangan milenial proses ini dipengaruhi oleh
lingkungan sosial melalui interaksi antar individu. Tahapan objektivikasi yang
dihasilkan dari proses internalisasi menjadikan thrifting sebagai tren fashion yang
menjadi norma budaya yang membentuk habitus. Tahapam akhir internalisasi
diserap kembali menjadi kesadaran subjektif individu terhadap tren fashion dan
kesadaran terhadap budaya hemat yang terinternalisasi sebagai bagaian dari integral
kehidupan sehari-hari.
Kata Kunci: Konstruksi sosial, Budaya thrifting, Pakaian Bekas
ABSTRACT This research analyzes the construction of thrifting culture (a phenomenon in the people of Bener Meriah Regency in Peukan Kamis, Blang Sentang Village). This research uses a qualitative approach by describing society's construction of thrifting culture in depth and in obtaining data the researchers conducted in-depth interviews, non-participant observation, and literature studies and data sources obtained from primary and secondary data. Using social construction theory introduced by Peter L. Berger and Thomas Luckman with three stages, namely externalization, objectification and internalization. The aim of this research is to attempt to describe how thrifting culture is constructed in the people of Bener Meriah Regency in Peukan. The results of this study indicate that there has been a shift in the stigma of Gen Z and Millennials towards thrift clothing, which was previously looked down upon along with technological advances, making the practice of buying and selling used clothing accepted as part of the current fashion trend. Affordable prices, quality clothing, and unique clothing models are the basic reasons (motives) for Gen Z and Millennials to thrift. The externalization stage among Gen Z is significantly driven by the rapid development of social media that occurs when young people share their experiences hunting for secondhand goods, while among Millennials this process is influenced by the social environment through interactions between individuals. The objectification stage resulting from the internalization process makes thrifting a fashion trend that becomes a cultural norm that forms a habitus. The final stage of internalization is reabsorbed into the individual's subjective awareness of fashion trends and awareness of the culture of thrift that is internalized as an integral part of everyday life. Keywords: Social construction, thrifting culture, used clothes
SENI MUSIK TRADISIONAL TEGANING" DI KECAMATAN BUKIT KABUPATEN BENER MERIAH (1960-2004) (Irsyadi Mirwan, 2024)
EKSISTENSI TARI KUDA LUMPING PADA MASYARAKAT DIRNKABUPATEN BENER MERIAH (Afriana Arif, 2022)
KETAHANAN SOSIAL MASYARAKAT GAYO DALAM MEMPERTAHANKAN BUDAYA SUKUT PADA RESEPSI PERNIKAHAN (SUATU PENELITIAN DI KAMPUNG BALE REDELONG KECAMATAN BUKIT KABUPATEN BENER MERIAH) (Nursaadah, 2016)
INVENTARISASI JENIS-JENIS TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT DI KAWASAN KEBUN KOPI DESA BLANG PAKU KECAMATAN WIH PESAM KABUPATEN BENER MERIAH (Diana Puspita Sari, 2022)
LARANGAN PERKAWINAN SATU KAMPUNG DITINJAU DARI HUKUM POSITIF DI KECAMATAN BUKIT KEBUPATEN BENER MERIAH (Rina Damayanti, 2021)