ADAPTIVE REUSE RUMOH ACEH UNTUK MENDUKUNG DAYA TARIK WISATA DI DESA LUBUK SUKON KABUPATEN RNACEH BESAR | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    THESES

ADAPTIVE REUSE RUMOH ACEH UNTUK MENDUKUNG DAYA TARIK WISATA DI DESA LUBUK SUKON KABUPATEN RNACEH BESAR


Pengarang

Muhammad Nazli - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Izziah - 196207311995122001 - Dosen Pembimbing I
Cut Dewi - 197807152002122002 - Dosen Pembimbing I



Nomor Pokok Mahasiswa

2304204010004

Fakultas & Prodi

Fakultas Teknik / Arsitektur / PDDIKTI :

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Teknik., 2026

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Desa Lubuk Sukon di Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar, merupakan kawasan yang masih mempertahankan Rumoh Aceh sebagai warisan arsitektur tradisional masyarakat Aceh. Namun, perubahan sosial dan kebutuhan ekonomi menyebabkan sebagian Rumoh Aceh tidak lagi difungsikan sebagai hunian, sehingga kehilangan fungsi dan perawatannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan adaptive reuse pada Rumoh Aceh serta mengidentifikasi tantangan dan peluang penerapannya dalam mendukung daya tarik wisata berbasis budaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus melalui observasi lapangan, wawancara, dan studi dokumentasi. Objek penelitian meliputi tiga Rumoh Aceh, yaitu Rumoh Aceh Abdullah Muzakkir Walad sebagai galeri budaya, Rumoh Aceh Ibu Emilda sebagai homestay, dan Rumoh Aceh Cek Mad Rahmany sebagai museum adat dan sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan adaptive reuse dilakukan dengan mempertahankan elemen arsitektural utama, seperti struktur panggung, sistem konstruksi kayu, tata ruang tradisional, dan karakter visual bangunan. Penyesuaian fungsi ruang dilakukan secara selektif, terutama pada pemanfaatan ruang yup moh dan ruang dalam, tanpa menghilangkan nilai budaya dan identitas arsitektur. Tantangan utama meliputi keterbatasan pendanaan, keterbatasan pemahaman teknis konservasi, serta belum optimalnya dukungan kebijakan. Adapun peluang yang diidentifikasi mencakup penguatan identitas budaya, peningkatan ekonomi masyarakat lokal, serta potensi pengembangan Desa Lubuk Sukon sebagai desa wisata berbasis warisan budaya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa adaptive reuse Rumoh Aceh merupakan strategi konservasi yang mendukung pelestarian arsitektur tradisional sekaligus pengembangan daya tarik wisata berbasis budaya sesuai konteks lokal.
Kata Kunci: adaptive reuse, Rumoh Aceh, daya tarik wisata, desa wisata, arsitektur tradisional.

Lubuk Sukon Village, located in Ingin Jaya District, Aceh Besar Regency, is an area that continues to preserve Rumoh Aceh as a form of traditional architectural heritage of the Acehnese community. However, social change and economic needs have caused several Rumoh Aceh to no longer function as residential buildings, resulting in the loss of their functional use and maintenance. This study aims to analyze the implementation of adaptive reuse in Rumoh Aceh and to identify the challenges and opportunities in supporting culture-based tourism attraction. This research employs a qualitative descriptive method with a case study approach, using field observation, interviews, and documentation review. The research objects consist of three Rumoh Aceh: Rumoh Aceh Abdullah Muzakkir Walad as a cultural gallery, Rumoh Aceh owned by Mrs. Emilda as a homestay, and Rumoh Aceh Cek Mad Rahmany as a museum of customary and historical heritage. The results indicate that adaptive reuse is implemented by maintaining the main architectural elements, including the stilt structure, wooden construction system, traditional spatial layout, and visual character of the buildings. Spatial adjustments are carried out selectively, particularly through the utilization of the underfloor space and internal spaces, without eliminating cultural values and architectural identity. The main challenges include limited funding, insufficient technical understanding of conservation practices, and the lack of optimal policy support. Meanwhile, the identified opportunities include strengthening cultural identity, improving the local community’s economy, and supporting the development of Lubuk Sukon Village as a heritage-based tourism village. This study concludes that the adaptive reuse of Rumoh Aceh serves as a conservation strategy that supports the preservation of traditional architecture while enhancing culture-based tourism attraction in accordance with the local context. Keywords: adaptive reuse, Rumoh Aceh, tourism attraction, tourism village, traditional architecture.

Citation



    SERVICES DESK