<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1712019">
 <titleInfo>
  <title>TATA KELOLA KELEMBAGAAN BALAI BAHASA DALAM PELESTARIAN DAN REVITALISASI BAHASA ACEH:</title>
  <subTitle>PERSPEKTIF TEORI INSTITUSIONAL</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Fitrah Maulana</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2026</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Bahasa Aceh saat ini menghadapi ancaman pergeseran bahasa yang semakin serius akibat dominasi bahasa Indonesia dan bahasa asing. Kondisi tersebut menempatkan Bahasa Aceh pada tingkat vitalitas terancam punah apabila tidak disertai dengan upaya pelestarian yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tata kelola kelembagaan Balai Bahasa Provinsi Aceh dalam pelestarian dan revitalisasi Bahasa Aceh serta mengidentifikasi hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan Teori Institusional W. Richard Scott yang meliputi pilar regulatif, normatif, dan kulturalkognitif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata kelola Balai Bahasa Provinsi Aceh telah dijalankan melalui ketiga pilar institusional. Pada pilar regulatif, pelaksanaan program berlandaskan mandat peraturan perundang-undangan dan kepatuhan terhadap Petunjuk Teknis Revitalisasi Bahasa Daerah. Pada pilar normatif, Balai Bahasa membangun standar profesionalisme melalui pelatihan Guru Utama dan menerapkan prinsip meritokrasi dalam festival bahasa. Pada pilar kultural-kognitif, dilakukan adaptasi simbolik melalui pemanfaatan media sosial untuk membangun persepsi bahwa Bahasa Aceh tetap relevan bagi generasi muda. Namun, efektivitas pelestarian masih menghadapi hambatan berupa kebijakan efisiensi anggaran, ketiadaan regulasi teknis pengakuan guru muatan lokal, rendahnya prioritas pemerintah daerah terhadap pembangunan kebudayaan, serta, terputusnya pewarisan bahasa di ranah keluarga akibat stigma negatif terhadap bahasa daerah. Penelitian ini merekomendasikan penguatan regulasi terkait guru muatan lokal serta perluasan strategi revitalisasi yang menyasar pada ranah keluarga</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>GOVERNMENT INSTITUTIONS - SOCIOLOGY</topic>
 </subject>
 <classification>306.2</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1712019</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-02-10 17:13:04</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-02-11 11:15:19</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>