PENERAPAN SULAMAN BENANG EMAS PADA BUSANA PESTA REMAJA PUTRI UNTUK MENUNJANG NILAI BUDAYA DI KALANGAN GEN Z | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

PENERAPAN SULAMAN BENANG EMAS PADA BUSANA PESTA REMAJA PUTRI UNTUK MENUNJANG NILAI BUDAYA DI KALANGAN GEN Z


Pengarang

SITI NURHALIZA FUAD - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Fadhilah - 196102111986032001 - Dosen Pembimbing I
Rosmala Dewi - 196410161989032002 - Dosen Pembimbing II
Fitriana - 196701101994032003 - Dosen Pembimbing III
Novita - 198011092006042001 - Penguji



Nomor Pokok Mahasiswa

2106104010009

Fakultas & Prodi

Fakultas KIP / Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (S1) / PDDIKTI : 83206

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas KIP PKK.,

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Generasi Z tumbuh di era digital dengan akses yang luas terhadap tren fashion
global. Kondisi ini memengaruhi preferensi berbusana mereka yang cenderung
mengarah pada gaya modern dan internasional, sehingga unsur budaya lokal
semakin jarang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu kekayaan
budaya yang mulai terpinggirkan dalam dunia fashion modern adalah sulaman
benang emas khas Aceh. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan sulaman
benang emas Aceh pada desain busana pesta remaja putri sebagai upaya pelestarian
budaya lokal yang dikemas secara modern dan menarik bagi generasi muda.
Metode yang digunakan adalah penelitian eksperimen terapan dan pendekatan
kualitatif deskriptif. Pendekatakan kualitatif deskriptif digunakan untuk
mendapatkan data mengenai pendapat informan tentang penerapan sulaman benang
emas pada busana pesta remaja putri. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui
eksperimen terapan, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan analisis data
meliputi proses pengumpulan data, penyajian data, serta penarikan Kesimpulan.
Penelitian ini menghasilkan dua busana pesta remaja putri dengan desain model
yang berbeda. Busana model I berupa baju kurung berwarna hitam dengan
peletakan motif pada bagian bawah busana dan ujung lengan. Motif yang digunakan
adalah motif Aceh Oun Muroung (daun kelor). Busana kedua berupa kebaya
berwarna burgundy dengan potongan pada bagian depan bawah busana, serta
peletakan motif pada ujung busana dan ujung lengan. Motif yang diterapkan pada
busana kedua adalah motif Aceh Bungong Seulanga (bunga kenanga).Hasil
penelitian menunjukkan bahwa dua model busana pesta remaja dengan penerapan
sulaman benang emas berhasil dikembangkan dan mendapat tanggapan positif dari
para informan, termasuk desainer dan mahasiswa. Mereka menilai bahwa busana
tersebut memiliki daya tarik visual yang kuat, unik, serta mampu menggabungkan
unsur budaya Aceh dengan desain modern yang sesuai dengan selera Gen Z. Selain
itu, karya ini dinilai sebagai bentuk pelestarian budaya melalui pendekatan kreatif
yang relevan dengan perkembangan zaman.Penelitian ini diharapkan dapat menjadi
inspirasi bagi desainer lokal, pelaku industri kreatif, dan masyarakat umum untuk
terus menggali, mengembangkan, dan melestarikan kekayaan budaya daerah
melalui inovasi dalam dunia fashion.
Kata kunci: Sulaman benang emas, busana pesta, Generasi Z, nilai budaya

Generation Z has grown up in the digital era with broad access to global fashion trends. This condition influences their fashion preferences, which tend to lean toward modern and international styles, resulting in local cultural elements being increasingly rarely applied in daily life. One form of cultural heritage that has begun to be marginalized in modern fashion is Acehnese gold thread embroidery. This study aims to apply Acehnese gold thread embroidery to the design of teenage girls’ party wear as an effort to preserve local culture presented in a modern and appealing way for the younger generation.The research employed an applied experimental method and a descriptive qualitative approach. The descriptive qualitative approach was used to obtain data regarding informants’ opinions on the application of gold thread embroidery in teenage girls’ party wear. Data collection techniques included applied experiments, interviews, and documentation, while data analysis involved data collection, data presentation, and conclusion drawing.This study produced two teenage girls’ party outfits with different design models. The first outfit is a black baju kurung with motif placement at the lower part of the garment and the sleeve edges. The motif used is the Acehnese Oun Muroung (moringa leaf) motif. The second outfit is a burgundy kebaya with a cut at the lower front part of the garment, with motif placement at the hemline and sleeve edges. The motif applied to the second outfit is the Acehnese Bungong Seulanga (ylang-ylang flower) motif.The results show that the two models of teenage party wear with the application of gold thread embroidery were successfully developed and received positive responses from informants, including designers and students. They assessed that the garments have strong visual appeal, are unique, and are able to combine Acehnese cultural elements with modern designs that align with Generation Z preferences. Furthermore, this work is considered a form of cultural preservation through a creative approach that is relevant to contemporary developments.This research is expected to inspire local designers, creative industry practitioners, and the general public to continue exploring, developing, and preserving regional cultural heritage through innovation in the fashion industry. Keywords: Gold thread embroidery, party dresses, Generation Z, cultural values

Citation



    SERVICES DESK