<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1713671">
 <titleInfo>
  <title>POLA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DENGAN METODE POINT PREVALENCE SURVEY (PPS) PADA BEBERAPA RUMAH SAKIT DI KOTA BANDA ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Marcellinus Triyuono Dairo</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Penyakit Dalam</publisher>
   <dateIssued>2026</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Theses</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Latar Belakang: Penggunaan antibiotik yang tidak rasional di rumah sakit merupakan salah satu faktor yang berkontribusi terhadap timbulnya resistensi antibiotik. Data mengenai pola penggunaan antibiotik di rumah sakit wilayah kota Banda Aceh, Indonesia masih terbatas.&#13;
Tujuan: Mengevaluasi prevalensi, pola, dan kualitas penggunaan antibiotik pada rumah sakit di kota Banda Aceh, Indonesia.&#13;
Metode: Penelitian observasional potong lintang multisenter dilakukan di lima rumah sakit pada Agustus–Desember 2025 menggunakan protokol Point Prevalence Survey (PPS) dari European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC). Data dikumpulkan dari rekam medis pasien rawat inap yang menerima antibiotik sistemik pada hari survei, selanjutnya dianalisis terkait pola distribusi penggunaan  antibiotik serta kualitas penggunaannya.&#13;
Hasil: Dari 1.029 pasien rawat inap, tercatat 528 diantaranya menerima antibiotik dengan prevalensi penggunaan sebesar 51,3% (95% CI: 48.3 – 54.4). Tercatat sebanyak 637 peresepan antibiotik dengan rerata pemberian 1,2 antibiotik perpasien. Sefalosporin generasi ketiga merupakan golongan antibiotik yang paling banyak digunakan (59,6%). Berdasarkan klasifikasi WHO AWaRe, antibiotik kelompok Watch mendominasi peresepan sebesar 76,6%. Ceftriaxone menjadi antibiotik yang paling banyak digunakan (48,5%) dibandingkan dengan antibiotik lain. Tingkat kepatuhan terhadap pedoman didapatkan sebesar 52,1% (95% CI: 48,2 – 55,9) dan didapatkan 246 (38,5%) peresepan antibiotik tanpa indikasi. Pemeriksaan kultur mikrobiologi hanya dilakukan pada 42 (8,0%) pasien dan didapatkan 50 sampel kultur dengan positive culture rate sebesar 54% yang didominasi pertumbuhan bakteri Staphylococcus spp. dan bakteri gram negatif.&#13;
Kesimpulan: Penggunaan antibiotik di rumah sakit kota Banda Aceh secara keseluruhan masih belum optimal, ditandai dengan tingginya ketergantungan akan antibiotik spektrum luas serta masih ditemukannya peresepan antibiotik yang tidak rasional.&#13;
&#13;
Kata kunci: penggunaan antibiotik; point prevalence survey; penatagunaan antimikroba; klasifikasi AWaRe; Banda Aceh&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1713671</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-04-13 10:13:12</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-04-13 10:16:09</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>