ANALISIS PROFIL KECEPATAN GELOMBANG GESER (VS) BAWAH PERMUKAAN MENGGUNAKAN METODE MASW PADA KONSTRUKSI TEROWONGAN BANGUNAN PENGARAH BENDUNGAN RUKOH | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

ANALISIS PROFIL KECEPATAN GELOMBANG GESER (VS) BAWAH PERMUKAAN MENGGUNAKAN METODE MASW PADA KONSTRUKSI TEROWONGAN BANGUNAN PENGARAH BENDUNGAN RUKOH


Pengarang

WENNY PUTRI FAUZI - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Muksin - 197406252000121001 - Dosen Pembimbing I
Muzakir - 199009162016011101 - Dosen Pembimbing I



Nomor Pokok Mahasiswa

2104107010040

Fakultas & Prodi

Fakultas Teknik / Teknik Geofisika (S1) / PDDIKTI : 33201

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Teknik Geofisika., 2026

Bahasa

Indonesia

No Classification

624.193

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Bangunan Pengarah Bendungan Rukoh memerlukan peningkatan suplai air melalui pembangunan terowongan, sehingga diperlukan informasi kondisi bawah permukaan untuk memastikan stabilitas dan keamanan struktur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kekauan batuan serta potensi anomali pada lapisan bawah permukaan dengan memodelkan profil kecepatan gelombang geser (Vs) menggunakan metode MASW. Akuisisi data dilakukan pada 8 lintasan sepanjang 46 m yang tersebar di sepanjang alignment rencana terowongan, menggunakan instrumen Seismograf Seistronix RAS 24 dengan 24 geophone dan spasi 2 m. Data diproses menggunakan software EasyMASW untuk menghasilkan profil 1D kecepatan Vs yang kemudian diinterpolasi menjadi model 2D. Hasil pemodelan yang diperoleh distribusi nilai Vs berkisar antara 160 – 950 m/s pada kedalaman penetrasi 35–40 m yang terklasifikasi menjadi tiga lapisan utama berdasarkan SNI 1726:2019. Lapisan I (Vs 175 – 350 m/s) sebagai tanah sedang berupa lempung lunak, lapisan II (Vs 350 – 750 m/s) sebagai tanah keras berupa lempung kaku, dan lapisan III (Vs >750 m/s) sebagai batuan keras berupa batuan lanau. Analisis tingkat kekuatan batuan menunjukkan bahwa sebagian besar rencana terowongan yang terkarakterisasi berada pada material dengan Vs >750 m/s yang terklasifikasi sebagai Batuan (SB), mengindikasikan kondisi yang sesuai untuk pembangunan terowongan dengan material kompeten yang memadai untuk stabilitas struktur. Ketebalan material diatasnya bervariasi 10 – 84 m dari permukaan. Selain itu, tidak teridentifikasi zona lemah signifikan pada kedalaman rencana terowongan, dengan variasi yang teramati berupa transisi bertahap antar lapisan.

The Rukoh Dam Control Building requires an increase in water supply through the construction of a tunnel, thus requiring information on subsurface conditions to ensure the stability and safety of the structure. This study aims to analyze the rock stiffness level and potential anomalies in the subsurface layer by modeling the shear wave velocity (Vs) profile using the MASW method. Data acquisition was carried out on 8 tracks along 46 m spread along the planned tunnel alignment, using a Seistronix RAS 24 seismograph with 24 geophones and a spacing of 2 m. The data was processed using EasyMASW software to produce a 1D Vs velocity profile which was then interpolated into a 2D model. The modeling results obtained a distribution of Vs values ranging from 160 to 950 m/s at a penetration depth of 35–40 m, which were classified into three main layers based on SNI 1726:2019. Layer I (Vs 175–350 m/s) is medium soil in the form of soft clay, Layer II (Vs 350–750 m/s) is hard soil in the form of stiff clay, and Layer III (Vs >750 m/s) is hard rock in the form of sandstone. Rock strength analysis indicates that most of the characterized tunnel sections are located in material with Vs >750 m/s classified as Rock (SB), indicating suitable conditions for tunnel construction with competent material adequate for structural stability. Material thickness above it varying from 10 to 84 m from the surface. In addition, no significant weak zones were identified at the depth of the tunnel plan, with the observed variation being a gradual transition between layers.

Citation



    SERVICES DESK