<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1712885">
 <titleInfo>
  <title></title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>FAZIA NARISA</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>MIPA-STATISTIKA</publisher>
   <dateIssued>2026</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Kesejahteraan yang tidak merata dan tingginya laju deforestasi merupakan dua permasalahan kompleks yang saling terkait di Pulau Sumatra. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kinerja tiga metode clustering, yaitu K-Means, Fuzzy C-Means (FCM), dan Gaussian Mixture Model (GMM) dalam mengelompokkan 154 kabupaten/kota di Pulau Sumatra berdasarkan indikator kesejahteraan dan menganalisis keterkaitan hasil pengelompokan tersebut dengan luas deforestasi. Penelitian ini menggunakan data indikator kesejahteraan dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan data deforestasi dari Global Forest Watch (GFW) tahun 2024. Untuk itu, digunakan delapan variabel indikator kesejahteraan dan variabel luas deforestasi. Adapun metrik evaluasi yang digunakan yaitu, Davies-Bouldin Index (DBI), index connectivity, C indeks, Dunn Index, Calinski-Harabasz Indeks dan Sum of Square Between Cluster. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode FCM dengan dua cluster optimal (K=2) merupakan metode terbaik, yang ditunjukkan dari nilai connectivity terendah (41,142), Indeks-C terendah (0,179), nilai Dunn Index tertinggi (0,113) dan nilai SSBC tertinggi (463,689). Hasil yang diperoleh dari pengelompokan FCM memperoleh dua cluster, yaitu cluster 0 dengan 53 kabupaten/kota yang merepresentasikan wilayah dengan kesejahteraan tinggi dan cluster 1 sebanyak 101 kabupaten/kota yang merepresentasikan wilayah dengan kesejahteraan rendah. Analisis korelasi Spearman dan Kendall’s Tau menunjukkan hubungan negatif yang signifikan secara konsisten antara tingkat kesejahteraan dan luas deforestasi. Hal ini mengindikasikan bahwa wilayah dengan kesejahteraan tinggi cenderung memiliki luas deforestasi yang rendah dan sebaliknya, wilayah dengan kesejahteraan yang rendah cenderung memiliki luas deforestasi yang tinggi. Temuan ini dapat menjadi dasar pemerintah dalam merumuskan kebijakan pembangunan berkelanjutan yang memperhatikan kesejahteraan dan lingkungan.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1712885</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-03-12 10:57:53</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-03-12 11:11:54</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>