Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
IMPLEMENTASI DESA ENERGI BERDIKARI BERBASIS TRIPLE HELIX UNTUK KEBERLANJUTAN ENERGI TERBARUKAN DI PULO ACEH
Pengarang
AWANGGA DWI PRABOWO - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Helmi - 198804272023211018 - Dosen Pembimbing I
Nomor Pokok Mahasiswa
2210104010041
Fakultas & Prodi
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Ilmu Pemerintahan (S1) / PDDIKTI : 65201
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala., 2026
Bahasa
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Indonesia menghadapi tantangan besar dalam transisi menuju kemandirian enegi khususnya di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) yang masih bergantung pada energi fosil. Gampong Lampuyang, Pulo Aceh mayoritas penduduk bekerja sebagai nelayan yang menghadapi keterbatasan energi karena hanya memiliki satu PLTD sehingga sering terjadi pemadaman. Hal ini menyebabkan pengisian baterai penerangan tidak optimal dan biaya operasional tinggi yang mencapai Rp30.000 per baterai. Implementasi Desa Energi Berdikari berbasis PLTS hadir sebagai solusi energi terbarukan yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Desa Energi Berdikari berbasis triple helix dalam mendukung kemandirian energi di Pulo Aceh serta mengidentifikasi tantangan dalam pelaksanaannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teori triple helix menurut Leydesdorff dan Etzkowitz (1996). Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi triple helix telah memberikan dampak penurunan biaya pengisian baterai dari Rp30.000 menjadi Rp15.000, dan nelayan tidak lagi terganggu pemadaman listrik. Kolaborasi triple helix efektif Universitas Syiah Kuala sebagai inisiator riset berbasis kebutuhan nelayan, Pertamina Foundation sebagai pendana dan penjamin standar operasional, serta Pemerintah Gampong Lampuyang sebagai fasilitator dan penjamin legitimasi sosial. Ruang pengetahuan mentransfer inovasi pembangunan PLTS, menciptakan kapabilitas pengelolaan, membangun kemandirian energi, dan mengurangi biaya operasional nelayan. Ruang kesepakatan menghasilkan musyawarah kolaboratif, tercapai komitmen formal dan tata kelola finansial berkelanjutan. Ruang inovasi membangun PLTS 3,1 kWp dengan model ekonomi sosial berkelanjutan dan local hero terlatih untuk menurunkan biaya operasional nelayan dan memperkuat kemandirian energi lokal.Tantangan dan hambatan dalam implementasi program meliputi keterbatasan akses karena transportasi yang belum memadai untuk menuju Pulo Aceh mengakibatkan terhambatnya proses distribusi barang dan tenaga ahli, sumber daya manusia di Gampong Lampuyang yang belum sepenuhnya mumpuni untuk melakukan perawatan dan pengelolaan PLTS, serta perbedaan birokrasi antar stakeholder yang menyebabkan proses pembuatan berbagai dokumen sebagai kesepakatan formal memerlukan waktu yang cukup lama.
Kata Kunci: Triple Helix, Desa Energi Berdikari, PLTS, Energi Terbarukan, Gampong Lampuyang, Pulo Aceh, Nelayan.
Indonesia faces major challenges in transitioning to energy independence, particularly in frontier, outermost, and disadvantaged (3T) regions that still rely on fossil fuels. In Gampong Lampuyang, Pulo Aceh most residents work as fishermen and face energy limitations due to a single diesel power plant that frequently experiences outages. This results in suboptimal battery charging for lighting and high operational costs of up to IDR 30,000 per battery. The PLTS-based Desa Energi Berdikari (Energy Independent Village) program was implemented as a sustainable renewable energy solution. This study aims to analyze the implementation of the triple helix-based program in supporting energy independence in Pulo Aceh and to identify challenges in its execution, using a descriptive qualitative approach with Leydesdorff and Etzkowitz's (1996) triple helix theory. Results show that the triple helix implementation reduced battery charging costs from IDR 30,000 to IDR 15,000, and fishermen are no longer affected by power outages. The collaboration is effective: Syiah Kuala University as the initiator of research based on fishermen’s needs, Pertamina Foundation as funder and standard operational guarantor, and Lampuyang Village Government as facilitator and social legitimacy guarantor. The knowledge space transfers solar power plant development innovations, enhances management capabilities, builds energy independence, and lowers operational costs. The consensus space generates collaborative deliberations, formal commitments, and sustainable financial governance. The innovation space builds a 3.1 kWp solar power plant with a sustainable social economy model and trained local heroes, reducing operational costs and strengthening local energy independence. Implementation challenges include limited access due to inadequate transportation to Pulo Aceh, local human resources not fully capable of maintaining and managing the solar power plant, and bureaucratic differences among stakeholders that prolong the preparation of formal agreements. Keywords: Triple Helix, Independent Energy Village, Program Utilizing Solar Power Plant, Renewable Energy, Lampuyang Village, Pulo Aceh, Fishermen.
OPTIMASI SISTEM TENAGA HYBRID SURYA/ANGIN/DIESEL UNTUK PULO PUSONG KOTA LANGSA MENGGUNAKAN SOFTWARE HOMER (rizal fahmi, 2023)
OPTIMASI SISTEM TENAGA HYBRID SURYA/ANGIN/DIESEL UNTUK PULO PUSONG KOTA LANGSA MENGGUNAKAN SOFTWARE HOMER (0704102010022, 2023)
KAJIAN MEKANISME PEMANEN ENERGI BERBASIS PIEZOELEKTRIK DENGAN PEMANFAATAN PUTARAN (Muhammad Fakhrial Adha, 2020)
PEMBUATAN DAN PENGUJIAN KINCIR AIR TIPE OVERSHOT (Verisal mirza Irfan, 2024)
PERANCANGAN SISTEM PEMBANGKIT LISTRIK BERBASIS MICROGRID DI PELABUHAN PENYEBERANGAN ULEE LHEUE BANDA ACEH (RAMADAN SYAFITRA, 2025)