<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1711197">
 <titleInfo>
  <title>EKSISTENSI PEREMPUAN DI LEMBAGA LEGISLATIF (STUDI ANALISIS GENDER PADA DPRA ACEH)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>TARI ALVIZA</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2026</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Keterlibatan perempuan di lembaga legislatif masih menjadi isu penting dalam upaya mewujudkan kesetaraan gender di ranah politik. Meskipun kebijakan kuota 30% keterwakilan perempuan telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 dan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017, realisasinya di Aceh belum tercapai. Data menunjukkan bahwa jumlah anggota legislatif perempuan di DPRA hanya sebesar 11,11% pada periode 2019–2024 dan menurun menjadi 10% pada periode 2024–2029. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana perempuan mampu mempertahankan eksistensinya ditengah keterbatasan struktural. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pilihan rasional anggota legislatif perempuan di DPRA Provinsi Aceh dalam membangun eksistensi politik serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam menyuarakan aspirasi rakyat. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan model studi kasus dan pendekatan deskriptif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksistensi perempuan di DPRA terbentuk melalui kombinasi rasionalitas tindakan dan modal sosial yang mereka miliki. Keberhasilan mereka ditentukan oleh kapasitas individu dan kemampuan membangun relasi sosial, menjaga kepercayaan publik, dan konsistensi dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat. Terdapat juga faktor pendukung berupa (1) Dukungan keluarga dan partai politik, (2) Pengalaman organisasi dan Leadership (3) Nilai, dan (4) Dukungan masyarakat dari program yang terealisasi. Sedangkan hambatan berasal dari budaya patriarki dan keterbatasan strukturasi di lembaga. Temuan ini menegaskan bahwa kapasitas personal menjadi faktor kunci dalam mempertahankan eksistensi perempuan di lembaga legislatif.&#13;
Kata kunci: eksistensi legislatif perempuan, kesetaraan gender, modal sosial, pilihan rasional.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>GENDER IDENTITY</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>WOMEN WORKERS - PUBLIC ADMINISTRATION</topic>
 </subject>
 <classification>354.908 2</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1711197</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-01-28 16:15:48</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-02-09 16:03:07</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>