FIGURATIVE LANGUAGE AND CULTURAL TABOOS IN ACEHNESE MYSTICAL BELIEFS: A STUDY OF COASTAL COMMUNITY IN ACEH BESAR | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

FIGURATIVE LANGUAGE AND CULTURAL TABOOS IN ACEHNESE MYSTICAL BELIEFS: A STUDY OF COASTAL COMMUNITY IN ACEH BESAR


Pengarang

Muksalmina - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Prof. Dr. Zulfadli A. Aziz, S.Pd., M.A. - 197606032006041001 - - - Dosen Pembimbing I
Tgk. Maya Silviyanti - 198005152006042001 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

2006102020010

Fakultas & Prodi

Fakultas KIP / Pendidikan Bahasa Inggris (S1) / PDDIKTI : 88203

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas KIP., 2026

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Muksalmina. (2025). Bahasa Figuratif dan Tabu Budaya dalam Kepercayaan Mistis Masyarakat Aceh: Studi pada Masyarakat Pesisir di Aceh Besar.
[Skripsi Sarjana. Universitas Syiah Kuala].
Di bawah bimbingan Prof. Dr. Zulfadli A. Aziz, S.Pd., dan Tgk. Maya Silviyanti, S.Pd., M.A.

Fenomena bahasa figuratif dalam masyarakat pesisir Aceh Besar mencerminkan keterkaitan yang mendalam antara bahasa, budaya, dan spiritualitas. Di wilayah ini, tuturan tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai perwujudan kearifan kolektif yang mengandung norma sosial, nilai moral, dan kesadaran ekologis. Ungkapan-ungkapan figuratif yang sering berakar pada mitos lokal, tabu, dan ajaran Islam berfungsi sebagai sarana simbolik untuk pendidikan moral dan pengaturan sosial.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis, makna, dan fungsi bahasa figuratif yang digunakan oleh masyarakat Aceh Besar, dengan fokus pada bagaimana ungkapan-ungkapan tersebut merepresentasikan dimensi moral, budaya, dan spiritual dalam kehidupan masyarakat. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, data penelitian dikumpulkan melalui wawancara dengan informan lokal, observasi, serta dokumentasi tradisi lisan.

Hasil analisis menunjukkan bahwa metafora, personifikasi, eufemisme, dan metonimia digunakan untuk menyampaikan pesan moral dan kosmologis yang kompleks. Bentuk-bentuk kebahasaan ini berperan sebagai pengingat moral, membentuk perilaku masyarakat, serta mempertahankan sistem kepercayaan lokal melalui transmisi lisan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa bahasa figuratif di Aceh Besar berfungsi sebagai mekanisme budaya yang mengintegrasikan nilai-nilai moral, ekologis, dan religius ke dalam kehidupan sehari-hari.

Bahasa figuratif juga berfungsi sebagai bentuk pendidikan informal yang mentransmisikan pengetahuan leluhur dan memperkuat kohesi sosial. Dengan demikian, bahasa figuratif tidak hanya merupakan ekspresi estetis, tetapi juga sistem komunikasi hidup yang merepresentasikan identitas dan pandangan hidup masyarakat Aceh. Penelitian ini menekankan pentingnya pelestarian dan revitalisasi warisan kebahasaan ini sebagai media untuk menjaga integritas moral, keseimbangan lingkungan, dan keberlanjutan budaya di era modern.

Kata kunci: Aceh, linguistik budaya, tabu budaya, bahasa figuratif, mistisisme.

Muksalmina. (2025). Figurative language and Cultural Taboos in Acehnese Mystical Beliefs: A Study of Coastal Community in Aceh Besar. [Undergraduate Thesis. Universitas Syiah Kuala]. Under the direction of Prof. Dr. Zulfadli A. Aziz, S.Pd., and Tgk. Maya Silviyanti, S.Pd.,M.A., The phenomenon of figurative language in the coastal communities of Aceh Besar reflects the deep interconnection between language, culture, and spirituality. In this region, speech is not merely a means of communication but a manifestation of collective wisdom that encodes social norms, moral values, and ecological awareness. Figurative expressions often rooted in local myths, taboos, and Islamic teachings function as symbolic tools for moral education and social regulation. This study aims to analyse the types, meanings, and functions of figurative language used by the people of Aceh Besar, focusing on how these expressions represent moral, cultural, and spiritual dimensions within the community. Using a qualitative descriptive method, the research collected data through interviews with local informants, observation, and documentation of oral traditions. The analysis reveals that metaphors, personifications, euphemisms, and metonymies are used to convey complex moral and cosmological messages. These linguistic forms act as moral reminders, shaping community behaviour and sustaining local belief systems through oral transmission. The findings suggest that figurative language in Aceh Besar operates as a cultural mechanism that integrates moral, ecological, and religious values into daily life. It functions as a form of informal education, transmitting ancestral knowledge and reinforcing social cohesion. Thus, figurative language is not merely an aesthetic expression but a living system of communication that embodies Acehnese identity and worldview. The study emphasizes the importance of preserving and revitalizing this linguistic heritage as a medium for maintaining moral integrity, environmental balance, and cultural continuity in the modern era. Keywords: Aceh, cultural linguistics, cultural taboos, figurative language, mysticism.

Citation



    SERVICES DESK