<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1713693">
 <titleInfo>
  <title>HUBUNGAN VITAMIN D DAN INTERLEUKIN-20 DENGAN SKOR CHILD-PUGH PADA SIROSIS HATI AKIBAT VIRUS HEPATITIS B DAN C</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Santun Putri Siata</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Penyakit Dalam</publisher>
   <dateIssued>2026</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Theses</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Interleukin-20 (IL-20) dan vitamin D berperan dalam respons imun, inflamasi, dan &#13;
fibrogenesis pada penyakit hati kronik akibat infeksi virus hepatitis B dan C. Prognosis &#13;
sirosis hepatis umumnya dinilai menggunakan skor Child–Pugh, namun hubungan &#13;
kadar IL-20 dan vitamin D dengan skor tersebut masih belum jelas. Penelitian ini &#13;
bertujuan untuk menilai hubungan kadar IL-20 dan vitamin D 25-hidroksi [25(OH)D] &#13;
dengan skor Child–Pugh pada pasien sirosis hepatis akibat infeksi virus hepatitis. &#13;
Penelitian analitik observasional dengan desain cross-sectional dilakukan pada April–&#13;
Desember 2025 di RSUD Dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh. Sebanyak 30 pasien sirosis &#13;
hepatis direkrut secara purposive sampling. Kadar IL-20 dan vitamin D 25(OH) &#13;
diperiksa menggunakan metode ELISA, sedangkan keparahan sirosis dinilai dengan &#13;
skor Child–Pugh. Analisis dilakukan menggunakan uji Kruskal–Wallis. Rerata usia &#13;
subjek penelitian adalah 53,8±12,0 tahun, dengan dominasi pasien laki-laki. Mayoritas &#13;
pasien berada pada Child–Pugh kelas B (60,0%), diikuti kelas C (26,7%) dan kelas A &#13;
(13,3%). Median kadar vitamin D tergolong rendah dan menunjukkan kecenderungan &#13;
menurun seiring peningkatan skor Child–Pugh, namun tidak signifikan secara statistik &#13;
(p=0,222). Median kadar IL-20 cenderung meningkat pada derajat keparahan yang &#13;
lebih berat, tetapi perbedaan antar kelompok Child–Pugh juga tidak signifikan &#13;
(p=0,179). Selain itu, uji korelasi Spearman menunjukkan tidak terdapat hubunngan &#13;
antara kadar IL-20 dan vitamin D (r=0,250; p=0,182). Kesimpulannya, kadar vitamin &#13;
D cenderung menurun dan kadar IL-20 cenderung meningkat seiring bertambahnya &#13;
keparahan sirosis berdasarkan skor Child–Pugh, meskipun hubungan tersebut tidak &#13;
signifikan secara statistik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa vitamin D dan IL-&#13;
20 berpotensi mencerminkan perubahan imunologis dan metabolik pada sirosis hepatis, &#13;
namun peran keduanya sebagai penanda prognosis klinis memerlukan penelitian &#13;
lanjutan dengan ukuran sampel yang lebih besar.&#13;
Kata kunci: sirosis hepatis, interleukin-20, vitamin D, Child–Pugh, hepatitis virus.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1713693</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-04-13 10:56:21</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-04-13 11:07:29</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>