<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1713205">
 <titleInfo>
  <title>POLA KOMUNIKASI INTERPERSONAL ORANG TUA DALAM MENUNJANG KESEHATAN MENTAL REMAJA DI KOTA BANDA ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>CUT SITI FATHIMAH</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu Politik</publisher>
   <dateIssued>2026</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pola komunikasi interpersonal orang tua dalam menunjang kesehatan mental remaja di Kota Banda Aceh dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berdasarkan Attachment Theory oleh John Bowlby dan Mary Ainsworth serta konsep komunikasi interpersonal Devito yang meliputi keterbukaan, empati, dukungan, sikap positif, dan kesetaraan. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap tujuh informan yang terdiri dari tiga orang tua, tiga remaja berusia 17–20 tahun, dan seorang psikolog anak, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterbukaan orang tua mendorong remaja untuk lebih berani mengungkapkan perasaan tanpa takut dihakimi, empati membantu menurunkan stres dan kecemasan, dukungan emosional, moral, dan instrumental meningkatkan kepercayaan diri serta resiliensi, dan sikap positif melalui pujian serta apresiasi memperkuat harga diri remaja. Namun, indikator kesetaraan menjadi aspek komunikasi interpersonal yang paling sulit diterapkan oleh sebagian orang tua karena dipengaruhi oleh pola asuh tradisional, keterbatasan waktu, serta budaya keluarga yang masih bersifat otoritatif, sehingga pelibatan remaja dalam pengambilan keputusan belum optimal. Kesimpulannya, pola komunikasi interpersonal yang sehat berperan penting dalam menjaga kesehatan mental remaja, meskipun masih diperlukan upaya peningkatan terutama dalam membangun komunikasi yang lebih setara antara orang tua dan anak.&#13;
Kata Kunci: Komunikasi Interpersonal, Kesehatan Mental, Remaja, Orang Tua, Pola Asuh</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>TEENAGERS</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>INTERPERSONAL COMMUNICATION - PSYCHOLOGY</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>MENTAL HEALTH PERSONNEL</topic>
 </subject>
 <classification>153.6</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1713205</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-04-06 20:36:08</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-04-07 10:26:44</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>