<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1710133">
 <titleInfo>
  <title>APLIKASI METODE GROUND PENETRATING RADAR (GPR) DAN GEOLISTRIK UNTUK INVESTIGASI POTENSI LONGSOR DI KAWASAN BENTENG INONG BALEE LAMREH, ACEH BESAR</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Syauqi Al-Farabi</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas MIPA (S1)</publisher>
   <dateIssued>2026</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Theses</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Penelitian ini dilakukan di kawasan situs cagar budaya Benteng Inong Balee, Desa Lamreh, Aceh Besar, yang berada pada lereng pesisir sangat curam dan memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap longsor. Tujuan penelitian ini adalah memodelkan struktur bawah permukaan dan mengidentifikasi zona berpotensi longsor menggunakan metode geofisika non-destruktif melalui integrasi Ground Penetrating Radar (GPR) dan geolistrik. Akuisisi data dilakukan pada empat lintasan untuk masing-masing metode. Metode GPR menggunakan antena frekuensi 250 MHz dan 700 MHz untuk mengidentifikasi struktur bawah permukaan dangkal, sedangkan metode geolistrik dengan konfigurasi Wenner–Schlumberger digunakan untuk memodelkan kondisi bawah permukaan hingga kedalaman sekitar 20 m. Pengolahan data GPR meliputi zero-time correction, dewow filtering, background removal, time-power gain, analisis kedalaman, dan FK migration, sedangkan data geolistrik diolah menggunakan metode Least Squares Inversion dan disusun dalam model pseudo-3D. Interpretasi dilakukan dengan mengintegrasikan hasil kedua metode dan data geologi singkapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi longsor berkembang secara terlokalisasi namun berulang pada jarak tertentu di setiap lintasan, terutama pada jarak 50–100 m pada lintasan 1 dan 2. Mekanisme longsor yang berpotensi terjadi didominasi oleh longsor dangkal hingga translasi, yang berkembang pada batas transisi antara material pelapukan jenuh fluida dan batuan karbonatan yang lebih kompak. Tingkat pelapukan, distribusi fluida, dan keberadaan rekahan menjadi faktor utama pengontrol ketidakstabilan lereng, sehingga hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar awal mitigasi bencana dan upaya konservasi kawasan Benteng Inong Balee.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1710133</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-01-23 12:31:23</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-01-23 14:47:18</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>