CAPACITY BUILDING PEMERINTAH DALAM PENINGKATAN KETAHANAN PANGAN MELALUI URBAN FARMING DI KECAMATAN MEURAXA | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

CAPACITY BUILDING PEMERINTAH DALAM PENINGKATAN KETAHANAN PANGAN MELALUI URBAN FARMING DI KECAMATAN MEURAXA


Pengarang

RAUDHATUL JANNAH - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Afrijal - 199104182020121003 - Dosen Pembimbing I



Nomor Pokok Mahasiswa

2210104010067

Fakultas & Prodi

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Ilmu Pemerintahan (S1) / PDDIKTI : 65201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Ilmu Sosial dan Politik - Ilmu Pemerintahan., 2026

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

ABSTRAK
Keterbatasan lahan pertanian di wilayah perkotaan, khususnya di Kota Banda Aceh, menjadi tantangan serius dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan. Kecamatan Meuraxa sebagai salah satu wilayah di Kota Banda Aceh menghadapi tekanan urbanisasi, keterbatasan anggaran, serta rendahnya kapasitas sumber daya manusia dalam pengelolaan pertanian perkotaan. Kondisi tersebut mendorong pemerintah untuk mengembangkan urban farming sebagai cara dalam memperkuat ketahanan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis capacity building pemerintah dalam peningkatan ketahanan pangan melalui urban farming di Kecamatan Meuraxa, dengan menggunakan teori capacity building. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan urban farming di Kecamatan Meuraxa belum sepenuhnya berjalan optimal, dari sembilan Gampong yang rentan Pangan di kecamatan Meuraxa hanya tiga Gampong yang ikut melaksanakan program Urban farming (P2L). Selain itu, terbatasan sumber daya manusia terlihat dari rendahnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat serta belum maksimalnya pendampingan teknis. Koordinasi antar pelaksana program masih lemah dan belum terintegrasi secara efektif. Adapun hambatan dalam peningkatan ketahanan pangan adalah keterbatasan anggaran, kurangnya sumber daya manusia dan ketergantungan pada pendanaan dari pemerintah pusat membatasi fleksibilitas pemerintah daerah dalam mengembangkan inovasi pertanian perkotaan yang sesuai dengan karakteristik wilayah. Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya capacity building masih memerlukan penguatan yang lebih terarah dan berkelanjutan. Diharapkan Pemerintah Kota Banda Aceh dapat meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, memperkuat sistem monitoring dan evaluasi program urban farming, mendukung pengembangan urban farming yang sesuai dengan kondisi perkotaan, dan mendorong kebijakan yang adaptif terhadap perubahan, mobilitas, dan keadaan.
Kata kunci: capacity building, ketahanan pangan, urban farming, Kecamatan
Meuraxa.

ABSTRACT The limitation of agricultural land in urban areas, particularly in Banda Aceh City, poses a serious challenge to achieving food security. Meuraxa District, as one of the urban areas in Banda Aceh, faces pressures from urbanization, limited budget allocation, and low human resource capacity in managing urban agriculture. These conditions have encouraged the government to develop urban farming as a strategy to strengthen food security. This study aims to analyze the government’s capacity building efforts in enhancing food security through urban farming in Meuraxa District, using the capacity building theory as the analytical framework. The research employs a qualitative approach with a descriptive method. Data were collected through interviews, observation, and documentation. The findings indicate that the implementation of urban farming in Meuraxa District has not been fully optimal. Out of nine food-vulnerable villages (gampong) in Meuraxa District, only three have participated in the Urban Farming Program (P2L). In addition, limited human resources are reflected in the low level of community knowledge and skills, as well as insufficient technical assistance. Coordination among program implementers remains weak and has not been effectively integrated. The main obstacles to improving food security include budget constraints, limited human resources, and dependence on funding from the central government, which restricts the flexibility of the local government in developing urban agriculture innovations suited to local characteristics. These conditions indicate that capacity building efforts still require more focused and sustainable strengthening. It is expected that the Banda Aceh City Government will enhance human resource capacity, strengthen the monitoring and evaluation system of urban farming programs, support the development of urban farming models appropriate for urban conditions, and promote adaptive policies that respond to change, mobility, and local circumstances. Keywords: capacity building, food security, urban farming, Meuraxa District.

Citation



    SERVICES DESK