<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1711175">
 <titleInfo>
  <title>KERAGAMAN, DISTRIBUSI DAN GENETIKA MAKROINVERTEBRATA BENTIK PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) KRUENG ACEH DI PROVINSI ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Chitra Octavina</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pasca Sarjana (S3)</publisher>
   <dateIssued>2026</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Dissertation</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Penelitian disertasi ini dilatarbelakangi oleh peran penting makroinvertebrata bentik sebagai bioindikator kesehatan sungai serta oleh meningkatnya tekanan antropogenik di DAS Krueng Aceh (alih fungsi lahan, limbah domestik, erosi). Pada saat yang sama, kajian komprehensif yang mencakup seluruh bentang hulu–tengah–hilir, khususnya yang memasukkan aspek genetika, masih sangat terbatas. Tujuan utama penelitian adalah: (1) menganalisis keanekaragaman jenis dan pola distribusi makroinvertebrata bentik di DAS Krueng Aceh; (2) menilai kualitas air sungai menggunakan berbagai indeks biotik berbasis komunitas bentik; (3) mengkaji DNA barcoding (gen COI) beberapa spesies makroinvertebrata bentik untuk memperoleh identifikasi taksonomi yang lebih akurat serta informasi struktur kekerabatan; serta (4) menganalisis pola filogeografi makroinvertebrata bentik di DAS Krueng Aceh.&#13;
Penelitian dilaksanakan secara terintegrasi pada 10 stasiun yang mewakili segmen hulu, tengah, dan hilir DAS selama beberapa bulan pengamatan. Makroinvertebrata, air, dan sedimen dikoleksi sesuai prosedur standar, diidentifikasi secara morfologi, kemudian dianalisis kepadatan, frekuensi kehadiran, indeks keanekaragaman, keseragaman, dominansi, serta pola distribusi. Kualitas perairan dinilai melalui parameter fisika-kimia, indeks pencemaran (misalnya indeks Nemerow), dan beberapa indeks biotik (BMWP-CR, SingScore, SASS5-ASPT). Pada tahap genetika, sampel terpilih diekstraksi DNA-nya, diamplifikasi gen COI, disekuensing, kemudian dibandingkan dengan database GenBank/BOLD (BLAST), dianalisis jarak genetik, keragaman haplotipe, dan disusun pohon filogenetik model K2P–Neighbor Joining.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas makroinvertebrata bentik yang ditemukan di DAS Krueng Aceh terutama Insekta berada dalam stadia larva, pupa/nimfa dan didominasi famili Hydropsychidae, terutama Hydropsyche angustipennis, serta dua spesies dengan frekuensi kehadiran tinggi, Afrobrianax ferdyi dan Tarebia granifera. Spesies yang terkait arus deras dan substrat keras (batuan, kerikil) banyak ditemukan di segmen hulu–tengah, sedangkan spesies yang menyukai substrat lunak berlumpur dan tepian bervegetasi dominan di bagian hilir. Indeks keanekaragaman mengindikasikan kondisi ekologis relatif lebih baik di bagian hulu–tengah (misalnya sungai di Desa Keureuweung/stasiun 4), sedangkan keanekaragaman rendah di sungai sekitar Desa Kampung Baru (stasiun 9) dan sungai di sekitar Desa Lampulo (stasiun 10) berkaitan dengan sedimentasi berlebih, tingginya TDS, serta tekanan aktivitas manusia di hilir. Analisis HCA mengelompokkan stasiun menjadi dua grup utama yang secara garis besar memisahkan hulu–tengah dari hilir, dengan Stasiun 10 sebagai lokasi yang paling berbeda karena sedimentasi dan TDS yang sangat tinggi sehingga hadirnya spesies toleran.&#13;
Analisis kualitas air menunjukkan bahwa DAS Krueng Aceh berada pada kondisi tercemar ringan hingga sedang, dengan tingkat pencemaran sedang terkonsentrasi di hilir yaitu sungai di sekitar Desa Lampulo (Stasiun 10). Peningkatan TDS, C-organik, N-total, salinitas, dan konduktivitas yang berkaitan dengan aktivitas pertanian, industri, limbah domestik, dan sedimentasi halus di hilir menjadi faktor utama penurunan kualitas habitat akuatik. Komunitas makroinvertebrata di lokasi ini didominasi spesies toleran sehingga menguatkan indikasi degradasi. Evaluasi indeks biotik menunjukkan bahwa BMWP-E (original), BMWP-CR, dan SASS5 cukup efektif untuk mengkategorikan tingkat pencemaran di konteks sungai tropis, terutama bila diintegrasikan dengan indeks pencemaran dan karakteristik sedimen.&#13;
Pendekatan DNA barcoding berhasil mengidentifikasi 18 spesies Insekta dari enam ordo dan enam spesies Gastropoda dari dua famili (Thiaridae dan Neritidae), dengan tingkat kemiripan sekuens COI terhadap referensi GenBank/BOLD umumnya &gt;99%. Sebanyak 14 spesies Insekta tercatat sebagai catatan baru bagi perairan Indonesia dalam barcoding, sehingga memperluas basis data fauna nasional dan memperkuat Aceh Benthic Barcode Database. Secara filogenetik, klaster Insekta dan Gastropoda yang terbentuk konsisten dengan identifikasi morfologi dan mendukung keandalan COI sebagai penanda untuk biomonitoring berbasis DNA di DAS Krueng Aceh.&#13;
Dalam analisis filogeografi, makroinvertebrata bentik di DAS Krueng Aceh, khususnya Isoperla signata dan Vittina coromandeliana, memiliki struktur genetik yang unik dan sangat berbeda dari populasi di wilayah lain. Populasi di Krueng Aceh menunjukkan keragaman genetik lokal yang rendah, tetapi jarak genetik dan nilai Fst yang tinggi mengindikasikan bahwa mereka merupakan unit evolusioner tersendiri yang penting untuk dilindungi.&#13;
Secara keseluruhan, disertasi ini menyimpulkan bahwa (1) keanekaragaman dan struktur komunitas makroinvertebrata bentik di DAS Krueng Aceh sangat dipengaruhi gradien hulu–hilir, kondisi fisik-kimia, dan tekanan antropogenik; (2) kualitas air sungai berada pada kategori tercemar ringan–sedang dengan indikasi degradasi yang nyata di segmen hilir; dan (3) integrasi identifikasi morfologi dan DNA barcoding menghasilkan basis data taksonomi dan genetik yang kuat untuk pemanfaatan makroinvertebrata bentik sebagai bioindicator; serta (4) penelitian ini menunjukkan bahwa Isoperla signata dan Vittina coromandeliana di DAS Krueng Aceh membentuk unit evolusioner genetik yang unik dan penting untuk dilindungi.&#13;
Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan: (1) penerapan rutin biomonitoring berbasis makroinvertebrata bentik dan DNA barcoding (serta pengembangan eDNA/metabarcoding) dalam sistem pemantauan kualitas air DAS Krueng Aceh; (2) penguatan kebijakan pengelolaan DAS yang menekan sumber pencemar dan sedimentasi, terutama di hilir, melalui pengendalian erosi, pengelolaan limbah domestik dan pertanian, serta penataan penggunaan lahan; dan (3) perluasan cakupan riset genetika makroinvertebrata bentik (lebih banyak taksa, titik, dan penanda genetik) agar hubungan antara variasi genetik, kualitas habitat, dan tekanan antropogenik dapat dipahami lebih baik sebagai dasar pengambilan keputusan konservasi dan pengelolaan sungai yang berkelanjutan.&#13;
&#13;
Kata kunci:  Biomonitoring, DNA barcoding (COI), DAS Krueng Aceh, Makroinvertebrata bentik, Kualitas air sungai&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1711175</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-01-28 15:21:57</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-01-28 15:23:15</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>