IDENTIFIKASI DAN NILAI EKONOMI KOMODITI HASIL HUTAN BUKAN KAYU DI KECAMATAN KRUENG SABEE, KABUPATEN ACEH JAYA | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

IDENTIFIKASI DAN NILAI EKONOMI KOMODITI HASIL HUTAN BUKAN KAYU DI KECAMATAN KRUENG SABEE, KABUPATEN ACEH JAYA


Pengarang

SITI RIHADATUL AISYI RAJWA - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Jumadil Akhir - 197308082006041001 - Dosen Pembimbing I
Maryam Jamilah - 198609172022042001 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

2105110010004

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Kehutanan (S1) / PDDIKTI : 54251

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Pertanian., 2026

Bahasa

Indonesia

No Classification

338.174 98

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) memiliki peran penting dalam menopang ekonomi masyarakat sekitar hutan, namun data potensi dan nilai ekonominya di Kecamatan Krueng Sabee masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis HHBK yang dimanfaatkan masyarakat, mengetahui bagian tumbuhan yang dimanfaatkan, serta menganalisis kontribusinya terhadap ekonomi masyarakat. Penelitian dilakukan di tiga desa yaitu Padang Datar, Datar Luas, dan Kede Krueng Sabee pada Juli-Agustus 2025. Metode sensus digunakan dengan melibatkan seluruh pelaku pemanfaat HHBK sebanyak 34 responden. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga jenis HHBK yang dimanfaatkan yaitu karet (Hevea brasiliensis), nilam (Pogostemon cablin), dan rotan (Calamus rotang). Bagian tumbuhan yang dimanfaatkan meliputi getah (18persen), daun dan batang (33persen), serta batang (49persen). Total produksi HHBK mencapai 11.561,5 kg/tahun dengan rata-rata produksi 1.294,76 kg/responden/tahun. Kontribusi ekonomi HHBK terhadap pendapatan masyarakat menunjukkan nilam memberikan kontribusi terbesar sebesar 61,67persen (kategori kontribusi besar), diikuti karet 35,73persen (kategori kontribusi kecil), dan rotan 2,60persen (kategori kontribusi sangat kecil). Meskipun nilam memiliki volume produksi terendah (231,5 kg/tahun), komoditas ini memiliki nilai ekonomi tertinggi dengan harga Rp 800.000/kg, menjadikannya sumber penghasilan utama bagi masyarakat. Penelitian ini menegaskan pentingnya HHBK, khususnya nilam, dalam menopang ekonomi masyarakat sekitar hutan di Kecamatan Krueng Sabee.
Kata kunci: Hasil Hutan Bukan Kayu, Nilai Ekonomi, Kecamatan Krueng Sabee

Non-Timber Forest Products (NTFPs) play a vital role in supporting the livelihoods of forest-dwelling communities; however, data regarding their potential and economic value in the Krueng Sabee District remains limited. This study aims to identify the types of NTFPs utilized by the community, determine the plant parts used, and analyze their contribution to the local economy. The research was conducted in three villages—Padang Datar, Datar Luas, and Kede Krueng Sabee—from July to August 2025. A census method was employed, involving all 34 active NTFP harvesters as respondents. Data were collected through interviews, observations, and documentation, then analyzed using a descriptive quantitative approach. The results identified three primary NTFPs utilized by the community: rubber (Hevea brasiliensis), patchouli (Pogostemon cablin), and rattan (Calamus rotang). The utilized plant parts included sap/latex (18%), leaves and stems (33%), and stems (49%). The total NTFP production reached 11,561.5 kg/year, with an average production of 1,294.76 kg/respondent/year. Regarding economic impact, patchouli provided the most significant contribution at 61.67% (categorized as a large contribution), followed by rubber at 35.73% (small contribution), and rattan at 2.60% (very small contribution). Despite having the lowest production volume (231.5 kg/year), patchouli holds the highest economic value with a price of IDR 800,000/kg, making it the primary income source for the community. This study confirms the importance of NTFPs, particularly patchouli, in sustaining the economy of forest-edge communities in the Krueng Sabee District. Keywords: Non-Timber Forest Products (NTFPs), Economic Value, Krueng Sabee District

Citation



    SERVICES DESK