<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1712785">
 <titleInfo>
  <title>IDENTIFIKASI POTENSI AIR TANAH MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK 2-D DI DESA MON IKEUN, ACEH BESAR</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Muhammad Rijalul Ihsan</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas MIPA (S1)</publisher>
   <dateIssued>2026</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi air tanah di Desa Mon Ikeun menggunakan metode geolistrik resistivitas dua dimensi dengan konfigurasi Wenner–Schlumberger. Pengukuran dilakukan pada dua lintasan dengan panjang masing-masing 420 meter dan jarak antar elektroda 20 meter. Data resistivitas semu yang diperoleh diolah menggunakan perangkat lunak RES2DINV melalui proses inversi untuk menghasilkan model resistivitas bawah permukaan dua dimensi. Hasil inversi menunjukkan nilai RMS error sekitar 20,9% pada lintasan pertama dan 21,5% pada lintasan kedua yang masih dapat diterima untuk interpretasi kualitatif pada daerah karst yang bersifat heterogen dan kompleks. Penampang resistivitas memperlihatkan variasi nilai resistivitas antara 4 Ωm hingga lebih dari 1000 Ωm. Zona resistivitas rendah hingga menengah kurang dari 30 sampai 200 Ωm diinterpretasikan sebagai lapisan pasir dan kerikil jenuh air yang berkembang pada kedalaman sekitar 5 hingga 35 meter dan berperan sebagai akuifer dangkal hingga menengah. Pada lintasan pertama zona akuifer berkembang relatif kontinu sedangkan pada lintasan kedua muncul sebagai lensa-lensa tidak kontinu pada kedalaman sekitar 15 - 45 meter yang mencirikan sistem akuifer karst terkontrol oleh rekahan dan saluran pelarutan. Zona resistivitas tinggi lebih dari 500 Ωm diinterpretasikan sebagai batu gamping relatif kompak yang berfungsi sebagai batuan dasar dan umumnya kurang potensial sebagai akuifer regional namun masih memungkinkan terbentuknya akuifer lokal pada zona rekahan. Berdasarkan hasil interpretasi zona berpotensi akuifer tinggi direkomendasikan sebagai target pengeboran dengan kedalaman optimal sekitar 25 hingga 40 meter.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>GROUNDWATER</topic>
 </subject>
 <classification>553.79</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1712785</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-03-09 15:50:04</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-03-10 09:33:55</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>