<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1711591">
 <titleInfo>
  <title>IMPLEMENTASI QANUN NO 9 TAHUN 2019 TENTANG PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK DI KOTA BANDA ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>ARSYTA</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2026</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Implementasi Qanun Aceh No. 09 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Penanganan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak di Kota Banda Aceh, dengan fokus mengapa kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) masih tinggi meskipun regulasi telah diberlakukan, menggunakan model Van Meter dan Van Horn melalui pendekatan kualitatif yuridis empiris yang melibatkan wawancara mendalam dengan 8 informan kunci (Kepala UPTD PPA DP3A, DPRK Komisi IV, LSM Flower Aceh, akademisi, korban KDRT, dan masyarakat), observasi lapangan, serta analisis dokumen sekunder seperti data tren kasus 2020-2023 yang menunjukkan Banda Aceh peringkat 5 tertinggi di Aceh Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan aturan tersebut belum optimal karena beberapa hal. Tujuan kebijakan sudah jelas, tapi terkendala oleh kurangnya panduan pelaksanaan turunan, keterbatasan dana dan tenaga ahli, koordinasi antarinstansi yang kurang rapi tanpa alat bantu digital, meskipun pelaksana cukup aktif dalam sosialisasi. Selain itu, budaya patriarkal di masyarakat membuat banyak kasus tidak dilaporkan karena dianggap malu keluarga. Penelitian ini merekomendasikan kerja sama menyeluruh untuk menurunkan kasus KDRT, seperti mempercepat pembuatan aturan pendukung, alokasi anggaran untuk aplikasi laporan anonim dan tim khusus lintas sektor, serta kampanye anti-stigma yang melibatkan tokoh agama dan pemimpin gampong. Rekomendasi ini bermanfaat secara praktis bagi Pemerintah Kota Banda Aceh dan secara teori untuk studi kebijakan daerah.&#13;
&#13;
Kata kunci: Qanun No. 09/2019, implementasi kebijakan, KDRT, Banda Aceh, &#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>CHILDREN</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>WOMEN</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>VIOLENCE CRIMES</topic>
 </subject>
 <classification>364.15</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1711591</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-01-30 14:17:21</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-02-02 09:46:23</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>