<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1710125">
 <titleInfo>
  <title>KARAKTERISASI DAN PATOGENISITAS RALSTONIA SOLANACEARUM PENYEBAB PENYAKIT LAYU PADA TANAMAN NILAM (POGOSTEMON CABLIN) DI BERBAGAI KAWASAN BUDIDAYA ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Muhammad Rafif</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pertanian</publisher>
   <dateIssued>2026</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Theses</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Nilam Aceh (Pogostemon cablin Benth.) adalah komoditas penghasil minyak atsiri yang sangat penting bagi masyarakat di Indonesia, dengan kontribusi sekitar 90% terhadap pasokan minyak nilam dunia. Aceh dikenal sebagai salah satu pusat produksi utama tanaman nilam, tetapi produktivitas nilam di Aceh menunjukkan fluktuasi yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu faktor utama penyebab penurunan produksi adalah penyakit layu bakteri yang dianggap sebagai ancaman serius bagi keberlanjutan budidaya nilam. Penyakit ini umumnya disebabkan oleh Ralstonia solanacearum, anggota kompleks spesies RSSC, yang memiliki keragaman karakteristik dan tingkat patogenisitas berbeda. 	Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi variasi isolat bakteri penyebab layu pada tanaman nilam dari berbagai kawasan budidaya di Aceh. Sampel tanaman terinfeksi dikoleksi dari lima kabupaten, yaitu Aceh Besar, Aceh Barat Daya, Aceh Jaya, Aceh Selatan, dan Gayo Lues. Analisis dilakukan terhadap karakteristik morfologi, reaksi biokimia, profil metabolit sekunder, masa inkubasi penyakit, gejala layu, kandungan klorofil daun, serta aktivitas enzim peroksidase. Selain itu, identifikasi molekuler dilakukan untuk memastikan keragaman fenotipik dan genetik isolat bakteri patogen, serta variasi fenotipik bakteri patogen tumbuhan yang telah berhasil diidentifikasi secara molekuler pada beberapa media kultur. &#13;
	Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima isolat memiliki karakteristik yang berbeda, terutama pada karakteristik warna koloni. Setiap isolat yang didapatkan termasuk ke dalam kelompok bakteri gram negatif dan menghasilkan enzim katalase. Senyawa asam asetat merupakan senyawa dominan yang dihasilkan oleh tiap isolat bakteri patogen yang didapatkan. Masa inkubasi penyakit layu oleh isolat asal Aceh Selatan memiliki masa inkubasi paling singkat (12 HSI), sementara isolat Aceh Besar dan Aceh Barat Daya memilki masa inkubasi yang paling lama (14 HSI). Setiap isolat menunjukkan karakteristik gejala penyakit layu yang yang diawali dari layu daun bagian bawah hingga ke pucuk dan akhirnya layu secara keseluruhan dan tanaman mati. Kandungan klorofil pada daun tanaman nilam yang diinokulasi isolat bakteri patogen menurun secara signifikan daripada tanaman nilam tanpa inokulasi patogen. Kandungan klorofil paling rendah ditemukan pada daun tanaman nilam yang diinokulasikan isolat bakteri patogen asal Gayo Lues. Aktivitas enzim peroksidase pada tanaman nilam yang diinokulasi berbagai isolat bakteri patogen yang juga mengindikasikan bahwa sumber isolat memiliki patogenisitas yang berbeda. Absorbansi enzim peroksidase tertinggi ditunjukkan oleh tanaman yang diinokulasi isolat bakteri patogen asal Gayo Lues. Hasil identifikasi molekuler mengungkapkan tiap isolat merupakan spesies bakteri berbeda yang berasal dari Genus Enterobacter, Enterococcus, Lysinibacillus, dan Pseudomonas, dengan Genus Enterobacter (isolat AS) paling berpotensi sebagai bakteri fitpatogen. Berbagai karakteristik Enterobacter cloacae yang diamati, termasuk perbedaan morfologi koloni, bentuk sel, dan kepadatan koloni menunjukkan perbedaan saat ditumbuhkan pada beberapa media pertumbuhan.  Sejumlah Informasi yang diperoleh dalam penelitian ini dapat berfungsi sebagai referensi ilmiah untuk pengembangan metode deteksi dini penyakit layu bakteri pada tanaman nilam dengan penerapan teknologi analisis spektral, khususnya Spektroskopi Inframerah Dekat (Near Infra-Red Spectroscopy/NIRS), sebagai pendekatan cepat dan non-destruktif untuk deteksi dini penyakit.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1710125</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-01-23 12:11:39</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-01-23 14:42:40</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>