PENGALAMAN MAHASISWA KEDOKTERAN MENJADI SUKARELAWAN DI GAZA, PALESTINA | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

PENGALAMAN MAHASISWA KEDOKTERAN MENJADI SUKARELAWAN DI GAZA, PALESTINA


Pengarang

Ahmed M. A. Aburokba - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Rosaria Indah - 197407142005012001 - Dosen Pembimbing I
Ferry Dwi Kurniawan - 198012082014041001 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

250710101100257

Fakultas & Prodi

Fakultas Kedokteran / Pendidikan Dokter (S1) / PDDIKTI : 11201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Kedokteran., 2026

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Latar Belakang: Bencana dan konflik bersenjata menghadirkan tantangan besar bagi
sistem kesehatan, yang sering kali memerlukan keterlibatan relawan mahasiswa
kedokteran. Meskipun keterlibatan mereka memberikan dukungan kemanusiaan dan
peluang pembelajaran, hal ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai kesiapan,
batasan etik, dan dampak psikologis.
Tujuan: Artikel ini mengeksplorasi pengalaman seorang mahasiswa kedokteran
relawan di Gaza selama konflik 2023–2025, dengan menyoroti manfaat, tantangan, dan
implikasinya bagi pendidikan kedokteran.
Presentasi Kasus: Ahmed Aburokbah, seorang mahasiswa kedokteran tahun ketiga,
menjadi relawan di Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara setelah studinya terhenti
akibat perang. Tanggung jawabnya mencakup pelayanan gawat darurat, bantuan
ortopedi, penjadwalan operasi, penerjemahan, dan tindak lanjut pascaoperasi. Salah
satu kasus penting yang ditanganinya adalah trauma. Melalui pengalaman ini, ia
memperoleh keterampilan klinis dan penguatan pribadi yang signifikan. Namun, dia juga
dihadapkan dengan dilema etik dan tekanan psikologis.
Kesimpulan: Pengalaman Ahmed menggambarkan dua sisi relawan medis di zona
konflik yakni meningkatkan kompetensi klinis, membangun ketangguhan, dan
memperkuat identitas profesional, tetapi juga menimbulkan risiko emosional, etis,
dan hukum yang substansial. Pelatihan sebelum penugasan menjadi relawan,
dukungan psikologis yang terstruktur, dan penentuan tugas/peran yang jelas sangat
penting untuk memaksimalkan manfaat sekaligus meminimalkan risiko. Kata kunci:
bencana, etik, kompetensi, konflik, perang, resiliensi.

Background: Disasters and armed conflicts pose significant challenges to healthcare systems, frequently requiring the involvement of medical student volunteers. While their involvement offers humanitarian support and learning opportunities, it also raises questions regarding preparedness, ethical boundaries, and psychological impact. Aim: This paper explores the experiences of a medical student volunteer in Gaza during the 2023–2025 conflict, highlighting the benefits, challenges, and implications for medical education. Case Presentation: Ahmed Aburokba, a third-year medical student, volunteered at the Indonesian Hospital in Northern Gaza after his studies were disrupted by the ongoing war. His responsibilities spanned emergency care, orthopedic assistance, surgical scheduling, translation, and post-operative follow-up. Notably, he managed trauma cases requiring multidisciplinary coordination and witnessed significant clinical and personal growth. His role, however, exposed him to ethical dilemmas and psychological stress. Conclusion: Ahmed’s experience illustrates the dual-edged nature of medical volunteering in conflict zones: it accelerates clinical competence, fosters resilience, and strengthens professional identity, but also exposes students to substantial emotional, ethical, and legal risks. Structured pre-deployment training, psychological support, and clear role definitions are essential to maximize benefits while minimizing harm. Keywords: competence, conflict, disaster, ethics, resilience, war.

Citation



    SERVICES DESK