<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1713175">
 <titleInfo>
  <title>ANALISIS CAKUPAN PELAYANAN RUTE ANGKUTAN UMUM DENGAN JALUR EVAKUASI TSUNAMI DI KECAMATAN MEURAXA KOTA BANDA ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>MUNADI</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Teknik Sipil</publisher>
   <dateIssued>2026</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Kota Banda Aceh merupakan salah satu wilayah dengan tingkat kerawanan bencana tsunami yang tinggi. Oleh karena itu, masyarakat dan pemerintah di kawasan rawan tsunami perlu meningkatkan kesadaran serta kesiapsiagaan melalui pemahaman risiko bencana dan pemanfaatan fasilitas pendukung evakuasi. Dalam konteks tersebut, angkutan umum memiliki potensi sebagai moda pendukung evakuasi massal. Trans Koetaradja sebagai sistem transportasi Bus Rapid Transit (BRT) yang beroperasi sejak tahun 2016 di Kota Banda Aceh memiliki beberapa koridor utama yang melintasi pusat kota hingga kawasan pesisir. Namun demikian, tingkat cakupan pelayanan rute Trans Koetaradja terhadap jaringan rute evakuasi tsunami yang telah ditetapkan pemerintah masih belum banyak dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis cakupan pelayanan rute angkutan umum terhadap rute evakuasi tsunami berdasarkan empat indikator utama, yaitu cakupan pelayanan rute, cakupan wilayah layanan, kapasitas evakuasi, dan waktu tempuh evakuasi. Metode penelitian yang digunakan meliputi survei lapangan untuk mengidentifikasi rute evakuasi dan trayek angkutan umum, analisis catchment area, perhitungan kapasitas angkutan umum, serta analisis waktu tempuh evakuasi. Pengumpulan data dilakukan melalui survei on board dan observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 19 ruas jalan yang dilalui angkutan umum, sebanyak 11 ruas jalan (57,9%) sesuai dengan rute evakuasi tsunami, sedangkan 8 ruas jalan (42,1%) tidak sesuai. Berdasarkan cakupan wilayah layanan, kawasan yang terlayani didominasi oleh wilayah pesisir, di mana 13 dari 16 desa di Kecamatan Meuraxa telah terlayani oleh rute angkutan umum, sementara 3 desa lainnya belum optimal untuk evakuasi menggunakan moda angkutan umum. Waktu tempuh angkutan umum menuju escape building berada pada kisaran 2-6 menit, sehingga secara teoritis angkutan umum dapat dimanfaatkan dalam proses evakuasi tsunami.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1713175</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-04-06 14:11:21</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-04-06 15:01:08</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>