<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1710239">
 <titleInfo>
  <title>ANALISIS MARKETED SURPLUS PADI SAWAH DI KECAMATAN INDRAPURI KABUPATEN ACEH BESAR</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Wiznatul Hayah</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pertanian</publisher>
   <dateIssued>2026</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Jumlah kontribusi sektor pertanian terhadap PDB Indonesia adalah 12,53%. Kebutuhan beras sebagai produk olahan utama padi terus meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi, meskipun produksi padi nasional mencapai 55 juta ton per tahun. Oleh karena itu, ketersediaan padi yang mencukupi dan stabil menjadi isu strategis dalam pembangunan sektor pertanian serta upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional. Fenomena yang terjadi dalam pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat menunjukkan bahwa tidak seluruh hasil produksi padi dari petani dapat langsung dipasarkan. Sebagian besar hasil produksi padi terlebih dahulu dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan seperti konsumsi rumah tangga, pembayaran upah tenaga kerja secara natura, serta penyediaan benih untuk musim tanam berikutnya. Jumlah alokasi untuk kebutuhan tersebut cenderung bervariasi antarpetani. Sisa hasil panen setelah dikurangi berbagai alokasi tersebut dikenal dengan istilah marketed surplus, yaitu bagian dari produksi yang benar-benar tersedia untuk dijual ke pasar. Semakin besar marketed surplus yang dihasilkan oleh petani, maka semakin besar pula kontribusinya dalam mencukupi kebutuhan beras masyarakat. &#13;
Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Indrapuri, yang dipilih secara purposive dengan pertimbangan bahwa Kecamatan Indrapuri merupakan kecamatan yang luas tanam terluas di Kabupaten Aceh Besar. Penelitian ini secara khusus mengkaji besarnya marketed surplus berdasarkan kategori petani menurut status kepemilikan lahan (petani penggarap, petani penyewa dan petani pemilik) serta faktor-faktor yang mempengaruhi marketed surplus tersebut. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani penggarap, penyewa dan pemilik yang berada di Kecamatan Indrapuri dengan sampel sebanyak 83 responden yang dipilih menggunakan metode Stratified Proportional Random Sampling. Data dikumpulkan melalui data primer dan sekunder. Analisis data dilakukan menggunakan analisis deskriptif kuantitatif untuk mengukur besarnya marketed surplus dan analisis regresi linier berganda untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi marketed surplus padi sawah.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa besarnya marketed surplus berbeda antar kategori petani. Petani penggarap memiliki marketed surplus rata-rata sebesar 2.021 kg (31,6%), yang dikategorikan rendah. Petani penyewa memiliki marketed surplus sebesar 2.725 kg (51,2%), termasuk kategori sedang. Sementara itu, petani pemilik menghasilkan marketed surplus sebesar 4.104 kg (62,4%), yang tergolong tinggi. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh kewajiban bagi hasil pada petani penggarap dan biaya sewa pada petani penyewa. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa variabel luas lahan, jumlah produksi, konsumsi rumah tangga, harga jual padi, dan pendapatan dari sumber lain berpengaruh signifikan terhadap marketed surplus (p &lt; 0,05). Selain itu, status kepemilikan lahan juga berpengaruh nyata, di mana petani pemilik memiliki peluang lebih besar menghasilkan surplus yang dipasarkan dibandingkan petani penggarap dan penyewa. &#13;
Kata kunci: Marketed Surplus, Produksi Padi, Status Kepemilikan Lahan&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1710239</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-01-23 15:45:34</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-01-23 15:50:26</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>