<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1711161">
 <titleInfo>
  <title>ISOLASI DAN IDENTIFIKASI JAMUR PENYEBAB DERMATOFITOSIS DI KECAMATAN DARUSSALAM KABUPATEN ACEH BESAR</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Cut Sri Ilhami Elda</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Kedokteran</publisher>
   <dateIssued>2026</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Theses</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Dermatofitosis merupakan salah satu infeksi jamur superfisial yang banyak&#13;
ditemukan di daerah tropis dengan tingkat kelembapan tinggi dan kepadatan&#13;
penduduk yang relatif besar. Kondisi lingkungan tersebut berperan dalam&#13;
mendukung pertumbuhan dan penularan jamur dermatofita. Penelitian ini bertujuan&#13;
untuk mengisolasi dan mengidentifikasi spesies dermatofit penyebab&#13;
dermatofitosis serta membandingkan kemampuan deteksi media kultur Sabouraud&#13;
Dextrose Agar (SDA) dan Dermatophyte Test Medium (DTM) di Kecamatan&#13;
Darussalam, Kabupaten Aceh Besar. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif&#13;
komparatif laboratorium. Sebanyak 50 sampel klinis berupa kerokan kulit dari&#13;
pasien yang diduga menderita dermatofitosis diperiksa secara mikroskopis&#13;
menggunakan larutan KOH 20% dan selanjutnya dikultur pada media SDA dan&#13;
DTM. Identifikasi jamur dilakukan berdasarkan karakteristik makroskopis dan&#13;
mikroskopis koloni yang tumbuh pada masing-masing media. Hasil penelitian&#13;
menunjukkan pada kelompok laki-laki (24 sampel), infeksi oleh jamur geofilik&#13;
merupakan yang paling dominan (62,5%). Berdasarkan lokasi infeksi, Tinea&#13;
corporis menjadi bentuk dermatofitosis yang paling banyak ditemukan (48%),&#13;
menunjukkan dominasi infeksi pada kulit tubuh bagian luar. Pemeriksaan&#13;
mikroskopis menggunakan larutan KOH 20% menunjukkan hasil positif pada 70%&#13;
sampel. Pemeriksaan kultur jamur memperlihatkan bahwa media DTM memiliki&#13;
tingkat deteksi lebih tinggi (80%) dibandingkan media SDA (76%). Hasil&#13;
identifikasi spesies menunjukkan bahwa Trichophyton rubrum merupakan&#13;
penyebab utama dermatofitosis pada sebagian besar sampel, baik pada media DTM&#13;
maupun SDA, sehingga menegaskan perannya sebagai spesies dominan dalam&#13;
kasus dermatofitosis di wilayah penelitian. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan&#13;
bahwa media DTM lebih sensitif dibandingkan media SDA dalam mendeteksi&#13;
dermatofita, sehingga berpotensi digunakan sebagai media utama dalam&#13;
identifikasi jamur penyebab dermatofitosis di laboratorium</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1711161</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-01-28 14:49:31</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-01-28 14:59:12</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>