<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1709183">
 <titleInfo>
  <title>POTENSI EKSTRAK ETANOL BIJI PINANG MUDA (ARECA CATECHU) SEBAGAI KANDIDAT OBAT KONTRASEPSI PRIA</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Noviyanti</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pasca Sarjana</publisher>
   <dateIssued>2026</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Dissertation</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Program Keluarga Berencana (KB) adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan melalui promosi, perlindungan dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas. Tingginya jumlah total populasi menyebabkan upaya untuk menangani kasus ini terus dilakukan. Pengembangan kontrasepsi baru untuk pria merupakan hal yang menantang. Hal ini disebabkan karena setelah masa pubertas, seorang pria memproduksi sekitar 1.000 spermatozoa per detik sehingga kontrasepsi pria harus cukup efektif untuk mencegah jutaan spermatozoa membuahi sel telur yang selanjutnya dapat menyebabkan kehamilan. Penggunaan bahan alam sebagai alternatif kontrasepsi pria hendaknya memenuhi ketentuan antara lain mudah diperoleh, efektif, murah, tanpa efek samping terhadap perilaku seksual, dan reversibel. Salah satu bahan alam yang berkhasiat sebagai bahan anti-fertilitas pria yaitu biji pinang. Potensi dari biji pinang disebabkan oleh kandungan senyawa metabolit sekunder yaitu polifenol, alkaloid, flavonoid, tanin, triterpen, steroid, asam lemak, dan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi ekstrak etanol biji pinang muda sebagai kandidat obat kontrasepsi pria berbasis bahan alam pada tikus putih jantan (Rattus norvegicus). Senyawa-senyawa metabolit sekunder hasil uji GC-MS dari ekstrak etanol biji pinang muda digunakan sebagai ligan dalam pengujian secara in-silico atau molecular docking untuk memprediksi senyawa yang memiliki aktivitas anti-fertilitas dengan ligan kontrol adalah Dimethandrolone undecanoate (DMAU). Penelitian ini merupakan ekperimental murni (true experimental) yang dilakukan di laboratorium secara in vivo dengan menggunakan hewan coba tikus putih jantan (Rattus norvergicus) sebanyak 40 ekor yang dibagi menjadi 10 kelompok dan masing-masing kelompok sebanyak 4 ekor tikus. Kelompok 1, 2, 3, 4, dan 5 adalah kelompok yang diberikan perlakuan selama 48 hari dan dikorbankan pada hari ke 49. Kelompok 1 merupakan kelompok kontrol tanpa perlakuan. Kelompok 2, 3, 4 dan 5 merupakan kelompok perlakuan yang diberikan ekstrak etanol biji pinang muda dengan dosis 20, 40, 60 dan 80 mg/kg BB. Kelompok 6, 7, 8, 9 dan 10 adalah kelompok yang diberikan perlakuan selama 48 hari kemudian dilanjutkan pemeliharaannya untuk diukur reversibilitasnya. Kelompok 6 merupakan kelompok kontrol reversibilitas tanpa perlakuan. Kelompok 7, 8, 9 dan 10 merupakan kelompok perlakuan yang diberikan ekstrak etanol biji pinang muda dengan dosis 20, 40, 60 dan 80 mg/kg BB selama 48 hari dan dikorbankan masing-masing satu ekor pada hari ke-12, 24, 36 dan 48 untuk mengukur reversibilitasnya. Selanjutnya dilakukan pengukuran kualitas spermatozoa (konsentrasi, motilitas, viabilitas dan abnormalitas spermatozoa), konsentrasi FSH, testosteron, BMP4, SMAD1, dan protamine1, pemeriksaan sel-sel spermatogenik, histopatologi jantung dan hati serta reversibilitas kualitas spermatozoa. Protein marker akan diuji dengan metode ELISA dan data dianalisis dengan menggunakan uji one way ANOVA dan uji lanjut Duncan. Hasil uji fitokimia menunjukkan hasil bahwa ekstrak etanol biji pinang muda mengandung senyawa metabolit sekunder antara lain senyawa alkaloid, terpenoid, flavonoid, fenolik dan tanin. Sedangkan hasil GC-MS menunjukkan senyawa terbesar adalah n-Hexadecanoic acid (32.29%). Berdasarkan uji in-silico menunjukkan bahwa senyawa aktif stigmasta-3,5-diene memiliki aktivitas penghambatan yang kuat terhadap protein FSH dan testosteron (-8,8 Kkal/mol,  dan -8,9 Kkal/mol), senyawa campesterol memiliki aktivitas yang kuat terhadap reseptor Protamine 1 (-8,4 Kkal/mol), sementara aktivitas terkuat pada reseptor BMP4 dan SMAD1 ditunjukkan oleh senyawa lupeol dengan nilai sebesar -9,6 Kkal/mol dan -9,0 Kkal/mol. Senyawa-senyawa tersebut menunjukkan afinitas pengikatan terhadap kelima protein yang menandakan bahwa senyawa tersebut mempunyai potensi untuk diselidiki sebagai molekul utama pada pengembangan obat antifertilitas terutama pada pria. Hasil uji in-vivo pada tikus putih jantan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan kualitas spermatozoa, FSH, protamine 1, sel-sel spermatogenik serta organ hati dan ginjal antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Namun untuk testosteron, BMP4 dan SMAD1 tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Kualitas spermatozoa tikus putih jantan kembali normal pada hari ke-24 setelah dihentikannya pemberian ekstrak etanol biji pinang muda. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol biji pinang muda bersifat reversibilitas terhadap reproduksi tikus putih jantan. Dosis 20 mg/kg BB merupakan dosis minimum dalam penelitian ini, dosis ini berpengaruh terhadap kualitas spermatozoa tikus putih. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol biji pinang muda berpotensi sebagai kandidat obat kontrasepsi pria karena terbukti memiliki aktivitas sebagai anti-fertilitas. Penelitian terkait biji pinang muda (Areca catechu) masih perlu dilanjutkan dengan menganalisis dengan marker lainnya terkait fertilitas jantan seperti LH, ekspresi enzim aromatase, ekspresi gen StAR pada jaringan testis. &#13;
&#13;
Kata Kunci :	Biji pinang, obat kontrasepsi pria, kualitas spermatozoa, FSH, testosteron, BMP4, SMAD1, protamine 1, sel-sel spermatogenik, organ hati dan ginjal serta reversibilitas</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1709183</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-01-20 23:10:00</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-01-21 10:43:27</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>