<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1710747">
 <titleInfo>
  <title>STRATEGI PENINGKATAN PRODUKSI PADI MELALUI PROGRAM BRIGADE PANGAN DI KABUPATEN SIMEULUE</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Akram Hamidi</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pertanian</publisher>
   <dateIssued>2026</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Theses</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Sektor pertanian memegang peranan sentral sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia, berfungsi ganda sebagai penyedia pangan strategis dan jaring pengaman sosial. Namun, realitas di lapangan menunjukkan paradoks yang persisten: meskipun agraris, Indonesia masih bergulat dengan inefisiensi produksi, konversi lahan, dan stagnasi regenerasi petani. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 mencatat impor beras nasional menembus angka 2,1 juta ton, sebuah indikator nyata akan kerentanan ketahanan pangan domestik. Di sisi lain, sektor ini menyerap 29% tenaga kerja nasional, sehingga setiap peningkatan produktivitas akan berdampak langsung pada pengentasan kemiskinan dan pemerataan ekonomi wilayah. Oleh karena itu, paradigma pertanian tradisional harus segera ditransformasi menuju pertanian modern yang berbasis korporasi dan teknologi (FAO, 2021; World Bank, 2020).Kabupaten Simeulue, sebagai wilayah kepulauan di Provinsi Aceh, menghadapi tantangan spesifik berupa rantai logistik yang mahal dan keterbatasan akses input luar. Meski demikian, potensi agraris wilayah ini menunjukkan tren positif. Data BPS Aceh (2025) mencatat peningkatan luas panen padi dari 5.780,84 hektare (2023) menjadi 6.809,33 hektare (2024), dengan produktivitas rata-rata 3,42 ton/hektare. Capaian ini didorong oleh intervensi pemerintah melalui program Cetak Sawah dan Perluasan Areal Tanam (PAT).&#13;
Namun, evaluasi lapangan menunjukkan petani lokal masih terkekang oleh empat kendala struktural: (1) Aksesibilitas, yakni keterbatasan jangkauan terhadap teknologi presisi dan permodalan formal; (2) Kognitif, berupa minimnya pengetahuan tentang praktik pertanian berkelanjutan (sustainable farming); (3) Pasar, di mana posisi tawar petani lemah akibat rantai tata niaga yang panjang; dan (4) Infrastruktur, terutama jaringan irigasi tersier yang belum optimal. Sebagai respons strategis, Kementerian Pertanian meluncurkan inisiatif Brigade Pangan (BP). Berbeda dengan kelompok tani konvensional, Brigade Pangan didesain sebagai entitas bisnis berbasis korporasi yang mengelola hamparan lahan minimal 200 hektar secara terpadu. Legitimasi kelembagaan ini diperkuat oleh Permentan Nomor 40 Tahun 2020 dan UU Nomor 19 Tahun 2013, yang memberikan mandat legal bagi petani untuk berkonsolidasi guna mencapai skala ekonomi (economies of scale). Melalui pola kemitraan strategis yang melibatkan pemerintah, swasta (off-taker), dan akademisi, Brigade Pangan bertujuan menciptakan ekosistem pertanian yang terstruktur, efisien, dan melek teknologi guna menjamin kelayakan hidup pelaku utamanya, yaitu petani (Kementerian Pertanian, 2024a).&#13;
Penelitian ini didesain untuk merumuskan strategi presisi bagi pengembangan Brigade Pangan di Simeulue. Tujuan utamanya adalah: (1) Mengidentifikasi determinan internal dan eksternal yang mempengaruhi kinerja program; dan (2) Menyusun hierarki prioritas strategi yang paling relevan untuk diimplementasikan. Pendekatan yang digunakan adalah mixed-method dengan desain survei. Populasi penelitian adalah anggota aktif Brigade Pangan, dengan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling sebesar 30% dari total populasi (105 responden), jumlah yang dinilai representatif secara statistik (Arikunto, 2020).&#13;
Analisis data dilakukan secara bertingkat. Tahap pertama adalah analisis deskriptif kualitatif untuk memetakan kondisi eksisting. Tahap kedua menggunakan matriks IFAS (Internal Factor Analysis Summary) dan EFAS (External Factor Analysis Summary) untuk memetakan posisi strategis dalam diagram SWOT. Tahap akhir, yang menjadi inti penelitian ini, adalah penggunaan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Metode QSPM dipilih karena kemampuannya meminimalisir subjektivitas dalam pengambilan keputusan strategis melalui pembobotan nilai daya tarik (Sum Total Attractiveness Score/STAS) berdasarkan penilaian pakar David et al. (2023).&#13;
Pemetaan lingkungan internal dan eksternal menghasilkan identifikasi faktor-faktor kunci sebagai berikut:&#13;
1)	Kekuatan (Strengths): Aset Alam dan Modal Sosial, Kekuatan fundamental Brigade Pangan di Simeulue terletak pada penguasaan aset produksi. Ketersediaan lahan hamparan &gt;200 hektar yang didukung sumber daya air memadai (skor 0,374) memungkinkan penerapan mekanisasi penuh (full-mechanization) yang mustahil dilakukan pada lahan sempit. Modal sosial juga tergolong tinggi, terlihat dari antusiasme masyarakat untuk berpartisipasi (skor 0,373). Selain itu, akses terhadap teknologi modern (alsintan) dan dukungan kemitraan multipihak (skor 0,365) menjadi pilar pendukung operasional yang solid.&#13;
2)	Kelemahan (Weaknesses): Kapasitas SDM dan Manajemen, Sisi internal organisasi masih menyisakan celah kerentanan. Kelemahan paling mencolok adalah absennya sistem evaluasi dan monitoring yang berkelanjutan (skor 0,243), yang berpotensi memicu inefisiensi penggunaan anggaran. Selain itu, terdapat resistensi kultural dari petani tradisional terhadap perubahan pola tanam (skor 0,226), serta koordinasi antar pemangku kepentingan yang belum padu (skor 0,240). Ketergantungan tinggi pada pendanaan eksternal (skor 0,198) juga menjadi titik kritis yang mengancam kemandirian program.&#13;
3)	Peluang (Opportunities): Momentum Kebijakan dan Teknologi, Lingkungan eksternal menawarkan momentum emas melalui dukungan kebijakan pemerintah pusat yang kuat terhadap swasembada pangan. Peluang lain meliputi adopsi teknologi 4.0 untuk efisiensi input, serta potensi pasar beras premium yang terbuka lebar jika integrasi dengan industri pengolahan dapat direalisasikan. Model pendekatan partisipatif (sekolah lapang) juga berpeluang besar untuk mengakselerasi transfer pengetahuan.&#13;
4)	Ancaman (Threats): Iklim dan Dinamika Sosial, Ancaman eksternal yang perlu dimitigasi meliputi dampak perubahan iklim global yang memicu anomali cuaca (banjir/kekeringan), yang sangat berisiko bagi pertanian kepulauan. Selain itu, potensi konflik sosial akibat ketimpangan distribusi bantuan dan fluktuasi harga pasar akibat impor beras juga menjadi variabel risiko yang signifikan.&#13;
Sintesis matriks SWOT menghasilkan empat rumpun strategi utama:&#13;
1)	Strategi S-O (Agresif): Mengapitalisasi lahan luas dan teknologi untuk program intensifikasi (OPLA) guna meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) menjadi 2,5. Ini mencakup pelaksanaan sekolah lapang berbasis teknologi dan formalisasi kontrak bisnis dengan industri hilir.&#13;
2)	Strategi S-T (Diversifikasi): Menggunakan kekuatan penyuluh untuk melakukan edukasi mitigasi iklim, serta membentuk unit bisnis mandiri (Koperasi) untuk melawan ancaman ketergantungan finansial.&#13;
3)	Strategi W-O (Turn-around): Mengatasi kelemahan infrastruktur dengan mengajukan investasi irigasi presisi (embung/tetes) dan mendorong regulasi perlindungan lahan (Qanun) berbasis kearifan lokal Kono Lada.&#13;
4)	Strategi W-T (Defensif): Melakukan diversifikasi sumber pendanaan (Crowdfunding/Dana Desa) dan menyederhanakan modul pelatihan menggunakan platform digital agar mudah diakses petani yang resisten.5&#13;
Prioritas Strategi Berdasarkan Analisis QSPM Berdasarkan penilaian pakar, berikut urutan prioritas strategi yang direkomendasikan:&#13;
1)	Optimalisasi Manajemen Brigade &amp; Mekanisasi (STAS: 7,450)&#13;
Fokus: Transisi penuh ke teknologi pertanian guna mengatasi kelangkaan tenaga kerja muda. Target: Menekan kehilangan hasil (loses) hingga</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1710747</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-01-26 18:14:40</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-01-27 09:14:01</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>